Oleh : Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP *)
Salah satu masalah bagi penyelenggara Pemilu di Indonesia adalah banyaknya jumlah daftar pemilih tetap yang tidak hadir di TPS. Todd Rogers yang sekarang adalah profesor terkemuka di Harvard Kennedy School of Government, pernah melakukan penelitian tentang mengapa orang tidak hadir di TPS saat Pemilu presiden Amerika di tahun 2008. Dari penelitian itu, Todd mengetahui bahwa sejumlah besar pemilih yang telah terdaftar mengatakan bahwa mereka memang berencana memberi suara, tapi selalu gagal muncul di TPS. Mereka yang gagal muncul di TPS padahal sudah berniat hadir, oleh Todd disebut sebagai “mengelupas”.
Mengelupas ternyata tidak hanya menghalangi pemilih untuk datang ke TPS pada saat Pemilu. Mengelupas juga menghalangi orangtua membaca secara teratur untuk anak-anaknya, bos membimbing bawahannya dengan benar, dan sebagian besar orang Amerika mematuhi resolusi Tahun Baru-nya. Dengan kata lain, banyak yang berniat baik tapi akhirnya gagal mengeksekusi niat tersebut.
Dari hasil riset yang dilakukan Todd, gejala mengelupas ini memiliki beberapa penyebab umum. Dua diantaranya adalah kemalasan dan teralihnya perhatian. Tetapi yang mungkin jarang kita ketahui adalah “lupa” termasuk penyebabnya. Banyak orang mungkin mengira “lupa” adalah masalah yang cenderung dibuat-buat. Sebuah alasan klasik yang seringkali seseorang sampaikan saat ia tidak jadi datang ke TPS atau pada hal-hal yang tidak jadi ditindak lanjuti. Akan tetapi, “lupa” memang benar-benar sebuah alasan, bahkan oleh pemilih yang sangat mendukung calonnya sekalipun.
Lupa ternyata penyebab yang lebih serius dan umum dari kegagalan seseorang dalam melaksanakan niatnya. Menurut salah satu riset, setiap harinya rata-rata orang dewasa lupa akan tiga hal yang berkisar dari lupa nomor PIN, lupa tugas, sampai lupa ulang tahun pernikahan. Penyebab terjadinya mudah lupa sebagian besar karena sulitnya informasi melekat di memori. Data eksperimen menunjukkan bahwa hampir separuh informasi yang kita telah pelajari akan dilupakan dalam 20 menit. Setelah 24 jam, sekitar 70 persen dari informasi itu lenyap. Dan sebulan kemudian, sekitar 80 persen informasi telah hilang.
Secara alamiah, lupa seringkali terjadi ketika ada banyak hal yang mesti dilakukan, sementara jumlah tugas dan hal yang harus diingat sangatlah banyak. Jadi ketika kita atau orang terdekat kita benar-benar telah berkomitmen untuk melakukan pemberdayaan diri, berkomitmen untuk merubah diri menjadi konstruktif, mungkin masalah tidak dilaksanakannya komitmen perubahan itu adalah karena lupa untuk dilakukan. Mulai dari komitmen untuk mengingat ulang tahun pasangan atau pernikahan, mengerjakan tugas, shalat tepat waktu, hingga melakukan perubahan berarti untuk pemberdayaan diri, semuanya bisa saja tertunda dan tidak terlaksana hanya karena benar-benar lupa.
Dan karena itu, cara mengatasi hambatan lupa adalah dengan membuat sistem pengingat. Riset menunjukkan bahwa pengingat yang tepat waktu, yang mengajak kita untuk melakukan sesuatu sebelum kita seharusnya melakukannya, bisa sangat efektif melawan lupa.
Sistem pengingat juga bisa berupa perencanaan yang menggunakan cantolan. Peter Gollwitzer menyebut cara ini sebagai “implementasi niat”. Cara membuatnya adalah menggunakan kalimat: “Ketika ….. terjadi, saya akan melakukan …..”. Misalnya, “Ketika saya mendapat kenaikan gaji, saya akan meningkatkan tabungan pensiun bulanan”.
Dalam tinjauan neurosains, cantolan akan menambahkan jalur saraf pada sesuatu yang akan diingat, sehingga memudahkan kita mengingat sesuatu itu. Ada isyarat yang kita buat saat melaksanakan niat berupa menaikkan nilai tabungan. Gollwitzer menunjukkan bahwa membuat rencana berbasis isyarat bisa sangat meningkatkan peluang untuk mencapai tujuan.
Ngomong-ngomong, Todd Rogers menggunakan teknik Gollwitzer dan menggunakannya untuk mengingatkan para pemilih untuk hadir di TPS. Jika sebelumnya, setap menjelang Pemilu para relawan dan tenaga sewaan sekadar menghubungi jutaan pemilih tetap melalui telepon, untuk mengingatkan mereka agar datang ke TPS, maka Todd menambahkan teknik Gollwitzer berupa isyarat tambahan. Membuat naskah panggilan telepon dengan ciri-ciri yang istimewa, dengan menganjurkan pemilih untuk menjelaskan secara spesifik bagaimana dan kapan mereka akan pergi ke TPS.
Dalam tiga hari sebelum Pemilu, para pemilih terdaftar ditelepon dan ditanyakan: 1) Jam berapa Anda berencana pergi ke TPS?, 2) Dari mana Anda akan berangkat?, 3) Apa yang Anda lakukan sebelum berangkat? Ketiga pertanyaan ini dipilih untuk menjadi isyarat tambahan terkait waktu, lokasi, dan kegiatan, agar ketiganya menjadi cantolan pengingat untuk ke TPS pada hari pemilihan.
Tanpa disadari oleh para pemilih, mereka diajak untuk merencanakan niat mereka ke TPS dengan menambahkan ketiga isyarat tadi, alih-alih hanya sekadar telepon ajakan saja. Hasilnya, metode ini telah meningkatkan kehadiran para pemilih yang ditelepon sebesar 90 persen. Dan ini sangat efektif bagi calon pemilih tunggal. Artinya di dalam rumah itu hanya dia yang merencanakan ke TPS. Bukan rumah yang di dalamnya ada banyak pemilih dan mereka juga punya perencanaan bersama sebelum ke TPS.
@pakarpemberdayaandiri











