Ciptakan Trance Konstruktif

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Setiap hari, di setiap saat, kita sesungguhnya selalu tenggelam di kenyataan mental diri sendiri. Mulai dari bangun hingga tidur kembali, kita selalu akan larut dan tenggelam dengan berbagai hal yang kita rasakan secara otomatis.

Contoh nyata yang sering kita alami adalah ketika kita memiliki niat penting di keesokan harinya; berupa niat untuk keluar kota dan mengejar jadwal pesawat, ada rapat penting, mesti bertemu orang penting, menghadiri acara penting, atau niat penting apapun, maka seringkali di malam harinya kita sudah larut dan tenggelam memikirkan apa yang akan kita lakukan besok terkait niat penting tersebut. Saat bangun di keesokannya pun, segera saja kita larut dengan hal-hal yang akan kita lakukan agar niat tersebut terwujud.

Pola-pola ini karena begitu seringnya kita alami sehingga terjadi di mental kita secara otomatis. Artinya terkait apapun di kenyataan kehidupan, akan selalu membuat kita larut dan tenggelam di kenyataan mental kita yang terkait dengan segala hal yang akan kita lakukan di kenyataan hidup. Maka pada dasarnya kita selalu berada dalam kondisi trance sejak terbangun hingga tidur kembali.

Kita pada dasarnya kita selalu mengalami kondisi hipnosis (trance) saat memikirkan, larut, dan tenggelam akan sesuatu hal di kenyataan mental kita. Kita larut dengan berbagai dorongan perasaan kita untuk segera ke kamar mandi saat terbangun, untuk mencuci muka, untuk menggosok gigi, untuk mengambil sebatang rokok, untuk menyesap segelas kopi, untuk segera ke kantor, untuk segera bertemu seseorang, untuk segera ke pasar, untuk segera menyelesaikan tugas-tugas, dan untuk segala hal yang kita lakukan – baik secara otomatis maupun tidak – hingga tidur kembali.

Artinya ada begitu banyak hal di kenyataan hidup ini yang selalu menarik perhatian kita. Menarik perhatian kita untuk segera dilakukan, sehingga kita sibuk tenggelam di kenyataan mental kita dengan mengikuti berbagai dorongan perasaan tersebut agar tergerak melakukan berbagai hal di kehidupan nyata. Kebanyakan orang pada dasarnya telah dihipnosis oleh berbagai hal di kehidupan duniawi ini (kenyataan hidup). Dan karena seluruh perhatiannya hanya terfokus berbagai hal di kehidupan duniawi, maka secara mental ia pun semakin tenggelam ke dalam dorongan perasaannya yang terkait dengan kehidupan duniawi. Dengan kata lain, kenyataan mentalnya telah dipengaruhi sepenuhnya oleh kenyataan hidup. Dan kondisi ini membuat seseorang akan lebih mudah lelah jiwa dan tubuh.

Oleh sebab itu, kita mesti belajar untuk keluar dari berbagai tarikan duniawi dengan cara menciptakan kondisi trance yang konstruktif. Panggilan shalat sebanyak lima kali sehari, sesungguhnya merupakan cara ampuh agar kita keluar dari tarikan kehidupan nyata yang melelahkan jiwa dan kemudian menciptakan kondisi trance yang konstruktif yang menenangkan jiwa. Jika selama ini kita larut dan tenggelam (mengalami trance) dengan berbagai perasaan kita yang terkait dengan kehidupan duniawi, maka shalat adalah cara agar kita larut dan tenggelam (trance) dengan menghayati Nama-nama-Nya yang kita baca saat takbiratul ihram hingga salam.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *