JAKARTA, KINERJAEKSELEN.co – Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan yang fluktuatif namun cenderung menguat tipis pada perdagangan Selasa (6/10/2026) pagi. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda dibuka di level Rp17.914 per dolar AS, menguat tipis sekitar 3 poin atau 0,02 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp17.917 per dolar AS.
Meskipun sempat dibuka menguat, pergerakan rupiah sepanjang hari ini diperkirakan akan bergerak dalam rentang konsolidasi yang ketat. Para analis memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS, seiring dengan sikap wait and see para pelaku pasar global.
Menanti Sentimen Risalah Rapat Bank Sentral AS
Pengamat pasar keuangan menyebutkan bahwa sorotan utama investor global saat ini tertuju pada rencana rilis notulen rapat Federal Open Market Committee (FOMC Minutes) pada 7 Oktober 2026. Rilis dokumen ini sangat dinantikan untuk membaca arah kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) selanjutnya.
Di satu sisi, data tenaga kerja AS yang cenderung melemah akhir-akhir ini memicu ekspektasi bahwa The Fed akan mengambil kebijakan yang lebih longgar (dovish). Kondisi ini sempat memberikan sentimen positif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Namun di sisi lain, laju penguatan rupiah hari ini diprediksi masih akan tertahan akibat sejumlah faktor eksternal lainnya. Tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) serta kokohnya harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik global menjadi faktor utama yang membayangi inflasi dan menekan pergerakan mata uang domestik.
Fokus Pasar pada Data Makroekonomi Domestik
Dari dalam negeri, pergerakan nilai tukar juga dipengaruhi oleh proyeksi data makroekonomi penting Indonesia yang akan dirilis pekan ini. Pelaku pasar dilaporkan tengah mencermati rilis data Cadangan Devisa (Cadev), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), serta angka Penjualan Ritel terbaru.
Guna meredam volatilitas yang berlebih di pasar valuta asing, Bank Indonesia (BI) dipastikan terus bersiaga menjaga stabilitas nilai tukar melalui langkah-langkah intervensi strategis, baik di pasar spot maupun melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF).
[KE/Red]












