Landak Kalbar, KINERJAEKSELEN.co – Pemerintah Kabupaten Landak resmi menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) menyusul memburuknya kualitas udara dalam tiga hari terakhir.
Keputusan itu diambil usai Rapat Koordinasi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Landak, Selasa (1/9/2026).
Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, mengatakan penetapan status ini sejalan dengan arahan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.
Kemarau panjang yang diperkirakan masih berlanjut menurut BMKG, ditambah titik api yang terus bermunculan, membuat Pemkab Landak harus bergerak cepat.
“Maka kami menetapkan status tanggap darurat untuk 14 hari ke depan dan nanti akan dievaluasi setiap harinya, apakah bisa diperpendek, bisa juga diperpanjang,” ujar Karolin seusai rapat.
Dengan status darurat ini, Karolin memerintahkan seluruh elemen masyarakat dan jajaran pemerintah mengerahkan segala upaya untuk menanggulangi bencana. Ia juga melarang keras warga membuka lahan dengan cara dibakar.
“Saya minta untuk distop, apapun alasannya karena situasi hari ini sudah sampai pada situasi darurat asap, di mana kita semua melihat dan merasakan bagaimana asap sudah mengepung kita,” tegasnya.
Pemkab Landak juga telah menggandeng pihak Kepolisian dan Kejaksaan untuk menindak tegas pelaku pembakaran lahan sengaja.
“Jadi ini tidak main-main ya, situasinya ini sudah sampai pada taraf asap ini membahayakan kita, membahayakan kesehatan kita,” kata Karolin.
Selain bahaya asap, Pemkab Landak juga menyoroti potensi meluasnya kebakaran di permukiman karena kondisi lingkungan sangat kering.
Karolin mengimbau warga berhati-hati saat membakar sampah, selalu menggunakan masker saat keluar rumah, serta menunda kegiatan yang mengumpulkan massa di luar ruangan.
Di sisi lain, Pemkab menghadapi keterbatasan Anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT). Karolin berjanji akan mengoptimalkan dana yang ada untuk kebutuhan dasar dan transportasi petugas di lapangan.
“Kita memang ada dana tidak terduga tapi jumlahnya juga sangat terbatas. Untuk sementara, kita optimalkan itu dengan anggaran yang terbatas ini, kita support para petugas kita yang berada di lapangan,” jelasnya.
Dampak kemarau panjang juga memicu krisis air bersih. Debit air Sungai Landak menyusut drastis hingga 80 sentimeter sehingga PDAM kesulitan mendistribusikan air. Untuk mengatasinya, Pemkab Landak akan mengerahkan dua unit armada tangki air untuk dibagikan ke wilayah-wilayah prioritas yang terdampak.
(Man)












