Oleh: Syahril Syam *)
Apa yang sering kita label sebagai “malas” pada banyak orang, sebenarnya bisa jadi adalah reaksi alami otak terhadap akumulasi kekecewaan, tekanan, dan rasa kewalahan yang terjadi secara berulang – dan seringkali tanpa disadari. Ini bukan soal kurangnya niat atau kemauan, tapi lebih kepada kondisi biologis dan emosional yang sedang dialami.
Dalam otak manusia, ada bagian kecil yang bernama habenula, yang berfungsi sebagai pusat deteksi kekecewaan. Setiap kali seseorang merasa gagal, tidak mencapai target, atau bahkan hanya berpikir bahwa ia akan gagal, bagian ini bisa aktif. Ketika habenula terlalu sering aktif, otak mulai mengirimkan sinyal yang membuat seseorang kehilangan semangat, motivasi, dan bahkan energi untuk bertindak. Inilah yang membuat seseorang tampak “malas”, padahal sebenarnya ia sedang dalam mode bertahan dari tekanan mental.
Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kekecewaan, terutama kekecewaan kecil yang bersifat halus atau terselubung. Misalnya, ketika seseorang sudah menyusun jadwal latihan dengan niat kuat – “Pokoknya tiap pagi jogging!” – tapi ternyata tidak terlaksana karena pekerjaan menumpuk, rapat mendadak, atau kelelahan, maka tanpa sadar, terjadi gesekan antara harapan dan kenyataan. Di sinilah letak kekecewaannya: bukan karena malas atau tidak serius, tapi karena realita tidak berjalan sesuai dengan rencana. Dan karena kekecewaan ini tidak besar, tidak dramatis, banyak orang tidak mengakuinya secara sadar. Mereka mungkin hanya merasa “sedikit kesal” atau bahkan langsung menyalahkan diri: “Aku memang gak disiplin, sih,” padahal jauh lebih dalam dari itu, otaknya mencatat bahwa dirinya gagal memenuhi target, dan bagian otak (habenula) pun menjadi terpicu.
Ketika hal ini terjadi berulang kali – target dibuat, gagal, kecewa (tapi tak disadari) – lama-kelamaan otak mulai menyamakan proses perencanaan = kegagalan. Akhirnya, muncul rasa enggan untuk merencanakan lagi, atau rasa putus asa yang samar. Orang itu mungkin berkata, “Ah, gak usah ngatur-ngatur lagi deh, toh ujung-ujungnya gak jalan juga.” Padahal, di balik kata-kata itu ada jejak-jejak kekecewaan yang belum sempat diproses dan dipahami.
Tanpa sadar, ia menyimpan jejak-jejak kecil rasa kecewa yang terakumulasi. Di titik tertentu, otaknya mulai “belajar” bahwa usaha hanya membawa rasa gagal, bukan keberhasilan. Maka, saat menghadapi tugas baru, bukannya termotivasi, ia justru merasa berat hati, enggan mulai, dan mencari alasan untuk menunda. Ini bukan kemalasan – ini adalah reaksi perlindungan diri dari rasa kecewa yang tak terselesaikan. Jadi, salah satu tantangan terbesar dalam perubahan diri adalah mengenali bentuk-bentuk kekecewaan yang tidak terlihat, yang justru menggerogoti semangat sedikit demi sedikit.
Dengan metode IMM™ (Iterative Mindset Method™), kita diajak menyadari perasaan ini secara ringan dan jujur – bukan untuk menyalahkan diri, tapi untuk memahami bahwa ketidakteraturan bukan kegagalan pribadi, melainkan bagian dari proses hidup yang dinamis. Ketika kita punya tugas dengan deadline yang semakin dekat, biasanya yang muncul duluan justru rasa stres, takut gak sempat selesai, atau bingung mau mulai dari mana. Di sinilah IMM™ bisa membantu, karena metodenya tidak mengharuskan kita untuk langsung sempurna, tapi justru mengajak kita untuk bergerak pelan tapi pasti, selaras dengan cara kerja otak.
Langkah pertama adalah Assessment. Ini adalah momen untuk berhenti sejenak. Langkah Assessment dimulai dengan menanyakan pada diri sendiri: “Apa yang bikin jadwal awal gagal? Apakah terlalu padat? Apakah energiku waktu itu sedang tidak cukup? Apakah aku butuh waktu istirahat?” Dari sini, muncullah kesadaran bahwa rencana awal memang kurang realistis. Setelah tahu hambatannya, masuk ke langkah kedua: Iteration. Di sini, kita tidak memaksakan jadwal lama, tapi melakukan iterasi – penyesuaian kecil. Kita menyusun ulang jadwal kita, misalnya dengan membagi tugas besar itu menjadi potongan kecil: hari ini cukup bikin kerangka tugas, besok lanjut tulis pendahuluan, lusa lanjut isi dan kesimpulan. Jadwalnya jadi lebih fleksibel, dan yang paling penting, terasa lebih masuk akal. Bisa juga dengan mengubah jadwal pengerjaan tugas ke waktu sebelum shalat shubuh.
Kemudian masuk ke langkah Practice. Kita menjalankan rencana baru satu demi satu, tanpa beban harus langsung sempurna. Kita pun menikmati prosesnya, mungkin dengan menulis sambil mendengarkan musik yang disukai, menyiapkan camilan, atau memberi jeda istirahat kecil di tengah-tengah. Setiap langkah yang berhasil dilewati – meskipun kecil – memberi rasa puas dan motivasi untuk lanjut. Dengan cara ini, kita tidak lagi melihat tugas sebagai beban besar yang menekan, tapi sebagai rangkaian langkah kecil yang bisa dinikmati. IMM™ membantu menjaga semangat tetap menyala, karena setiap hambatan tidak dilawan dengan paksaan, tapi dengan refleksi dan penyesuaian yang lembut, sejalan dengan cara kerja alami otak. Hasilnya? Tugas selesai tepat waktu, tanpa harus merasa terburu-buru atau stres berlebihan.
@pakarpemberdayaandiri











