Demi Dunia Atau Ketaatan Sejati?

Oleh: Syahril Syam *)

Bayangkan Anda bekerja di sebuah kantor pemerintahan, dan atasan Anda adalah seorang walikota yang sangat terkenal. Suatu hari, walikota itu mengeluarkan perintah kepada seluruh staf: “Tolong selesaikan proyek ini minggu depan.” Lalu, Anda mulai bertanya pada diri sendiri: Kenapa aku mengikuti perintah ini? Sebagian orang mungkin akan berkata, “Karena aku ingin dilihat rajin, siapa tahu nanti dipromosikan.” Yang lain mungkin berpikir, “Aku takut dimarahi atau dipecat kalau tidak ikut.” Ada juga yang berkata, “Ya sudah, memang sudah tugas pegawai untuk patuh, lagian semua orang juga ngerjain.”

Tapi, ada juga satu tipe orang yang berbeda. Dia berkata dalam hati: “Aku mau melakukan ini karena aku percaya pada visi walikota ini. Aku tahu tujuannya baik dan aku merasa bangga bisa terlibat dalam sesuatu yang membawa kebaikan bagi banyak orang.” Nah, kisah sederhana ini sebenarnya mirip dengan cara kita beribadah kepada Sang Maha Sempurna. Banyak orang beribadah – seperti shalat, puasa, sedekah, atau berbuat baik – dengan niat yang berbeda-beda. Ada yang melakukannya supaya dapat pahala, supaya hidupnya lebih tenang, supaya lancar rezeki. Ada yang beribadah karena takut dosa atau takut masuk neraka. Ada juga yang beribadah karena sudah jadi kebiasaan dari kecil, tanpa benar-benar merasa terhubung dengan Sang Maha Sempurna.

Tapi, ada satu jenis ibadah yang lebih dalam, yang disebut ibadah sejati. Yaitu ketika kita beribadah karena cinta dan kesadaran – bukan karena ingin imbalan atau menghindari hukuman, tapi karena hati kita benar-benar ingin dekat dengan Sang Maha Sempurna. Karena kita sadar, Sang Maha Sempurna adalah sumber kehidupan, kebenaran, dan kasih sayang. Kita taat karena ingin menyatu dengan kehendak-Nya, bukan karena berharap balasan. Sama seperti pegawai tadi yang bekerja bukan karena ingin naik jabatan, tapi karena percaya pada tujuan walikotanya – seorang hamba sejati juga tunduk kepada Sang Maha Sempurna karena mengenal dan mencintai-Nya. Dan inilah yang membedakan ibadah yang hanya berupa gerakan luar, dengan ibadah yang lahir dari cinta dan hubungan batin.

Walikota, sebagai manusia biasa, hanya bisa menilai berdasarkan apa yang tampak di permukaan: laporan kerja, kehadiran, sikap di depan umum. Ia mungkin mengira seorang bawahan itu rajin dan setia, padahal dalam hati, orang itu hanya sedang menjilat demi promosi. Dan bisa jadi ada bawahan lain yang tenang, sederhana, tapi bekerja sungguh-sungguh karena benar-benar ingin membantu masyarakat, hanya saja tidak menonjol di depan umum. Tapi Sang Maha Sempurna tidak seperti walikota. Sang Maha Sempurna tidak butuh “laporan” atau penampilan lahiriah untuk tahu isi hati kita. Makanya sangat tegas bahwa “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan hartamu, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalmu.” (HR. Muslim).

Ketika kita menyamakan ibadah kepada Sang Maha Sempurna dengan ketaatan kepada walikota, kita hanya mengambil sebagian analogi, yaitu tentang motivasi dalam ketaatan. Tapi Sang Maha Sempurna jauh lebih sempurna. Dia mengetahui niat terdalam, bahkan sebelum kita sendiri menyadarinya. Inilah mengapa dalam ibadah sejati, niat menjadi pusat utama. Karena Sang Maha Sempurna tidak hanya menilai “apa” yang kita lakukan, tapi lebih penting: “mengapa” kita melakukannya.

Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: untuk apa sebenarnya aku hidup? Kadang kita sibuk belajar, bekerja, mengejar target hidup, tapi di tengah semua itu, hati terasa kosong. Saat membaca ayat “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS 51:56), kita mungkin langsung membayangkan ibadah seperti shalat, puasa, dan dzikir. Tapi para ulama menjelaskan bahwa makna ibadah lebih luas dari itu. Ibadah adalah bentuk total penghambaan kita kepada Sang Maha Sempurna dalam seluruh hidup. Artinya, ketika kita belajar dengan niat untuk menunaikan amanah ilmu, bekerja dengan jujur karena Sang Maha Sempurna menyukai kejujuran, atau membantu orang lain karena ingin mendapat ridha-Nya – semua itu adalah ibadah. Hidup bukan soal mengumpulkan gelar, uang, atau pengakuan. Dunia hanyalah perantara. Tujuan sejatinya adalah menjadi hamba yang sadar bahwa setiap langkah, jika diniatkan karena Sang Maha Sempurna, bisa bernilai ibadah. Maka pertanyaannya sekarang: apakah aku sedang menjadikan dunia sebagai tujuan, atau sekadar wasilah (perantara) menuju-Nya?

Kita mesti bertanya ulang pada diri kita sendiri: “Apakah belajarku hari ini kutujukan untuk mencari ridha-Nya, atau hanya demi nilai?”; “Apakah aku bekerja hanya untuk gaji, atau karena aku ingin menunaikan amanah sebagai hamba yang membawa manfaat?”; “Saat aku menolong orang, apakah itu karena ingin dipuji, atau karena Sang Maha Sempurna menyukai kebaikan?” Para arif menyebut bahwa perbedaan antara abid sejati dan pelaku ibadah biasa adalah pada tujuan akhir dan hubungan batiniah dengan Sang Maha Sempurna.” Dengan kata lain, hamba sejati tidak menyembah karena surga atau takut neraka, tapi karena ia melihat Sang Maha Sempurna sebagai kebenaran mutlak, dan ia mencintai ketaatan itu sendiri – sebagaimana pecinta tunduk bukan karena hadiah, tetapi karena cinta. Segala amal, bahkan yang tampak duniawi, dapat menjadi tangga spiritual – jika dilakukan dalam bingkai kesadaran akan Sang Maha Sempurna.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *