Renungan Soal Janji Pertumbuhan Ekonomi 2025, Realisasi dan Janji 2026, Tunggu Apa Lagi?

Teks foto: Ilustrasi uang kontan

Oleh: Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta

Mengapa pertumbuhan ekonomi 2025 terasa biasa saja, padahal kita memasuki era kepemimpinan baru, presiden baru, menteri baru, dan janji lompatan baru?

Jika hasilnya tetap di kisaran yang itu itu saja, salah siapa?

Pertanyaan itu wajar karena kita tidak hidup dari narasi, melainkan dari belanja dapur, cicilan, ongkos sekolah, dan peluang kerja.

Ketika Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi pada Triwulan III 2025 tumbuh 5,04 persen secara tahunan, dengan akumulasi sampai Triwulan III 2025 sekitar 5,01 persen, angka itu tampak rapi di atas kertas, tetapi tidak otomatis terasa sebagai napas lega di dompet rumah tangga. Proyeksi sepanjang tahun 2025 juga tidak melampaui 5,2 persen.

Dari pertanyaan ini, masalahnya bisa dirumuskan begini.

Kita mengalami transisi politik, tetapi tidak mengalami transisi strategi ekonomi yang benar benar menyentuh kondisi lapangan, terutama daya beli yang melemah.

Kita juga belum melihat keberanian menentukan arah, sehingga kebijakan berjalan seperti rutinitas, bukan sebagai terobosan.

Masalahnya Adalah Sebatas Janji Tanpa Realisasi

Sering kali kita terjebak pada dua ekstrem.

Yang satu menganggap selama angka pertumbuhan di sekitar 5 persen maka ekonomi baik baik saja.

Yang lain menuntut loncatan instan, seolah mengganti pilot otomatis membuat pesawat naik kelas ketinggian.

Padahal ekonomi adalah gabungan dari perilaku jutaan rumah tangga dan perusahaan.

Ketika konsumsi rumah tangga melambat, ritel berhati hati, industri menahan ekspansi, maka mesin pertumbuhan terdengar tetapi tidak bertenaga.

Laporan media internasional bahkan mencatat kekhawatiran perlambatan pada 2025, termasuk pertumbuhan kuartal pertama 2025 yang disebut melemah, lalu pemerintah menggelontorkan stimulus untuk mendorong belanja dan menjaga laju mendekati 5 persen.

Di titik ini, mengganti pejabat tanpa mengganti cara membaca realitas ekonomi ibarat mengganti sopir, tetapi peta rutenya tetap salah.

Termometer yang Salah Baca Suhu

Bayangkan ekonomi seperti rumah besar yang diatur oleh termostat.

Jika termostat membaca suhu lebih hangat daripada kenyataan, pemanas tidak akan dinaikkan.

Penghuni rumah menggigil, tetapi alat ukur bilang “aman”.

Daya beli adalah suhu yang dirasakan penghuni rumah itu.

Jika indikator lapangan seperti penjualan ritel, penyerapan kerja, dan beban biaya hidup tidak diperlakukan sebagai sinyal utama, maka kebijakan cenderung merasa “cukup” dengan pertumbuhan 5 persen.

Akibatnya, negara tampak bergerak, tetapi banyak keluarga merasa berjalan di tempat.

Maka ketika publik bertanya salah siapa, saya melihatnya bukan soal mencari kambing hitam, melainkan soal koreksi cara mengukur: apakah kita memulai dari rasa dingin yang dialami masyarakat, atau dari angka rata rata yang menutupi ketimpangan rasa.

Mengapa 2025 Biasa Saja di Tengah Harapan Baru

Ada tiga hal yang membuat 2025 tidak otomatis berubah hanya karena rezim politik berganti.

Pertama, ekonomi Indonesia masih sangat ditopang konsumsi. Ketika daya beli melemah, efeknya menyebar ke mana mana.

Pemerintah memang bisa membuat program, tetapi jika program tidak cepat mengangkat pendapatan riil dan kepastian kerja, konsumsi tetap rapuh.

Kedua, dunia tidak sedang memberi karpet merah. Ketegangan perdagangan global, volatilitas pasar keuangan, serta risiko eksternal lain membuat ekspor dan investasi tidak semulus yang kita harapkan.

Bahkan OECD menilai pertumbuhan Indonesia diproyeksikan sekitar 5,0 persen pada 2025 dan 2026, sebuah angka yang stabil tetapi tidak menggambarkan akselerasi besar.

Ketiga, kita terlihat belum benar benar menentukan “mesin utama” untuk akselerasi. Kita bicara hilirisasi, transisi energi, pangan, digital, tetapi sering terjebak pada daftar niat, belum pada orkestrasi yang membuat investasi masuk, biaya logistik turun, dan produktivitas naik serentak.

Tanpa arah yang tegas, kebijakan mudah menjadi tambal sulam.

Membaca Outlook 2026: Antara Target dan Kenyataan

Presiden Prabowo membawa imajinasi pertumbuhan tinggi, termasuk gaung target 8 persen.

Dokumen perencanaan pemerintah juga memuat target ambisius menuju 8 persen pada 2029.

Pemerintah pun mendorong optimisme bahwa target pertumbuhan tinggi bisa dikejar dalam beberapa tahun mendatang.

Menteri Keuangan Purbaya menyuarakan keyakinan bahwa peluang mendorong pertumbuhan menuju 8 persen itu nyata.

Tetapi proyeksi lembaga internasional yang cenderung lebih dingin memberi sinyal berbeda. IMF, dalam rilis konsultasi terbaru yang diberitakan luas pada Januari 2026, memprediksi pertumbuhan Indonesia 5,1 persen pada 2026. OECD pun berada di sekitar 5,0 persen untuk 2026.

Media bisnis di dalam negeri merangkum proyeksi Bank Dunia, ADB, dan lainnya yang juga berkisar di sekitar 5 persen, bukan 6 atau 8.

Di sinilah konflik persepsi muncul. Pemerintah menyambut positif angka IMF dan menyebut fundamental ekonomi kuat, tetapi publik menangkapnya sebagai konfirmasi bahwa ekonomi kita masih berjalan di jalur normal, bukan jalur akselerasi.

Jadi, outlook 2026 “jauh dari harapan 8 persen” itu bukan sekadar soal pesimisme global.

Itu tanda bahwa dunia membaca Indonesia sebagai ekonomi yang solid, tetapi belum menunjukkan resep kebijakan yang sanggup mengubah gigi pertumbuhan.

Salah Siapa? Lebih Tepatnya: Salah Membaca Lapangan

Jika kita memaksa menunjuk pihak, jawaban paling jujur adalah: salah pada cara merumuskan masalah.

Kita terlalu cepat menganggap persoalan utama ada pada sisi pasokan saja, seolah cukup dengan proyek besar dan insentif investasi. Padahal tanpa pemulihan daya beli yang nyata, investasi pun akan ragu karena pasar domestik tidak cukup menjanjikan.

Kita juga sering terlalu percaya pada pesan “fundamental kuat” sebagai alasan untuk tidak melakukan koreksi besar.
MFundamental yang kuat seharusnya memberi ruang untuk berani, bukan alasan untuk puas.

Lebih parah lagi jika kebijakan takut membuat gebrakan karena khawatir mengguncang stabilitas.

Stabilitas itu penting, tetapi stabilitas tanpa keberanian mengubah struktur hanya menghasilkan ketenangan semu: angka rapi, rasa publik tidak membaik.

Makna Proyeksi Global dan Nasional untuk yang Mau Berbenah

Proyeksi 5,1 persen dari IMF bukan vonis, melainkan cermin.

Cermin itu berkata: dunia percaya Indonesia tahan banting, inflasi relatif terkendali, sektor keuangan relatif kuat, tetapi mesin produktivitas dan daya beli belum diberi dorongan yang cukup berani.

Bagi pemerintah, maknanya jelas.

Jika ingin melompat, tidak cukup menambah program. Yang diperlukan adalah fokus: memulihkan daya beli melalui penciptaan kerja yang cepat, memperbaiki kualitas belanja negara agar lebih produktif, dan menurunkan biaya ekonomi yang membuat usaha enggan ekspansi.

Bagi dunia usaha, proyeksi 5 persen memberi sinyal pasar tetap tumbuh, tetapi tidak akan meledak.

Itu Artinya, strategi bertahan saja akan membuat tertinggal.

Perusahaan yang menang adalah yang berbenah produktivitas, memperkuat rantai pasok, dan berinovasi produk yang sesuai dompet konsumen yang sensitif harga.

Bagi masyarakat, proyeksi ini mengingatkan bahwa harapan hidup membaik tidak bisa dititipkan pada pergantian elite semata.

Dorongan publik untuk kebijakan pro daya beli, pendidikan vokasi yang relevan, dan reformasi layanan dasar harus terus dijaga agar agenda ekonomi tidak dikuasai seremoni.

Gebrakan yang Realistis, Bukan Sekadar Ambisi

Gebrakan ekonomi yang saya maksud bukan kebijakan gaduh. Gebrakan adalah perubahan prioritas yang terasa.

Pertama, jadikan daya beli sebagai kompas utama. Ukur dan respons lebih cepat pada sinyal konsumsi lapangan, bukan sekadar menyimpulkan “baik” dari rata rata pertumbuhan.

Jika perlu stimulus, buat yang tepat sasaran dan mengalir cepat ke rumah tangga pekerja dan sektor padat karya, bukan yang berhenti di birokrasi.

Kedua, arahkan investasi ke mesin pencipta kerja, bukan hanya mesin pencipta angka. Hilirisasi yang sukses adalah yang menciptakan ekosistem industri, keterampilan, dan pemasok lokal. Tanpa itu, hilirisasi bisa jadi etalase, bukan pengungkit.

Ketiga, rapikan regulasi yang membuat biaya usaha mahal dan lambat.

Banyak investor tidak menuntut karpet merah, mereka menuntut kepastian dan kecepatan. Ini pekerjaan sunyi, tetapi dampaknya paling besar.

Keempat, komunikasikan arah secara konsisten. Ketika arah berubah ubah, pasar menahan napas. Ekonomi tidak suka ketidakpastian, bahkan lebih daripada pajak yang sedikit lebih tinggi.

Berani Mengubah Cara Membaca Indonesia

Pertumbuhan 2025 yang biasa saja bukan tragedi, tetapi peringatan.

Pergantian kepemimpinan politik tidak otomatis menjadi pergantian mesin ekonomi.

Jika kita ingin 2026 dan seterusnya menjadi era akselerasi, kita harus mulai dari hal yang paling nyata: daya beli dan rasa aman ekonomi keluarga.

Target 8 persen boleh menjadi bintang utara, tetapi jalan ke sana tidak bisa ditempuh dengan optimisme saja.

Proyeksi IMF 5,1 persen dan proyeksi OECD sekitar 5 persen adalah pesan bahwa dunia menilai kita solid, namun belum melihat lompatan strategi.

Salah siapa? Salah kita semua jika membiarkan kebijakan terus membaca termostat yang salah. Benahilah cara membaca lapangan, tetapkan arah yang tegas, dan lakukan gebrakan yang terasa di dompet serta peluang kerja.

Jika itu dilakukan, proyeksi 5 persen bukan lagi batas, melainkan titik awal untuk membuktikan bahwa kepemimpinan baru memang membawa ekonomi ke kelas yang baru.

Sumber: https://achmadnurhidayat.id/2026/01/renungan-soal-janji-pertumbuhan-ekonomi-2025-realisasi-dan-janji-2026-tunggu-apa-lagi/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *