Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP *)
Secara biologis, manusia bisa memiliki fungsi yang tidak jauh berbeda dengan hewan. Hanya postur organ tubuh saja yang memiliki perbedaan, namun pada fungsi organ tubuh, hampir semuanya sama dengan hewan. Dan terdapat satu ciri khas pada manusia dan hewan, yang membedakannya dengan tumbuhan, yaitu kemampuan untuk bergerak/berpindah. Hal ini pulalah yang menjadi pembeda antara manusia dan hewan. Secara sederhana, dapat digambarkan dengan pertanyaan: kemana manusia akan bergerak? Proses gerak yang dimaksud, tentunya, tidak hanya pada berpindah tempat, karena hewan pun dapat berpindah tempat. Jadi, hanya ada satu pengertian sederhana untuk definisi gerak ini. Saya mendefinisikan gerak di sini dengan: PROSES MENJADI (BEING).
Hidup ini bukan hanya sekedar makan, minum, dan memiliki tempat tinggal. Namun, lebih dari itu, setiap manusia memiliki tujuan. Dan untuk menggapai tujuan, maka terjadilah “proses menjadi” atau gerak pada manusia. Seseorang ingin lulus PNS, maka ia harus “menjadi” cerdas dan berwawasan luas, agar dapat menjawab soal-soal yang diberikan.
Walhasil, keberadaan tujuan meniscayakan sebuah proses gerak, dan begitu pula sebaliknya, setiap melakukan proses gerak, maka akan memiliki tujuan. Namun, tak semua manusia bergerak. Berdasarkan penelitian, rata-rata pada umur 25 tahun kebanyakan manusia telah mati. Secara sederhana, orang mati berarti tidak bisa bergerak. Ini berarti, pada umur 25 tahun, kebanyakan manusia, tidak melakukan “proses menjadi” dan pada akhirnya kehilangan arah/tujuan. Inilah salah satu faktor, yang membuat manusia tidak merasakan kebahagiaan.
Oleh sebab itu, diperlukan momentum agar “proses menjadi” itu terus berlanjut. Dalam fisika, momentum dapat didefinisikan (secara sederhana) sebagai kekuatan penggerak. Dalam kehidupan nyata, kekuatan penggerak (momentum) ini dapat saya artikan sebagai: ALASAN. Dapat disederhanakan dengan pertanyaan berikut: apa alasan kita untuk melakukan sesuatu? Atau apa alasan kita untuk hidup? Atau apa alasan kita untuk menggapai tujuan-tujuan?
Kebanyakan orang (hanya) memiliki alasan yang bersifat materialistis. Hal tersebut tidaklah salah. Saya hanya ingin mengajak untuk menggali lebih dalam, dan menemukan alasan yang sangat kuat dibalik alasan-alasan di atas. Kekuatan penggerak (momentum) yang begitu kuat adalah: CINTA. Setelah kita memiliki cinta, lantas bagaimana memperlakukannya dalam kehidupan sehari-hari? Atau untuk apa kekuatan dahsyat tadi dilakukan?
Saat cinta hadir di hati, semua terlihat memiliki sisi positif. Kita menjadi optimis dan memiliki energi yang luar biasa. Energi untuk diberikan pada orang lain. Energi untuk berkreasi, berproduksi, bahkan energi untuk berkorban bagi orang yang kita cintai. Saat berhadapan dengan siapapun, dikala cinta menjadi kekuatan penggerak, kita beri apa yang mereka minta dengan senang hati. Kita lakukan apa yang mereka minta tanpa syarat. Tanpa menggugat, tanpa memikirkan apakah yang akan kita dapat sebagai imbalannya. Memberi cinta
akan mendapat cinta. Memberi hati akan mendapatkan yang sama.
Kekuatan “memberi” adalah kekuatan cinta, yang penuh ketulusan dan keikhlasan. Dengan melakukan hal ini, maka tanpa kita harapkan dan meminta sekalipun, maka “penerimaan” akan selalu kita dapatkan, karena “menerima” adalah konsekuensi dari “memberi”. Walhasil, alasan kuat (momentum) untuk bergerak (proses menjadi) adalah cinta. Dan cinta ini merupakan landasan dari “memberi”. Alasan kuat inilah yang pada akhirnya akan melahirkan komitmen untuk berbuat baik kepada makhluk dan alam semesta, yang pada gilirannya menjadikan kita bahagia.
@pakarpemberdayaandiri











