JAKARTA, KINERJAEKSELEN.co – Kabar duka menyelimuti dunia politik dan seni tanah air. Putra bungsu Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno, Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra atau yang akrab disapa Guruh Soekarnoputra, dilaporkan meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026 pagi.
Politisi PDI Perjuangan dan mantan anggota DPR RI sekaligus tokoh seni tersebut mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 04.16 WIB di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, pada usia 73 tahun. Sebelum wafat, adik kandung dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri ini sempat menjalani perawatan medis secara intensif di rumah sakit tersebut.
Informasi berpulangnya Guruh Soekarnoputra ini dikonfirmasi langsung oleh Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto.
Hasto menyampaikan duka mendalam dan permohonan maaf bagi almarhum, serta mengenangnya sebagai seniman, pejuang partai, dan Marhaenis sejati yang akan diberikan penghormatan melalui Protokol Partai.
Jenazah almarhum saat ini telah disemayamkan di rumah duka yang beralamat di Jalan Sriwijaya Raya Nomor 26, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Pihak PDI Perjuangan menyampaikan bahwa jenazah Guruh rencananya akan dimakamkan di sebelah makam ibundanya, Fatmawati, namun waktu pastinya masih menunggu hasil musyawarah final dari pihak keluarga.
Jejak Emas dan Warisan Karya Seni Legendaris
Dikutip dari Antara, semasa hidupnya, Guruh dikenal luas sebagai maestro seni yang membawa revolusi besar pada industri pertunjukan budaya modern di Indonesia. Dedikasi tingginya di bidang kebudayaan melahirkan warisan karya legendaris yang abadi bagi bangsa.
Dalam perjalanan karirnya di dunia seni, Guruh telah melahirkan sebuah mahakarya kolaborasi fenomenal bersama kelompok Guruh Gipsy tahun 1977, yang diperkuat oleh mendiang Chrisye dan Keenan Nasution. Album Guruh Gipsy dinobatkan sebagai salah satu album musik progresif-etnik terbaik sepanjang masa di Indonesia karena keberaniannya memadukan musik rock dengan unsur gamelan Bali tradisional.
Melalui Swara Maharddhika, Guruh menggelar pagelaran seni bertaraf kolosal yang memadukan unsur musik, tari kontemporer, teater, busana megah, dan drama. Pertunjukan legendaris mereka, seperti Pergelaran Karya Cipta Guruh Sukarno Putra: Guruh & Swara Maharddhika (1979) dan Untukmu Indonesiaku (1980), menjadi pionir pertunjukan panggung spektakuler nasional modern.
Dalam perjalanan berkesenian, Guruh juga mendirikan GSP Production (Gencar Semarak Perkasa), sebuah wadah kreativitas seni lanjutan untuk terus memayungi bakat-bakat muda penari dan pemusik tanah air agar mencintai kekayaan budaya Indonesia.
Sebagai seniman besar, Guruh telah menggubah barisan lagu monumental yang melekat kuat di benak publik Indonesia, di antaranya Kala Sang Surya Tenggelam, Zamrud Khatulistiwa, serta Gita Cinta dari SMA.
Selamat jalan mas Guruh, Sang Maestro Seni Indonesia…
[Jagad]












