Intensitas Perasaan Manakah Yang Lebih Intens?

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh Syahril Syam  *)

Saat seorang anak sering mendengar kata-kata negatif atau mengalami kejadian yang kurang menyenangkan berulang kali, pikirannya mulai menganggap hal itu sebagai kebenaran. Otaknya merekam semua informasi yang diterima, lalu mengirimkan sinyal ke tubuh agar merespons sesuai dengan apa yang ia yakini. Akibatnya, tanpa disadari, anak mulai berpikir dan merasakan sesuatu bukan karena kenyataannya, tetapi karena kebiasaan yang terbentuk dari apa yang sering ia dengar. Misalnya, jika seorang anak selalu diberitahu, “Kalau kena gerimis, nanti sakit kepala”, maka setiap kali ia terkena gerimis, tubuhnya langsung merespons dengan merasa tidak enak. Padahal, hujan sendiri tidak secara langsung menyebabkan sakit kepala.

Namun, karena otaknya sudah terbiasa menghubungkan gerimis dengan sakit, tubuhnya mengikuti pola itu. Hal yang sama terjadi dengan berbagai pernyataan lain, seperti “Kalau belajar lama-lama, nanti pusing” atau “Kalau grogi, nanti perut sakit” – akhirnya, tubuh benar-benar merasakan apa yang dipikirkan.

Tidak hanya itu, jika seorang anak sering mendengar kata-kata seperti “Kamu bodoh”, “Kamu pemalas”, atau “Kamu pasti gagal”, maka keyakinannya tentang dirinya sendiri juga ikut terbentuk. Ia akan mulai percaya bahwa dirinya memang seperti itu, sehingga ia menjadi takut mencoba hal baru atau mudah menyerah sebelum berusaha.

Setiap kali mengalami kegagalan kecil, ia semakin yakin bahwa dirinya memang tidak mampu, sehingga siklus berpikir negatif ini terus berulang. Ketika kita mulai berpikir bahwa cuaca pagi ini segar dan menyenangkan, otak langsung merespons.

Otak melepaskan zat kimia yang membuat kita merasa lebih rileks dan nyaman. Zat ini juga mengirim sinyal ke tubuh, sehingga kita lebih bersemangat, pernapasan terasa lebih lega, dan tubuh terasa lebih ringan. Pikiran kita bisa “melatih” tubuh untuk merespons sesuatu dengan cara tertentu. Jika kita sering berpikir positif tentang hal-hal kecil, seperti menikmati udara pagi atau bersyukur atas hari yang dimulai dengan baik, tubuh akan terbiasa merasakan ketenangan dan kebahagiaan dari hal-hal sederhana. Sebaliknya, jika kita selalu fokus pada hal-hal negatif, tubuh juga akan lebih mudah merasa tegang dan stres.

Jadi, yang kita pikirkan tidak hanya memengaruhi perasaan kita, tapi juga bagaimana tubuh bereaksi terhadap pengalaman sehari-hari. Dalam banyak hal, konsep dan pengalaman yang ditanamkan sejak usia dini dapat memengaruhi pola emosi dan intensitas perasaan yang kita rasakan di kemudian hari. Jika dalam masa pertumbuhan seorang anak sering dihadapkan pada pesan atau pengalaman yang menguatkan perasaan negatif – seperti ketakutan, kecemasan, atau penolakan – maka jalur-jalur neural yang berkaitan dengan emosi negatif itu dapat berkembang dengan intensitas yang tinggi.

Hal ini dapat membuat otak “terbiasa” dengan respons negatif sehingga ketika muncul situasi yang seharusnya membangkitkan perasaan positif, intensitasnya terasa lemah atau kurang menonjol.

Apa yang ditanamkan ke dalam pikiran seorang anak berperan dalam menentukan intensitas emosi yang dominan. Jika intensitas kemarahan seseorang masih sangat tinggi, maka proses memaafkan menjadi lebih sulit karena emosi yang dominan akan terus memperkuat jalur saraf yang terkait dengan kemarahan dan ketidakmampuan untuk melepaskan.

Semakin tinggi intensitas kemarahan, semakin sulit bagi seseorang untuk memaafkan. Pengalaman kemarahan yang intens secara berulang dapat membentuk dan memperkuat jalur neural di otak yang berkaitan dengan emosi negatif. Semakin dalam jalur tersebut terbentuk, semakin besar kecenderungan otak untuk merespons dengan kemarahan saat menghadapi situasi serupa, yang secara tidak langsung membuatnya sulit untuk mengalihkan emosi negatif tersebut menjadi perasaan positif seperti memaafkan.

Jika intensitas kemarahan sangat tinggi, perasaan negatif tersebut dapat “menenggelamkan” kemampuan otak untuk meresapi atau menumbuhkan perasaan positif. Proses memaafkan memerlukan adanya ruang bagi emosi positif dan refleksi yang mendalam, namun jika kemarahan masih mendominasi, proses tersebut menjadi terhambat.

Ketika intensitas kemarahan mulai mereda – misalnya melalui refleksi diri, teknik pelepasan emosi, atau intervensi seperti terapi – maka prefrontal cortex bisa kembali berfungsi optimal, sehingga individu bisa melihat situasi dari sudut pandang yang lebih luas dan mulai mempertimbangkan memaafkan.

Manusia bisa berubah dengan lebih mudah ketika perasaan konstruktif seperti semangat, percaya diri, atau rasa syukur menjadi intens dan dominan dalam dirinya. Ketika seseorang benar-benar merasakan kebahagiaan, keberanian, atau motivasi yang kuat, maka otak dan tubuhnya ikut menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut.

Walhasil, dalam diri manusia terjadi tarik-menarik antara intensitas emosi konstruktif dan destruktif. Semakin kuat emosi yang mendominasi, semakin besar pengaruhnya terhadap cara kita berpikir, merasa, dan bertindak. Jika emosi destruktif lebih intens, maka pikiran dan tubuh akan cenderung merespons dengan stres, ketakutan, atau keputusasaan. Sebaliknya, jika emosi konstruktif lebih kuat, maka tubuh dan pikiran akan lebih mudah merasa tenang, percaya diri, dan terbuka terhadap perubahan.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tanpa sadar membiarkan emosi destruktif mendominasi karena pola pikir yang terbentuk sejak kecil atau pengalaman buruk yang terus diulang dalam pikiran mereka. Namun, jika kita mulai memperkuat emosi konstruktif dan positif melalui latihan kesadaran diri, rasa syukur, atau dukungan sosial, maka tarik-menarik ini bisa beralih ke arah yang lebih konstruktif.

Jadi, perubahan diri sangat bergantung pada mana yang lebih dominan – emosi destruktif atau konstruktif. Semakin sering kita melatih dan memperkuat emosi konstruktif dan positif, semakin mudah kita mengatasi tantangan dan membentuk pola pikir yang lebih sehat.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *