Opini  

Lunturnya Identitas sebagai Bangsa yang Berbudaya

Foto ilustrasi

*Oleh: Jagad N )

Indonesia sejak lama dikenal dunia sebagai bangsa yang ramah, menjunjung tinggi tata krama, dan kaya akan nilai-nilai luhur gotong royong. Setiap jengkal kebudayaan kita, mulai dari sabang sampai merauke, selalu mengajarkan kesantunan dalam bertindak dan kebijaksanaan dalam bertutur kata. Namun, jika kita merefleksikan dinamika sosial kemasyarakatan akhir-akhir ini, sebuah pertanyaan mendasar perlahan muncul ke permukaan: Apakah kita sedang berada di ambang hilangnya identitas sebagai bangsa yang berbudaya?

Riuhnya ruang digital dan panggung sosial kita belakangan ini sering kali menampilkan potret yang kontradiktif dengan nilai-nilai kepribadian bangsa. Kritik yang sejatinya merupakan pilar penting dalam demokrasi sehat, kini tidak jarang bergeser menjadi penghakiman massal, caci maki, hingga gerakan pengucilan sosial (cancel culture) yang agresif. Ketika ruang dialog tertutup oleh emosi sesaat, di situlah lampu kuning bagi kelestarian budaya luhur kita mulai menyala.

Tergerus di Ruang Digital

Kita tidak bisa memungkiri bahwa kemajuan teknologi informasi telah mengubah lanskap interaksi manusia. Media sosial yang seharusnya menjadi jembatan silaturahmi dan sarana bertukar gagasan positif, kerap berubah menjadi arena kontestasi ego.

Sifat anonimitas di dunia maya seolah memberikan pembenaran bagi sebagian orang untuk melepaskan sekat-sekat kesantunan yang selama ini kita rawat di dunia nyata. Tabayyun, atau tradisi mengklarifikasi informasi secara jernih, mulai tergerus oleh budaya jempol cepat yang gemar menghakimi sebelum memahami duduk perkara seutuhnya.

Saat sebuah polemik atau kekeliruan terjadi di ruang publik—baik yang melibatkan figur publik, institusi, maupun sesama warga—reaksi yang muncul sering kali langsung mengarah pada upaya meruntuhkan harkat kemanusiaan pihak lain. Kita seolah lupa bahwa budaya nusantara adalah budaya merangkul, bukan memukul; budaya mengingatkan dengan ketulusan, bukan menjatuhkan dengan kebencian.

Esensi Kebudayaan yang Melampaui Simbol

Menjadi bangsa yang berbudaya tidak sekadar diukur dari seberapa megah kita menampilkan tarian daerah di panggung internasional, atau seberapa sering kita mengenakan pakaian adat dalam seremonial resmi. Kebudayaan yang sejati hidup di dalam rasa, pikiran, dan perilaku sehari-hari. Ia tercermin dari bagaimana kita memperlakukan orang lain, terutama di saat terjadi perbedaan pendapat atau benturan kepentingan.

Ketika kita dengan mudahnya ikut dalam arus boikot massal tanpa memikirkan dampak domino terhadap hajat hidup orang banyak—seperti para pelaku UMKM dan pekerja kecil yang menggantungkan nasib di dalamnya—kita sedang mempertaruhkan sisi kemanusiaan kita. Kehilangan empati dan hilangnya rasa tepo seliro (tenggang rasa) adalah tanda nyata dari mulai rapuhnya fondasi identitas budaya kita.

Menjemput Kembali Jati Diri Bangsa

Polemik demi polemik yang silih berganti menghiasi ruang publik kita harus dijadikan momentum alarm kesadaran bersama. Ini bukan saatnya untuk saling menunjuk siapa yang paling bersalah, melainkan waktu yang tepat untuk menengok kembali ke dalam diri kita masing-masing.

Peringatan bersejarah seperti Sumpah Pemuda atau momentum kebangsaan lainnya harus ditarik maknanya ke ranah praktis: bagaimana menjaga persatuan di tengah badai digital. Kritik dan ketegasan dalam menegakkan kebenaran tetap wajib ada, namun ia harus disampaikan melalui koridor kebudayaan kita sendiri—koridor yang beradab, sejuk, dan membangun, bukan merusak.

Mari kita jemput kembali kedewasaan publik kita. Jangan biarkan identitas Indonesia sebagai bangsa yang ramah, toleran, dan berbudaya luhur larut dan hilang ditelan riuhnya amarah di ruang digital. Masa depan peradaban bangsa ini tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur fisik, melainkan oleh kekuatan karakter dan keluhuran budi pekerti manusianya.

*) Penggiat Budaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *