Oleh: Syahril Syam *)
Banyak orang seringkali merasakan perasaan tidak bahagia dikarenakan menyesali dan bersedih akan masa lalu, atau karena terperangkap pada kekhawatiran akan masa depan. Ketidakbahagiaan seringkali berasal dari hidup di luar momen saat ini. Sebaliknya, semua perasaan positif dan konstruktif hanya bisa dirasakan saat kita benar-benar hadir di saat ini.
Kebahagiaan, rasa syukur, ketenangan, cinta, dan kedamaian hanya dapat muncul ketika kita tidak membiarkan pikiran kita terseret ke masa lalu atau masa depan. Semua perasaan positif dan konstruktif hanya bisa dirasakan saat kita benar-benar hadir di saat ini karena otak dan kesadaran kita hanya bisa mengalami emosi secara nyata dalam momen yang sedang berlangsung.
Sistem limbik, yang mengatur emosi, hanya bisa merespons “apa yang sedang terjadi sekarang”. Saat seseorang fokus pada masa lalu atau masa depan, otak memunculkan skenario yang “sebenarnya tidak nyata” saat ini, sehingga sulit merasakan kebahagiaan secara langsung.
Selain itu, hormon kebahagiaan seperti dopamin, serotonin, dan oksitosin hanya dilepaskan ketika kita mengalami sesuatu secara langsung. Misalnya, saat kita mensyukuri makanan yang sedang kita makan, saat kita merasa dicintai dalam percakapan hangat, atau saat kita menikmati keindahan alam di depan mata. Jika pikiran seseorang melayang ke masa lalu atau masa depan, otaknya tidak bisa sepenuhnya menikmati momen tersebut.
Penyesalan terhadap masa lalu seringkali mengaktifkan rasa bersalah dan kesedihan, sedangkan kecemasan terhadap masa depan memicu stres dan ketakutan. Dua kondisi ini mencegah otak dari merasakan ketenangan dan kebahagiaan yang ada di saat ini. Keberadaan kita yang nyata adalah apa yang terjadi sekarang, bukan yang telah berlalu atau yang belum terjadi.
Kebahagiaan, syukur, dan cinta hanya bisa dirasakan jika kita menghidupi realitas kita secara penuh di momen saat ini. Kita hanya bisa benar-benar bahagia jika kita menikmati dan merasakan apa yang sedang terjadi sekarang. Jika seseorang terus membandingkan masa kini dengan masa lalu yang lebih baik atau mencemaskan masa depan yang belum pasti, ia akan kehilangan momen bahagia yang sedang berlangsung.
Begitu juga rasa syukur hadir ketika kita menyadari dan menghargai apa yang kita miliki saat ini. Jika seseorang terlalu sibuk menyesali apa yang telah hilang atau khawatir tentang apa yang belum ia capai, maka ia tidak akan pernah merasa cukup dengan kehidupan yang dijalani sekarang.
Rasa cinta hanya bisa dirasakan saat kita benar-benar hadir dalam hubungan kita. Jika seseorang sedang bersama orang yang mereka cintai, tetapi pikirannya melayang ke masalah pekerjaan atau masa lalu, maka cinta tidak akan terasa sepenuhnya. Menghidupi realitas secara penuh di momen saat ini berarti kita benar-benar merasakan, mengalami, dan menerima kehidupan sebagaimana adanya tanpa terbebani oleh masa lalu atau masa depan. Sadar di momen saat ini berarti menghadirkan perhatian penuh pada apa yang sedang terjadi sekarang, baik dalam pikiran, perasaan, maupun tindakan, tanpa terjebak dalam penyesalan masa lalu atau kekhawatiran masa depan.
Bayangkan saat kita makan makanan favorit. Alih-alih hanya mengunyah tanpa sadar sambil memikirkan pekerjaan atau melihat ponsel, cobalah benar-benar merasakannya. Rasakan teksturnya, nikmati kelezatannya, dan sadari setiap suapan yang masuk ke mulut kita. Begitu juga saat berbicara dengan seseorang – bukannya sekadar mendengar sambil pikiran melayang ke hal lain, akan tetapi cobalah untuk benar-benar hadir dalam percakapan. Dengarkan dengan penuh perhatian, perhatikan ekspresi wajah mereka, dan rasakan koneksi yang terjalin. Dengan begitu, setiap momen menjadi lebih berarti dan lebih terasa hidup.
Ketika sedang berjalan di taman, alih-alih sibuk memikirkan tugas yang belum selesai atau masalah di kantor, cobalah untuk berhenti sejenak dan benar-benar menikmati suasana. Kita bisa menyadari dan merasakan sejuknya angin yang menyentuh kulit, mendengar kicauan burung yang bersahutan, dan melihat daun-daun hijau yang bergerak pelan ditiup angin. Begitu juga saat kita bersama keluarga, daripada terus melihat layar HP atau sibuk memikirkan apa yang akan terjadi besok, kita memilih untuk benar-benar hadir. Kita mendengarkan cerita mereka, tertawa bersama, dan menikmati setiap momen kebersamaan yang berharga.
Jadi, jika kita ingin bahagia, kuncinya adalah menghadirkan kesadaran kita sepenuhnya pada apa yang terjadi sekarang – menghargai setiap momen, merasakan kebersyukuran, dan menerima hidup sebagaimana adanya. Kita benar-benar hidup dalam waktu sekarang. Ketika kita fokus pada apa yang sedang berlangsung, tanpa terbebani oleh kenangan masa lalu atau kecemasan akan masa depan, kita merasakan hidup dengan lebih utuh. Kita menikmati setiap detik dengan penuh kesadaran dan menyadari keberadaan kita sepenuhnya. Dengan begitu, kita tidak sekadar menjalani hari, tetapi benar-benar mengalaminya dengan penuh makna.
@pakarpemberdayaandiri











