Nilai Tukar Rupiah Jumat, Ditutup Menguat Rp17.865 per Dolar AS

Foto ilustrasi

JAKARTA, KINERJAEKSELEN.co – Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, hari ini Jumat [12/6] ditutup menguat ke level Rp17.865 per dolar AS. Menguat sebesar 0,84 % dibandingkan penutupan sebelumnya di level R18.010/20 per dolar AS.

Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia [BI] Destry Damayanti menilai sejumlah bauran kebijakan Bank Indonesia mampu mengurangi tekanan nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS.

“ Perkembangan ini mencerminkan respon positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia,” kata Destry dalam keterangan resmi, Jumat [12/6].

Kebijakan tersebut, kata Destry, meliputi kenaikan BI rate menjadi 5.50 %, penguatan struktur suku bunga SRBI, pemberian insentif herging swap bagi investor asing, pembukaan akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan, serta peningkatan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing.

“Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang era antara Bank Indonesia dan pemerintah,” ujar Destry.

Paska kenaikan BI rate, imbuh Destry, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif, didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik.

Hal ini menurut Destry, tercermin dari tingginya minat investor global, tercermin dari peningkatan inflows transaksi SRBI non residen dan SBN yang pada tanggal 10 dan 11 Juni 2026, masing-masing tercatat sebesar Rp 15,11 triliun dan Rp3,91 triliun.

Aliran masuk modal asing juga terjadi pada obligasi internasional Danantara yang penjualan perdananya berhasil mencapai Rp26,9 triliun.

“Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap asset-aset domestik,” tutur Destry.

Di sisi lain, ungkap Destry, ketahanan eksternal semakin diperkuat melalui Kerjasama keuangan antara Bank Indonesia, People’s Bank of China (PBOC) dan Hongkong Monetery Authority  (HKMA).

Terdapat 3 kesepakatan yang dihasilkan, yaitu sinergi memperkuat tidak hanya ketahanan keuangan masing-masing negara melainkan stabilitas keuangan yang regional yang lebih luas, penguatan Bilateral Currency Swap Agrrement (BCSA), serta penguatan komitmen penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui perluasan Local Currency Transaction (LCT). Langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Selain itu, Bank Indonesia akan terus hadir di pasar, mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.

“Dengan berbagai perkembangan di atas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap USD menuju ke level fundamentalnya,” pungkas Destry.

[jgd/rel]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *