JAKARTA, KINERJAEKSELEN.co – Pemerintah Indonesia secara resmi menawarkan sejumlah insentif strategis di sektor pasar karbon dalam forum dunia Climate Week NYC 2026 dan Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York. Langkah ini diambil sebagai strategi nasional untuk menarik portofolio investasi hijau global ke tanah air.
Melalui optimalisasi mekanisme Nilai Ekonomi Karbon (NEK), Indonesia memproyeksikan potensi serapan modal hijau hingga mencapai US$ 5,80 miliar. Langkah akselerasi ini sekaligus ditargetkan mampu mereduksi emisi hingga 570 juta tCO2e, sebagai wujud nyata komitmen iklim global.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, yang memimpin delegasi Indonesia, menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada reduksi emisi, tetapi juga memastikan regulasi yang ramah investor.
“Kami berkomitmen penuh untuk menyederhanakan regulasi dan memberikan kepastian hukum yang kredibel. Indonesia ingin memastikan perdagangan karbon global berjalan transparan, akuntabel, dan memberikan nilai tambah finansial yang optimal bagi para investor hijau,” ujar Menko Pangan dalam keterangannya, Kamis [01/10/2026]
Pemerintah secara spesifik memetakan tiga sektor prioritas yang siap menampung investasi hijau tersebut:
- Pertanian Berkelanjutan & Pangan: Integrasi teknologi rendah emisi pada rantai pasok pangan.
- Pengelolaan Limbah & Sampah: Transformasi tata kelola limbah menjadi sumber energi terbarukan (waste-to-energy).
- Sektor Kelautan (Blue Carbon): Optimalisasi potensi penyerapan karbon melalui restorasi mangrove dan ekosistem pesisir.
Komitmen ini diharapkan menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi berbasis kinerja lingkungan (performance-based green economy) sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam arsitektur hijau global.
[KE/red]











