Ketika Api Karhutla Kalah Panas dengan “Api” Keserakahan: Saat Dana Bencana Jadi Bancakan

Foto ilustrasi

Catatan Jagad N *)

Mengurus bencana di negeri kita tercinta ini memang butuh ketabahan tingkat dewa. Sudah jatuh tertimpa tangga, eh tangganya dikilokan ke tukang rongsok sama orang dalam pula. Kurang lebih begitu gambaran perasaan kita semua saat mendengar kabar terbaru dari Gedung Merah Putih. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru saja meniup peluit tanda adanya dugaan “pesta pora” alias bancakan Dana Siap Pakai (DSP) di lingkungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Bukan main-main, anggaran yang diduga “disunat” ini adalah dana kemanusiaan untuk penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) hingga dana pemulihan saudara-saudara kita yang terkena musibah Gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hancur dah, bener-bener ambyar. Memuakkan lihat perilaku para koruptor ini…

Bayangkan saja, di saat warga di lokasi bencana sibuk mengungsi, memakai masker karena sesak napas terkepung asap kabut, atau tidur di tenda darurat beralas seadanya, ada oknum yang justru sibuk cosplay jadi akuntan profesional di ruang ber-AC. Mengotak-atik angka, memotong anggaran logistik pengungsian, sampai kabarnya lihai membuat laporan pertanggungjawaban (LPJ) fiktif yang estetik demi memuluskan aksi lancung mereka. Mungkin bakat fiksi mereka ini sudah setara penulis novel bestseller, bedanya yang ini bikin dompet negara yang menangis.

“Asapnya di Hutan, Duitnya Menguap di Kantong”

Modus korupsi dana bencana ini sebenarnya lagu lama yang aransemennya diganti-ganti sedikit agar terlihat kekinian. Polanya klasik: potong sana, potong sini. Kalau dihitung-hitung, api yang membakar hutan di luar sana mungkin bisa padam oleh air hujan atau modifikasi cuaca. Tapi kalau “api keserakahan” di dalam dada oknum-oknum ini, jangankan air hujan, disiram pakai air laut satu samudra pun tampaknya tetap kurang. Hausnya awet!

Lucunya—atau lebih tepatnya miris—anggaran kemanusiaan yang sifatnya darurat dan butuh gerak cepat (per definisi namanya saja Dana Siap Pakai), di tangan mereka malah berubah fungsi menjadi Dana Siap Dipakai untuk kepentingan pribadi. Logistik pengungsian yang harusnya tebal dan mengenyangkan, sampai ke tangan korban mungkin tinggal remah-remahnya saja atau mie instan tanpa bumbu karena sudah “dipajak” berkali-kali di tingkat birokrasi. Mungkin prinsip mereka: “Bencana membawa berkah… bagi rekening sendiri.”

Masyarakat tentu wajar jika gemas sampai ke ubun-ubun. Menghadapi bencana alam itu sudah menguras energi fisik dan emosional yang luar biasa besar. Tapi melihat anggaran penanggulangannya dijadikan ajang bagi-bagi komisi dan uang rokok, rasanya tingkat stres publik langsung melonjak drastis mengalahkan indeks kualitas udara di area Karhutla. Udara sudah beracun, kelakuan pejabatnya makin bikin sesak napas.

Momentum Sapu Bersih Tanpa Ampun

KPK sendiri lewat juru bicaranya sudah menegaskan bahwa memanipulasi dana bencana di tengah penderitaan masyarakat adalah bentuk kejahatan luar biasa. Kita tentu sangat sepakat. Kalau bisa, hukumannya pun harus luar biasa kreatif, bukan sekadar hukuman administratif atau kurungan potong masa tahanan yang bikin jera sesaat. Bagaimana kalau mereka dihukum kerja sosial memadamkan Karhutla tanpa masker? Biar tahu rasanya napas megap-megap karena asap, bukan karena kebanyakan menghitung uang haram.

Langkah tegas KPK mengejar aliran dana ini harus didukung penuh sebagai momentum bersih-bersih birokrasi total. Kita tidak ingin institusi sepenting BNPB, yang menjadi garda terdepan penyelamat nyawa saat alam sedang tidak bersahabat, justru dilemahkan dari dalam oleh penyakit kronis bernama korupsi. Jangan sampai jargon “Siap Untuk Selamat” berubah menjadi “Siap Untuk Selamatkan Aset Korupsi”.

Mari kita kawal kasus ini bersama-sama sambil berharap semoga ke depan, tidak ada lagi cerita tentang dana bencana yang menguap sebelum sampai ke tenda pengungsian. Karena sungguh, melihat hutan terbakar itu sudah sangat menyesakkan dada, jangan ditambah lagi dengan melihat hati nurani para pemangku kebijakan yang ikut-ikutan hangus menjadi arang—atau malah sudah abu sejak awal. Tetap kawal, bosku.

*) Pemimpin Redaksi Kinerjaekselen.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *