Berita  

Diserang Tentara Israel, 2 Prajurit TN Gugur di Lebanon

Kapuspen TNI Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah

KINERJAEKSELEN.co, Jakarta – Kapuspen TNI Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah mengungkap penyebab gugurnya 2 prajurit TNI di Lebanon Selatan pada Senin (30/3). Menurut Aulia, kedua prajurit meninggal dunia saat melaksanakan tugas bersama pasukan penjaga perdamaian untuk memberikan dukungan kepada pos yang sempat diserang oleh tentara Israel sehari sebelumnya (29/3).

Berdasar laporan yang diterima oleh Mabes TNI, Aulia menyampaikan bahwa 2 prajurit bernama lengkap Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan gugur saat Tim Escort Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL yang tergabung dalam Sector East Mobile Reserve (SEMR) melaksanakan pengawalan konvoi Combat Support Service Unit (CSSU).

”Dalam rangka tugas memberikan dukungan dari Mako Sektor Timur UNIFIL United Nations Post (UNP) 7-2 menuju Mako Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S/UNIFIL di UNP 7-1,” kata dia pada Selasa (31/3).

Dalam keterangannya, Aulia menyampaikan bahwa TNI duka cita mendalam atas gugurnya 2 orang Prajurit TNI serta 2 orang Prajurit TNI korban luka yang terjadi pada insiden di daerah penugasan UNIFIL di Lebanon Selatan. Dia menyatakan bahwa insiden fatal tersebut terjadi dalam 24 jam setelah insiden pertama menyebabkan 1 prajurit TNI gugur.

”Insiden terjadi di tengah eskalasi konflik tinggi, dimana terjadinya ledakan pada kendaraan yang mengakibatkan gugurnya Prajurit TNI atas nama Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan,” ucap Aulia.

Jenderal bintang dua TNI AD itu pun mengakui ada 2 prajurit lain yang terluka dalam insiden tersebut. Yakni Lettu Infanteri Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto. Keduanya sudah dievakuasi dan kini telah dalam penanganan medis di Rumah Sakit St. George Beirut, Lebanon.

Kepada awak media, Aulia menekankan bahwa penugasan Pasukan Pemeliharaan Perdamaian di bawah PBB tetap mengutamakan keselamatan prajurit. Salah satunya dengan cara meningkatkan kewaspadaan sesuai Standard Operating Procedure (SOP) UNIFIL.

”Untuk mengetahui penyebab insiden tersebut UNIFIL saat ini sedang melaksanakan investigasi, TNI juga terus memonitor perkembangan situasi serta menyiapkan langkah-langkah kontijensi dihadapkan pada dinamika di Daerah Misi Lebanon,” jelas dia.

Sebelumnya diberitakan bahwa Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Jean Pierre Lacroix mengutuk keras insiden yang terjadi di wilayah Lebanon Selatan beberapa hari belakangan. Sebabnya tidak lain karena 3 prajurit TNI gugur di tengah-tengah eskalasi konflik antara Israel dengan Hizbullah.

Lacroix mengungkapkan bahwa 2 orang prajurit TNI yang bertugas sebagai penjaga perdamaian meninggal dunia pada hari yang sama ketika sebuah ledakan menghantam konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan di Sektor Timur. Tidak hanya itu, 2 korban lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Insiden itu terjadi pada Senin (30/3), persis sehari setelah 1 orang prajurit TNI gugur pada Minggu (29/3).

”Kami mengutuk keras insiden-insiden yang tidak dapat diterima ini. Penjaga perdamaian tidak boleh pernah menjadi sasaran,” kata dia.

Menurut Lacroix, UNIFIL kini tengah melakukan investigasi untuk mencari tahu penyebab insiden tersebut. Dia juga mendorong agar segala tindakan yang membahayakan pasukan penjaga perdamaian harus dihentikan. Dia menyatakan bahwa pasukan penjaga perdamaian tetap berada di lapangan untuk menjalankan tugas dari PBB. Bahkan di tengah kondisi yang sangat berbahaya.

”Para penjaga perdamaian kami tetap berada di lapangan, menjalankan tugas yang diamanatkan oleh Dewan Keamanan, dalam kondisi yang sangat berbahaya ini,” ujarnya.

PBB melihat telah terjadi pelanggaran resolusi 1701 dalam insiden yang menyebabkan 3 prajurit TNI gugur dalam tugas. Bukan hanya satu, Lacroix menyatakan bahwa terjadi beberapa pelanggaran atas resolusi tersebut. Mengingat eskalasi konflik antara Israel dengan Hizbullah melintasi blue line atau garis biru yang telah ditetapkan oleh PBB.

”Kami melihat berbagai pelanggaran terhadap resolusi 1701. Tidak ada solusi militer. Yang dibutuhkan adalah solusi politik. Kerangka untuk solusi politik sudah ada, yaitu resolusi 1701, yang sejauh yang kami dengar, masih menjadi komitmen semua pihak,” tegasnya.

Lebih lanjut, Lacroix menyampaikan bahwa pihaknya kini terus berkomunikasi secara intens dengan Indonesia dan berkoordinasi dengan IDF atau tentara Israel. Dia pun menegaskan seruan sekjen PBB kepada semua pihak untuk menghentikan pertempuran dan mendorong implementasi penuh resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.

Sumber: Jawa Pos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *