Kereta Whoosh Rugi Rp 1 Triliun, Ekonom Sarankan Restrukturisasi Pinjaman, Konversi Utang ke Equity

Kereta Api cepat Jakarta - Bandung [Foto istimewa]

KINERJAEKSELEN.co, Jakarta – Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KJB) alias Whoosh terus menuai sorotan karena beban utang yang sangat tinggi.

Proyek ambisius era Presiden Joko Widodo ini menelan investasi total US$7,2 miliar (Rp116,54 triliun, kurs Rp16.186), termasuk cost overrun US$1,21 miliar dari rencana awal US$6,05 miliar—lebih murah dari tawaran Jepang US$6,2 miliar.

Sebanyak 75 persen dana dari pinjaman China Development Bank (CDB) dengan bunga 3,3 persen dan tenor 45 tahun, sisanya 25 persen dari modal pemegang saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) 60 persen dan Beijing Yawan HSR Co Ltd 40 persen.

PSBI diisi PT Kereta Api Indonesia (KAI) 58,53 persen, PT Wijaya Karya 33,36 persen, PT Jasa Marga 7,08 persen, dan PT Perkebunan Nusantara I 1,03 persen.

Akibatnya, Whoosh membebani keuangan KAI dengan kerugian Rp1 triliun pada semester I 2025, di mana kontribusi rugi bersih PSBI ke KAI mencapai Rp951,48 miliar per Juni 2025.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan APBN tidak akan menanggung utang Whoosh. “Ini di bawah Danantara, mereka punya dividen sendiri rata-rata Rp80 triliun setahun,” ujarnya.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita, menyebut rugi awal wajar seperti di Jepang dan Tiongkok yang butuh tahunan untuk impas.

Namun, masalah Whoosh adalah utang terlalu besar sehingga tak tertutup pendapatan bisnis, ditambah load factor belum optimal, integrasi antarmoda kurang lancar, dan pola mobilitas masyarakat masih menyesuaikan.

“Proyek transportasi butuh 5-10 tahun impas, tergantung tarif, frekuensi, dan keterpaduan,” katanya. Ia sarankan tiga langkah: (1) integrasi transportasi dan tata ruang untuk akses mudah ke stasiun; (2) insentif seperti pajak atau subsidi sementara agar tarif kompetitif; (3) strategi bisnis jangka panjang via transit oriented development (TOD), properti, iklan, dan kemitraan swasta. Tanpa perbaikan, risiko tekan keuangan KAI dan proyek lain.

Solusinya bisa restrukturisasi pinjaman, konversi utang ke equity, atau mitra baru untuk kurangi beban bunga.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai kinerja belum optimal karena beban tetap dan bunga tinggi melebihi arus kas tiket.

Penumpang tumbuh 9,3 juta hingga Mei 2025, rekor harian 25 ribu, tapi belum tutup rugi Rp1 triliun. “Restrukturisasi dengan Tiongkok masih berjalan, integrasi feeder belum mulus,” ujarnya.

Ia sarankan 12-24 bulan pasca-restrukturisasi untuk akselerasi okupansi via dynamic pricing, paket wisata, dan monetisasi stasiun; lalu 24-36 bulan untuk pendapatan non-tiket dari ritel, iklan, MICE, dan TOD. Dengan ini, arus kas bisa mendekati impas dan kewajiban kreditur terkendali.

Perbaikan kinerja Whoosh memerlukan kombinasi restrukturisasi keuangan, optimalisasi operasional, dan pengembangan ekosistem kawasan untuk keberlanjutan jangka panjang.

Sumber: cakrakrisna.com

(sur/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *