Menelisik Kebahagiaan Dari Sudut Pandang Psikologi Positif dan Akhlak

Pakar Pemberdayaan Diri Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Dunia ini hanyalah tempat sementara, seperti ladang tempat kita menanam amal perbuatan. Di sinilah kita diuji: dengan kesenangan, kesulitan, kesempatan, dan pilihan-pilihan hidup. Setiap perbuatan yang kita lakukan di dunia menjadi bekal untuk kehidupan setelah mati. Maka, hidup di dunia ini seharusnya dijalani dengan penuh kesadaran bahwa semua yang kita lakukan ada nilainya di sisi Sang Maha Sempurna

Psikologi positif adalah cabang ilmu psikologi yang fokus pada hal-hal yang membuat hidup manusia lebih bermakna dan memuaskan. Salah satu tokohnya, Martin Seligman, mengembangkan model yang disebut PERMA untuk menjelaskan apa saja yang membentuk kebahagiaan sejati. Dalam model ini, kebahagiaan tidak hanya soal merasa senang atau bahagia sesaat.

Ada lima unsur penting yang saling melengkapi (PERMA): Positive Emotion (perasaan positif seperti syukur, harapan, dan cinta), Engagement (keterlibatan penuh dalam aktivitas yang kita sukai), Relationships (hubungan yang positif dan mendukung dengan orang lain), Meaning (rasa makna atau tujuan hidup yang lebih besar dari diri sendiri), dan Achievement (pencapaian yang membuat kita merasa bangga dan berkembang). Jadi, menurut pendekatan ini, kebahagiaan bukan hanya tentang tertawa dan bersenang-senang, tapi juga tentang hidup yang aktif, penuh arti, punya koneksi sosial yang baik, serta merasa berhasil dalam hal-hal yang penting bagi diri kita.

Psikologi positif menjelaskan bahwa sumber kebahagiaan yang sejati sebenarnya berasal dari dalam diri kita, bukan dari hal-hal luar seperti harta atau status sosial. Kebahagiaan tumbuh ketika kita sering mengalami emosi positif seperti rasa syukur, harapan, dan kasih sayang. Selain itu, memiliki hubungan yang hangat dan saling mendukung dengan orang lain juga sangat penting.

Kita juga merasa lebih bahagia saat mengenali dan mengembangkan kekuatan atau potensi terbaik dalam diri, misalnya sifat sabar, tekun, atau rasa ingin tahu. Hidup pun terasa lebih berarti ketika kita menjalani tujuan yang selaras dengan nilai-nilai pribadi yang kita yakini. Dalam hal ini, cara kita memandang hidup (mindset) ternyata lebih menentukan kebahagiaan daripada kondisi di luar diri. Dengan kata lain, meskipun keadaan sekitar tidak selalu ideal, kita tetap bisa bahagia jika memiliki cara berpikir yang positif dan selaras dengan hati nurani kita.

Pikiran kita memainkan peran besar dalam menentukan apakah kita merasa bahagia atau tidak. Cara kita berpikir, yang sering disebut sebagai mindset, sangat memengaruhi bagaimana kita merespons berbagai peristiwa dalam hidup. Martin Seligman mengenalkan konsep Learned Optimism, yaitu kemampuan untuk belajar melihat segala sesuatu dengan cara yang lebih positif dan penuh harapan. Misalnya, saat menghadapi kegagalan, orang dengan mindset optimis akan melihatnya sebagai pelajaran atau tantangan, bukan sebagai akhir dari segalanya.

Sebaliknya, jika seseorang terbiasa memaknai segala sesuatu secara negatif, maka emosinya pun cenderung lebih sering terpengaruh oleh stres, kecewa, atau rasa putus asa. Jadi, kebahagiaan sebenarnya bukan hanya tergantung pada apa yang terjadi di luar, tapi sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita memilih untuk memandang dan menafsirkan apa yang terjadi di dalam hidup kita.

Tujuan akhir dari pendekatan psikologi positif adalah membantu kita menjalani hidup yang benar-benar berkembang dan seimbang, atau dalam istilah ilmiahnya disebut flourishing. Ini bukan sekadar hidup yang “baik-baik saja”, tetapi hidup yang penuh makna, bahagia, dan berdaya. Orang yang flourishing bukan hanya merasa bahagia secara emosional, tapi juga mampu berpikir dengan jernih, menjalin hubungan sosial yang sehat, dan menggunakan potensi terbaiknya dalam kehidupan sehari-hari.

Secara psikologis, ia merasa kuat dan mampu menghadapi tantangan. Secara sosial, ia merasa terhubung dengan orang lain dan punya peran yang berarti di lingkungannya. Secara emosional, ia mampu menikmati hidup, merasa bersyukur, dan bangkit ketika menghadapi kesulitan. Dengan kata lain, hidup yang berkembang menyentuh seluruh aspek diri manusia – bukan hanya merasa enak sesaat, tapi benar-benar hidup dengan utuh dan bermakna.

Dalam pandangan akhlak, kebahagiaan yang sejati bukanlah kebahagiaan yang hanya bersifat sementara atau sebatas kenikmatan duniawi. Kebahagiaan ini bersifat transenden, artinya melampaui hal-hal lahiriah dan bersifat abadi, karena mencakup kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dalam akhlak, kebahagiaan erat kaitannya dengan ketenangan batin yang muncul ketika kita memiliki hubungan yang kuat dan benar dengan Sang Maha Sempurna, menjalani hidup dengan akhlak yang baik, serta menjaga hati tetap bersih.

Hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari penyakit-penyakit jiwa seperti iri hati, dengki, kesombongan, dan kebencian. Ketika kita mampu hidup dengan penuh kesadaran, menjaga adab kepada sesama, dan ikhlas dalam segala hal, maka kita akan merasakan kedamaian dalam jiwa. Itulah bentuk kebahagiaan yang tidak mudah goyah meskipun menghadapi kesulitan hidup.

Dalam ajaran akhlak, kebahagiaan sejati bukan berasal dari harta, jabatan, atau kesenangan dunia, melainkan dari kedalaman iman dan ketenangan hati. Kebahagiaan ini tumbuh dari keyakinan yang kuat kepada Sang Maha Sempurna, disertai dengan amal saleh atau perbuatan baik yang dilakukan dengan ikhlas.

Selain itu, rasa syukur atas segala nikmat, bahkan dalam hal-hal kecil, menjadi kunci penting untuk menjaga hati tetap lapang dan bahagia. Saat menghadapi ujian atau kesulitan hidup, akhlak mengajarkan pentingnya sabar – bukan sekadar menahan diri, tetapi menerima dengan tenang dan tetap berusaha dalam kebaikan.

Kebahagiaan juga muncul ketika kita mampu ridha terhadap takdir, artinya menerima dengan tulus segala hal yang Sang Maha Sempurna tetapkan, baik atau buruk, sambil percaya bahwa di balik semuanya ada hikmah yang dalam. Dengan iman, syukur, sabar, dan ridha, kita akan merasakan kebahagiaan yang tidak mudah terguncang oleh keadaan luar, karena hati kita telah terhubung dengan sumber kebahagiaan yang paling dalam dan abadi.

Dalam ajaran akhlak, pikiran dan hati memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan baik atau buruknya perilaku kita. Akhlak mengajarkan bahwa akal adalah anugerah besar dari Sang Maha Sempurna yang harus digunakan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Namun, tidak cukup hanya dengan akal – hati atau qalb juga menjadi pusat pengambilan keputusan moral, karena dari sanalah niat muncul. Niat adalah dasar dari setiap perbuatan; bahkan Rasulullah SAW bersabda bahwa nilai suatu amal tergantung pada niatnya. Artinya, dua orang bisa melakukan hal yang sama, tapi hasilnya berbeda di sisi Sang Maha Sempurna karena niat di baliknya berbeda.

Selain itu, menjaga pikiran tetap bersih dan positif sangat berpengaruh terhadap ketenangan batin. Jika pikiran dipenuhi prasangka buruk, iri, atau kebencian, maka hati pun akan gelisah. Sebaliknya, jika pikiran dijaga dengan niat yang baik, penuh kesadaran, dan disertai keikhlasan, maka hati akan terasa damai dan hidup pun menjadi lebih ringan dijalani. Selain itu, emosi bukanlah sesuatu yang harus dihindari atau ditolak, tetapi harus dikelola dengan bijak. Akhlak mengajarkan bahwa setiap orang pasti merasakan emosi, baik itu emosi positif seperti kebahagiaan dan cinta, maupun emosi negatif seperti marah dan takut. Namun, yang penting adalah bagaimana kita mengendalikan emosi tersebut agar tidak merusak diri sendiri atau orang lain.

Dalam pandangan akhlak, tujuan hidup yang paling mulia bukan hanya untuk meraih kebahagiaan sementara di dunia, tetapi untuk mencapai kebahagiaan yang sejati dan abadi di akhirat. Kebahagiaan tertinggi itu adalah ketika kita mendapatkan ridha Sang Maha Sempurna. Itulah puncak dari semua pencapaian spiritual yang bisa diraih oleh manusia.

Dunia ini hanyalah tempat sementara, seperti ladang tempat kita menanam amal perbuatan. Di sinilah kita diuji: dengan kesenangan, kesulitan, kesempatan, dan pilihan-pilihan hidup. Setiap perbuatan yang kita lakukan di dunia menjadi bekal untuk kehidupan setelah mati. Maka, hidup di dunia ini seharusnya dijalani dengan penuh kesadaran bahwa semua yang kita lakukan ada nilainya di sisi Sang Maha Sempurna.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *