Oleh : Syahril Syam*)
Dulu sebelum menikah, perasaan ini begitu menggebu-gebu ingin selalu bertemu dengannya. Tidak sabar mata ini ingin dibuka agar bisa segera melihat wajahnya. Dan tidak ingin segera menutup mata di malam hari karena masih ingin selalu menatap wajahnya. HP menjadi begitu panas karena mesti melayani komunikasi dengannya hingga berjam-jam. Perhatian kita begitu detail sehingga jika ada yang sedikit lain dari biasanya kita pun segera merasa khawqtir dan cemas. Energi melimpah ruah sehingga seolah tak ada rasa capek untuk selalu menemaninya.
Namun disaat telah menikah sekian tahun lamanya. Perasaan ini sungguh berbeda melihat wajahnya. Buka mata dia lagi yang dilihat. Dan mau tutup mata pun di malam hari dia lagi yang terlihat. Sungguh membosankan. Daya baterai tidak lagi cepat habis karena komunikasi dengannya. Bahkan mungkn sehari tidak ada lagi komunikasi via HP. Wajahnya nampak lusuh karena capek, tapi cuek ini sungguh selalu muncul. Kesabaran pun telah habis dan tidak lagi sama seperti dulu saat menghadapi keluhannya.
Apa yang berbeda?
Perubahan ini tidak hanya terjadi kepada pasangan. Perubahan ini juga terjadi kepada anak. Sikap dan perilaku kita cenderung berbeda kepada anak saat ia masih lucu-lucunya dengan saat ia sudah terlalu banyak bertanya. Apa yang berbeda?
Sesungguhnya yang berbeda adalah pemaknaan kita terhadap pasangan, anak, dan kehidupan ini. Makna bukan sekadar kognitif. Makna adalah tentang mata hati. Saat hati kita memaknai pasangan bukan hanya sekadar fisik, maka sikap dan perilaku kita akan selalu penuh perhatian dan kasih. Jika hati kita memaknai bahwa anak adalah amanah, maka kita akan benar-benar sabar di setiap tahapan usianya.
Hidup adalah tentang ujian makna hati. Karena setiap makna, memiliki rasa yang berbeda di hati. Dan kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw bahwa hati mengetahui segala perkara, karena sesungguhnya ia adalah saksi yang tidak akan menerima suap.
@pakarpemberdayaandiri












