Meyakini atau Tidak Meyakini Harapan?

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Harapan pada hakikatnya membuat kita menjadi kuat dalam menjalani kehidupan dengan beragam lika-likunya. Contoh yang paling sering terjadi adalah ketika seseorang diberi harapan berupa sejumlah nilai uang, maka ia akan cenderung menjadi termotivasi dan memilih menghadapi tantangan yang ada. Viktorl Frankl yang merasakan harapan di hatinya berupa ingin bertemu istrinya, tetap bertahan walau mengalami penyiksaan dan kerja paksa yang mengerikan di kamp konsentrasi. Frankl berkata, “Orang yang memiliki alasan dan harapan, akan kuat menjalani segala keadaan.”

Aaron Antonovsky pada tahun 1987 melakukan sebuah penelitian yang dilakukan terhadap para mantan pekerja paksa. Antonovsky menemukan beberapa orang di antara mereka, meskipun telah mengalami tekanan dan beban yang berat dalam kesehariannya, namun mereka tetap sehat secara fisik dan psikis. Mereka adalah orang-orang yang meyakini adanya harapan. Ada harapan yang begitu kuat tertancap di hati mereka, sehingga mereka rela menanggung semua beban derita saat menjadi pekerja paksa.

Islam mengajarkan kita untuk memiliki pandangan dunia yang benar. Artinya kita harus memiliki “kacamata” (pandangan dunia), yang melalui kacamata itu kita memandang kehidupan ini. Saat kita meyakini adanya Sang Maha Sempurna dan meyakini adanya harapan yang tak akan pernah diingkari oleh Sang Maha Sempurna, maka keyakinan akan harapan ini akan membuat kita tegar dalam menghadapi badai kehidupan.

Mereka adalah orang-orang yang ketika mendengar ada yang memberi kabar: “sekelompok musuh sedang berkumpul untuk menyerang dan memerangi kalian, maka takutlah akan mereka!” Justru iman mereka semakin bertambah dan berkata: “Cukuplah bagi kami Allah SWT sebagai Tuhan kami dan Ia adalah sebaik-baiknya penolong (QS 3:173).

Di tempat lain Al-Qur’an juga menegaskan bahwa para nabi dan orang-orang yang dekat dengan Allah SWT memiliki watak yang tegar dan tangguh. Dan juga mereka yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah”, lalu mereka bertahan dan bersabar, para malaikat Allah akan membantu mereka. Mereka bukan orang yang takut, dan juga tidak bersedih akan kesusahan (QS 41:30). Saat mereka tertimpa musibah, mereka mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” (sesungguhnya kami dari Allah SWT dan kepada-Nya lah kami kembali).

Keyakinan akan harapan dari Sang Maha Sempurna bahwa akan memberikan ganti dan balasan di dunia dan akhirat, membuat kita tetap kuat dan bersabar menjalani hidup. Namun bagi orang-orang materialis dan tidak memiliki keyakinan yang kuat akan harapan dari Sang Maha Sempurna, mereka tidak mempercayai adanya balasan. Oleh karena itu para pemburu dunia lebih sering mengalami tekanan jiwa dan keputus-asaan dan betapa banyak di antara mereka yang sampai berani bunuh diri.

Jadi, dalam masalah menentukan tujuan dan mencari makna, dapat dikatakan bahwa jika kita meyakini adanya harapan dari Sang Maha Sempurna, tidak akan berhadapan dengan jalan buntu dalam hidup. Kita akan menjadi lebih fleksibel dalam setiap keadaan, karena menganggap kehidupan di dunia ini hanya sebatas pembuka untuk kehidupan di surga yang penuh keridhaan-Nya.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *