(Hindari) dari Selflessness Menuju Selfishness

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam *)

Perjalanan seluruh makhluk adalah perjalanan kembali ke awal, yaitu semuanya akan kembali kepada Sang Maha Sempurna. Hanya saja pada manusia, perjalanan kembali ini bisa dalam bentuk semakin menyempurnakan kemanusiaan dirinya atau justru semakin menjauh dari kesempurnaan kemanusiaannya. Oleh sebab itu, perjalanan dari selfless (tidak egois) kembali ke selfish (egois) adalah bentuk kemunduran, baik secara biologis maupun spiritual. Neuroplastisitas (kemampuan otak untuk berubah) tidak hanya bekerja ke arah positif tetapi juga bisa mundur ke arah negatif. Ketika seseorang yang dulunya selfless mulai kembali menjadi selfish, maka jalur saraf untuk empati dan kasih sayang menjadi lemah dan kebiasaan memikirkan orang lain digantikan oleh fokus pada diri sendiri.

Yang terjadi pada otak adalah area yang mendukung egoisme menguat. Mentalitas selfless (tidak egois) sering dikaitkan dengan perasaan kedamaian batin, kebahagiaan intrinsik, dan rasa koneksi dengan orang lain. Orang yang lebih selfless lebih mungkin merasakan kepuasan batin yang datang dari memberi dan berbagi. Namun jika seseorang berubah menjadi selfish (egois), maka secara mental ia akan menjadi cemas, kesepian, atau ketidakpuasan. Walaupun mungkin ada perasaan sementara yang menyenangkan saat memperoleh sesuatu untuk diri sendiri, rasa puas tersebut seringkali lebih sementara dan kurang mendalam dibandingkan dengan kepuasan dari kebaikan atau memberi. Perubahan ini dapat berpotensi mengarah pada stres, kecemasan, dan rasa kekosongan mental dalam jangka panjang.

Selfishness (egois) dapat memengaruhi tubuh secara negatif, meningkatkan tingkat stres dan kecemasan. Ketika seseorang lebih terfokus pada diri sendiri dan pencapaian materi, respons tubuh terhadap stres cenderung meningkat, mengaktifkan sistem saraf simpatik yang bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah, peningkatan detak jantung, dan pelepasan hormon stres seperti kortisol. Dalam jangka panjang, stres kronis ini dapat berdampak pada kesehatan fisik, termasuk penurunan sistem kekebalan tubuh dan masalah jantung.

Ketika seseorang bergerak dari selfless ke selfish, maka jiwa (diri) kembali terjebak pada ego dan materi. Jiwa yang tadinya bebas dari keterikatan mulai tenggelam lagi dalam hasrat duniawi, seperti keserakahan, iri hati, atau ambisi berlebihan. Selflessness mencerminkan sifat-sifat Ilahi, seperti kasih sayang dan kedermawanan. Namun ketika menjadi selfish, jiwa menjauh dari sifat ini, sehingga kehilangan “cahaya” yang mengarahkannya pada kesempurnaan. Jiwa tidak hanya stagnan, tetapi juga bergerak ke tingkat eksistensi yang lebih rendah, semakin jauh dari kebahagiaan sejati yang ditemukan dalam hubungan dengan Sang Maha Sempurna dan makhluk lainnya.

Pikiran selfish menghasilkan jalur saraf negatif, memperkuat perilaku egois. Ini menciptakan lingkaran setan, dimana seseorang terus mementingkan dirinya sendiri. Selain itu, jiwa yang selfish cenderung terjebak dalam nafsu dan hasrat rendah. Peralihan dari selflessness ke selfishness tidak hanya mengubah pola pikir, tetapi juga aktivitas otak dan kondisi mental serta fisik. Ketika seseorang beralih dari membantu orang lain ke fokus pada keuntungan pribadi, mereka kehilangan manfaat psikologis dan fisiologis yang terkait dengan perilaku altruistik.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *