JAKARTA, KINERJAEKSELEN.co – Situasi di Selat Hormuz dan perairan sekitarnya semakin membingungkan sekaligus mencekam. Dua kekuatan militer, Amerika Serikat (AS) dan Iran, mengeluarkan rilis resmi dengan versi kronologi yang bertolak belakang terkait insiden maritim yang terjadi di jalur logistik minyak mentah dunia tersebut.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) secara resmi mengonfirmasi bahwa pesawat militer mereka telah melepaskan tembakan presisi ke arah buritan sebuah kapal kargo berbendera St. Kitts dan Nevis bernama M/V Huda di wilayah Teluk Oman. Menurut Pentagon, aksi militer tersebut merupakan tindakan pelumpuhan terukur setelah kru kapal berulang kali mengabaikan peringatan taktis. Kapal kargo tersebut diduga mencoba menerobos blokade laut yang tengah diterapkan oleh AS terhadap sejumlah pelabuhan strategis di Iran.
Sebaliknya, pihak otoritas Iran memberikan keterangan yang jauh berbeda. Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim bahwa tidak ada insiden penembakan langsung dari jet tempur asing, melainkan dua kapal tanker minyak yang mengalami kebakaran hebat di Selat Hormuz akibat menghantam ranjau laut.
Otoritas militer Teheran menuduh kapal-kapal tanker tersebut berlayar secara ilegal di “jalur tidak resmi” dan sengaja mematikan sistem navigasi GPS mereka untuk menghindari deteksi. Pihak Iran juga mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh kapal internasional agar tidak mematuhi instruksi keamanan dari militer AS, karena tindakan tersebut berisiko menggiring mereka masuk ke area ranjau aktif.
Perbedaan klaim dari kedua belah pihak ini memicu ketidakpastian baru di kalangan pelaku pasar komoditas. Akibat simpang siurnya informasi di lapangan, volatilitas pergerakan harga minyak mentah dunia diprediksi akan mengalami lonjakan signifikan seiring meningkatnya risiko premi keamanan di kawasan Teluk.
[KE/Red]












