Siklus Stres dan Burnout

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Dalam buku “Burnout: The Secret to Unlocking the Stress Cycle” yang ditulis oleh Emily Nagoski, Ph.D dan Amelia Nagoski, DMA, burnout didefinisikan sebagai keadaan kelelahan fisik, emosional, dan mental yang terjadi akibat stres yang terus menerus tanpa penyelesaian. Namun, penting untuk disadari bahwa burnout bukan hanya hasil dari terlalu banyak pekerjaan atau tekanan, melainkan akibat dari siklus stres yang tidak pernah diselesaikan.

Burnout terjadi ketika seseorang tidak menyelesaikan siklus stres, yaitu respons tubuh terhadap stres yang tidak tuntas. Ketika seseorang terjebak dalam siklus stres yang tidak selesai, tubuh tetap berada dalam keadaan stres tinggi dan tidak punya kesempatan untuk kembali ke keadaan normal. Inilah yang menyebabkan kelelahan yang sangat intens, yang bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional dan psikologis.

Burnout bukan hanya tentang merasa lelah, tetapi tentang kehilangan energi dan motivasi, serta rasa kosong atau terputus dari diri sendiri. Selain itu, muncul perasaan tidak berdaya. Juga terjadi perubahan dalam sikap atau pandangan terhadap pekerjaan atau kehidupan, dimana burnout sering menyebabkan seseorang merasa kurang terhubung dengan pekerjaan, hubungan, atau aktivitas yang sebelumnya ia nikmati. Ketika tubuh tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan siklus stres melalui aktivitas fisik, sosial, atau psikologis, stres tersebut menjadi kronis, dan akhirnya mengarah ke burnout.

Semua dimulai ketika seseorang menghadapi situasi yang menekan atau membebani, seperti deadline yang ketat, masalah pekerjaan, atau hubungan yang sulit. Tubuhnya kemudian merespons dengan cara alami, melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Ini adalah respons tubuh untuk mempersiapkan seseorang menghadapi tantangan – dikenal dengan istilah “fight or flight” (melawan atau melarikan diri).

Namun, dalam kehidupan modern, seringkali kita tidak merespons dengan cara fisik, misalnya kita tidak benar-benar berlari atau beraksi secara fisik untuk mengatasi situasi tersebut. Karena tidak memberi tubuh kesempatan untuk menyelesaikan respons stres secara fisik (misalnya, dengan berolahraga atau melakukan aktivitas fisik lainnya), siklus stres ini terbuka dan tidak selesai. Yang terjadi selanjutnya adalah merasa cemas atau tertekan, tetapi di saat yang sama tidak melepaskan ketegangan itu melalui tindakan fisik atau sosial. Stres ini tetap ada, dan tubuh terperangkap dalam keadaan terjaga.

Begitu seseorang merasa stres, tubuhnya langsung bereaksi, dimana jantung mulai terasa berdebar-debar, napas menjadi lebih cepat, atau otot-ototnya menjadi tegang. Semua reaksi ini adalah bagian dari mekanisme tubuh untuk membantu kita menghadapi ancaman. Dalam situasi yang normal, kita akan menggunakan energi ini untuk bertindak – misalnya, berlari, berbicara, atau bahkan menyelesaikan tugas yang menekan.

Masalahnya adalah dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang seringkali tidak benar-benar “menyelesaikan” stres ini dengan cara yang tepat. Misalnya, ketika merasa stres karena pekerjaan menumpuk, tetapi tidak memberi tubuh kesempatan untuk bergerak atau mengendurkan otot yang tegang. Alih-alih bertindak secara fisik (misalnya berolahraga, berjalan, atau sekadar bergerak), banyak orang cenderung berdiam diri atau terus bekerja, yang berarti tubuhnya tetap dalam keadaan stres tanpa ada cara untuk melepaskannya.

Ketika siklus stres tidak pernah diselesaikan, tubuh dan pikiran terjebak dalam kondisi stres yang berkelanjutan. Stres ini kemudian menjadi kronis, karena tubuh terus merasakan beban fisik dan emosional yang tidak pernah mendapatkan penyelesaian yang cukup. Situasi ini membuat diri sering merasa cemas, tegang, atau tidak nyaman – terus menerus dalam keadaan siap menghadapi ancaman. Jika stres kronis ini berlangsung terlalu lama tanpa adanya pemulihan atau cara untuk menyelesaikan siklus stres, maka terjadilah burnout.

Burnout adalah hasil akhir dari siklus stres yang terus berlanjut tanpa penyelesaian, yang menyebabkan seseorang merasa kosong, tidak berenergi, dan bahkan kehilangan rasa tujuan hidup. Pada titik ini, tubuh menjadi terlalu lama berada dalam mode “siaga” tanpa diberi kesempatan untuk beristirahat atau pulih. Pikiran menjadi lelah, perasaan menjadi tertekan, dan kehilangan kemampuan untuk menikmati aktivitas yang sebelumnya menyenangkan. Burnout juga seringkali disertai perasaan frustrasi, kecemasan, dan bahkan depresi.

Aktivitas fisik seperti olahraga atau berjalan (bahkan melompat-lompat ringan) bisa membantu mengurangi ketegangan tubuh yang muncul akibat stres. Ini terjadi karena tubuh kita punya cara alami untuk mengatasi stres dan melepaskan ketegangan, dan aktivitas fisik memainkan peran penting dalam proses itu. Karena dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali tidak benar-benar “melawan” atau “melarikan diri” dari masalah stres. Tanpa ada tindakan fisik, tubuh tetap dalam kondisi terjaga dan ketegangan yang ditimbulkan oleh stres tetap ada tanpa penyelesaian. Ketika kita bergerak, tubuh kita diberi kesempatan untuk melepaskan ketegangan yang sudah menumpuk akibat stres. Aktivitas fisik ini membantu tubuh menyelesaikan siklus stres.

Peningkatan aliran darah dan pernapasan saat bergerak juga membantu tubuh menurunkan kadar hormon stres seperti adrenalin dan kortisol, sehingga kita merasa lebih santai. Selain itu, tubuh juga melepaskan endorfin, hormon yang dikenal sebagai “hormon kebahagiaan”, yang membantu memperbaiki mood dan memberikan rasa lega setelah stres. Dengan bergerak, tubuh kita kembali ke keadaan seimbang, yang disebut homeostasis. Ini adalah kondisi tubuh yang kembali normal setelah mengalami gangguan atau tekanan.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *