Surplus Perdagangan Agustus 2026 Melonjak, Sinyal Kuat Ketahanan Ekonomi Nasional

Foto ilustrasi

JAKARTA, KINERJAEKSELEN.co – Tren positif perekonomian nasional terus berlanjut. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan barang Indonesia kembali mencatatkan surplus yang signifikan sebesar US$ 3,55 miliar pada periode Agustus 2026. Capaian ini mengalami lonjakan drastis dibandingkan dengan surplus pada bulan Juli 2026 yang sempat melandai di angka US$ 120 juta.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa surplus yang semakin menebal ini utamanya ditopang oleh performa impresif sektor non-minyak dan gas (nonmigas) yang menyumbang surplus hingga US$ 6,09 miliar.

“Komoditas utama penyumbang surplus pada sektor nonmigas ini didominasi oleh lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15), bahan bakar mineral, serta komoditas besi dan baja,” ungkap Ateng dalam konferensi pers resminya.

Pendorong Performa Ekspor dan Impor

Berdasarkan data yang dirilis, total nilai ekspor Indonesia pada Agustus 2026 sukses menyentuh US$ 26,61 miliar. Nilai tersebut tumbuh 1,51 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dan naik 6,72 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibanding Agustus 2025. Penguatan ekspor di pasar global ini salah satunya dipicu oleh meroketnya pengapalan komoditas hilirisasi seperti nikel yang tumbuh 51,67 persen (yoy) dan aluminium yang melonjak hingga 206,78 persen (yoy).

Di sisi lain, total nilai impor Indonesia pada Agustus 2026 tercatat sebesar US$ 23,06 miliar. Meskipun angka tersebut menunjukkan kenaikan 19,09 persen secara tahunan, nilai impor ini sejatinya mengalami penurunan cukup dalam secara bulanan dari posisi Juli yang sempat menembus US$ 26,09 miliar. Penurunan impor bulanan inilah yang menjadi faktor dominan dalam memperlebar jarak surplus perdagangan pada bulan Agustus.

Akumulasi Rapor Hijau Sepanjang 2026

Secara kumulatif, rapor perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mengamankan tren surplus total senilai US$ 7,25 miliar. Hasil tersebut didapat dari surplus masif sektor nonmigas sebesar US$ 28,54 milia, yang mampu menutupi defisit sektor migas yang berada di angka US$ 21,29 miliar.

Merespons capaian ini, Bank Indonesia menilai bahwa terus berlanjutnya tren surplus neraca perdagangan ini berdampak sangat positif dalam memperkuat ketahanan eksternal ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Ke depan, sinergi kebijakan antara Bank Indonesia, Pemerintah, dan otoritas terkait akan terus diperkokoh untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

[KE/Red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *