Oleh: Syahril Syam *)
Setiap manusia sejatinya sedang menjalani perjalanan hidup yang dalam – perjalanan eksistensial, yaitu perjalanan untuk menjadi pribadi yang utuh, matang, dan dekat dengan kebenaran. Karena itu, tidak ada orang yang akan selamanya terjebak di kondisi jiwa yang buruk seperti nafs ammarah, kecuali jika ia menyerah dan membiarkan jiwanya membusuk tanpa usaha memperbaiki diri.
Sebaliknya, orang yang sudah mencapai ketenangan jiwa pun tidak otomatis akan tetap berada di sana, karena jika ia lalai atau sombong, jiwanya bisa jatuh kembali ke keadaan yang lebih rendah. Artinya, hidup ini bukan soal “punya” jiwa yang baik atau buruk secara tetap, tapi soal bagaimana kita terus mengarahkan, merawat, dan membimbing jiwa itu untuk naik ke tingkat yang paling tinggi.
Perjalanan ini menuntut kesadaran, usaha, dan ketekunan setiap hari. Kita tidak bisa pasif; kita perlu aktif menjaga dan mengarahkan hati agar tidak terseret oleh hawa nafsu, dan terus bergerak menuju kedamaian, kedewasaan spiritual, dan kedekatan dengan Sang Maha Sempurna.
Setelah seseorang keluar dari tahap nafs ammarah – jiwa yang dikuasai hawa nafsu dan keburukan – ia akan memasuki tingkat berikutnya yang disebut nafs lawwamah, atau jiwa yang suka mencela diri. Ini adalah tahap pertengahan dalam perjalanan batin manusia. Di sini, kesadaran moral mulai tumbuh; seseorang mulai merasa tidak nyaman setelah berbuat salah, muncul rasa bersalah, penyesalan, dan keinginan untuk memperbaiki diri. Jiwa dalam kondisi sedang berjuang – di satu sisi ingin mengikuti kebaikan dan suara hati, tapi di sisi lain masih ditarik oleh godaan hawa nafsu.
Karena itu, jiwa sering mengalami gejolak batin, merasa bersalah, dan banyak melakukan introspeksi. Tapi justru di sinilah tanda bahwa akal sehat dan fitrah murni dalam diri manusia mulai bangkit. Ia mulai peduli dengan benar dan salah. Namun, kesadaran ini masih rapuh dan bisa mudah goyah jika tidak terus diperkuat dengan pembelajaran, latihan batin, dan bimbingan spiritual. Jadi, nafs lawwamah adalah tahap penting dan penuh harapan, karena menunjukkan bahwa jiwa mulai sadar dan ingin berubah menjadi lebih baik. “Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela (menyesali dirinya sendiri) [lawwamah]” (QS 75:2).
Ketika seseorang berada pada tahap nafs lawwamah yang masih lemah, sebenarnya ada kesadaran dalam dirinya tentang mana yang benar dan mana yang salah. Artinya, akal sehat dan fitrah suci dalam dirinya belum mati sepenuhnya – ia masih bisa mendengar suara hati kecil yang menegur saat berbuat salah. Namun, sayangnya suara teguran itu belum cukup kuat untuk mengalahkan dorongan hawa nafsu, seperti syahwat, ambisi kekuasaan, atau keserakahan. Akibatnya, meski tahu bahwa tindakannya salah, ia tetap melakukannya karena tidak tahan dengan godaan.
Dalam kondisi ini, jiwanya sedang berada di medan pertarungan batin, tapi kekuatan hawa nafsu masih lebih besar dari kekuatan moral dan kesadaran spiritual. Ini adalah fase rapuh, tapi penting, karena menunjukkan bahwa masih ada cahaya di dalam dirinya yang bisa diperkuat – asalkan ia mau terus belajar, merenung, dan mencari jalan untuk memperkuat sisi kebaikan dalam dirinya.
Pada fase nafs lawwamah, seseorang sedang berada di tengah medan pertempuran batin yang sesungguhnya. Ini adalah masa ketika perjuangan melawan diri sendiri (mujahadah) berlangsung sangat aktif. Di sinilah cahaya dan kegelapan saling bertarung dalam hati.
Jiwa sudah tidak lagi tenang menerima kesalahan, tetapi juga belum cukup kuat untuk selalu menang atas godaan. Misalnya, seseorang tahu bahwa marah itu buruk dan ingin menahannya. Ia mencoba bersabar, menahan diri, tapi kadang masih terpancing dan akhirnya meledak juga. Setelah itu, ia menyesal, merasa bersalah, bahkan berdoa minta ampun dan berharap bisa lebih baik. Itulah ciri khas dari nafs lawwamah – jiwa yang mulai sadar, mulai ingin berubah, namun masih berjuang keras dan belum selalu berhasil. Tapi justru perjuangan inilah yang sangat berharga, karena menandakan bahwa jiwa sedang tumbuh dan bergerak naik menuju kedewasaan spiritual.
Inilah tahap ketika kita mulai menyadari bahwa beberapa tindakan yang dulu dianggap biasa, ternyata salah dan tidak diridhai oleh Sang Maha Sempurna. Misalnya, setelah bergosip atau berkata buruk tentang orang lain, muncul rasa bersalah yang menusuk hati. Dalam fase ini, kita mulai sering melakukan introspeksi – mengenali kesalahan, mengevaluasi niat dan sikap, dan merasa terdorong untuk memperbaiki diri.
Kita tidak hanya ingin berubah karena takut hukuman, tapi karena dalam hati tumbuh kesadaran bahwa kebenaran itu indah dan menyucikan jiwa adalah kebutuhan sejati. Perasaan ini juga membuat kita lebih mudah tersentuh saat mengingat dosa-dosa masa lalu. Kita mulai bertaubat, lebih sering berdoa, membaca Al-Qur’an, dan mencari ketenangan batin yang lebih dalam. Namun, iman di tahap ini masih belum stabil; kadang semangat ibadah tinggi, kadang lalai. Tapi bedanya dengan tahap sebelumnya, setiap kali kita terjatuh, selalu ada rasa sesal dan niat kuat untuk bangkit kembali. Inilah tanda bahwa jiwa kita sedang tumbuh, meski masih dalam proses naik-turun yang manusiawi.
Ketika nafs lawwamah masih lemah dan masih didominasi oleh nafs ammarah, maka hati kecil masih bisa menegur saat berbuat salah. Jadi meskipun seseorang tahu apa yang benar, itu tidak otomatis membuatnya melakukan hal yang benar, apalagi kalau jiwanya belum dibersihkan, nafsunya masih menguasai akalnya, dan belum ada usaha sungguh-sungguh untuk menundukkan hawa nafsu tersebut. Tanpa perjuangan batin yang sungguh-sungguh, pengetahuan saja tidak akan cukup untuk mengubah jiwa menjadi lebih baik atau membawa seseorang pada ketenangan yang sejati.
Seseorang bisa saja tahu bahwa suatu perbuatan itu salah, bahwa Sang Maha Sempurna tidak meridhainya, atau bahwa itu merugikan diri sendiri dan orang lain – tapi jika jiwa masih dikuasai oleh hawa nafsu dan tidak mau berjuang melawan dorongan itu, maka pengetahuan itu akan tinggal sebagai informasi, bukan sebagai kekuatan perubahan. Seperti orang yang tahu pentingnya menjaga kesehatan tapi tetap merokok atau makan berlebihan, begitu pula jiwa yang tahu kebenaran tapi tidak bergerak ke arah kebaikan akan tetap terjebak dalam kesalahan. Maka, agar jiwa benar-benar mengalami perubahan, dibutuhkan perjuangan batin yang konsisten untuk membersihkan diri, menundukkan nafsu, dan menumbuhkan kesadaran spiritual yang lebih tinggi.
@pakarpemberdayaandiri











