Oleh: Syahril Syam *)
Kebiasaan sabar akan mudah tercipta jika kita menghayati betapa Maha Pengasih Sang Maha Sempurna. Sehingga akhirnya kita akan mencapai derajat sabar, yang tentu saja berbeda levelnya dengan kebiasaan mengumbar marah. Itulah mungkin sehingga Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw berkata, “Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan kesabaranku.”
Saat kita menikmati sepotong kue dan merasakan betapa nikmatnya kue tersebut, maka saat itu kita tenggelam dalam proses menghayati sepotong kue. Kita mungkin berkata di dalam hati bahwa betapa lezatnya kue ini. Ada perasaan yang bergejolak berupa perasaan ingin nambah lagi. Hal yang serupa juga bisa terjadi pada seseorang ketika menghayati betapa kecutnya buah jeruk. Ia pun tenggelam ke dalam proses menghayati. Bedanya adalah ia menghayati buah jeruk yang rasanya kecut. Ia tanpa sadar mengumpat dalam hati. Dan ada perasaan berupa rasa ingin melempar jeruk kecut tersebut.
Setiap saat kita menghayati sesuatu, entah itu berupa hal yang baik atau buruk, enak atau hambar, bahagia atau derita. Bisa berupa makanan dan minuman, benda dan pemandangan, hewan dan tumbuhan, sesama manusia, hingga Nama-nama Sang Maha Sempurna. Proses menghayati melibatkan otak dan tubuh kita. Semua sel mempunyai situs reseptor (molekul protein yang menerima sinyal kimia dari luar sel) di permukaan luarnya, yang menerima informasi dari luar sel. Jika ada kecocokan kimiawi, frekuensi, dan muatan listrik di antara situs reseptor dan sinyal yang masuk, sel akan “tergugah” untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu.
Ada tiga jenis zat kimia yang menjadi sebab pada otak sehingga berakibat pada aktivitas tubuh, yaitu neurotransmiter (kurir kimiawi yang tugas utamanya mengirimkan sinyal-sinyal agar otak dan sistem saraf berkomunikasi), neuropeptida (kurir kimiawi yang melepaskan pesan kimiawi ke tubuh dengan instruksi-instruksi spesifik), dan hormon (yang membuat kita merasakan perasaan tertentu). Jadi neurotransmiter adalah kurir kimiawi dari otak dan pikiran, neuropeptida sebagai pemberi sinyal kimiawi yang berfungsi sebagai jembatan antara otak dan tubuh untuk menciptakan perasaan yang sesuai dengan cara kita berpikir, dan hormon adalah zat kimia yang berhubungan dengan perasaan-perasaan dalam tubuh.
Jika kita mulai berpikir bahwa kue yang kita makan sungguh lezat, neurotransmiter akan memulai proses berpikir dalam otak untuk memproduksi level pikiran tertentu. Neuropeptida kita akan secara kimiawi memberikan sinyal pada tubuh dengan cara yang spesifik, dan kita mulai akan merasa nyaman dan nikmat. Air liur akan diproduksi dalam jumlah yang banyak. Hadir perasaan yang membuat kita merasa senang untuk menambah beberapa potong kue lagi.
Dengan kata lain, proses menghayati adalah proses berpikir dan merasa, proses interaksi antara otak dan tubuh. Dan akhirnya menjadi merasakan dan berpikir. Pengulangan siklus berpikir dan merasa dan kemudian merasakan dan berpikir adalah proses pengkondisian tubuh yang diberikan oleh pikiran sadar. Saat tubuh menjadi pikiran, maka saat itu disebut “kebiasaan”. Dengan kata lain, “kebiasaan” adalah ketika tubuh kita telah menjadi pikiran (bergerak otomatis/berpikir sendiri melalui kontrol perasaan yang sudah rutin dirasakan).
Ketika kita memproses pikiran yang sama berulang kali setiap hari, pikiran yang diciptakan dari stimulasi yang sama dari jaringan saraf yang sama akan menjadi otomatis, tidak sadar, rutin, akrab, umum, dan lebih terbiasa. Kita mulai terbiasa dan otomatis berpikir dan merasa tentang diri kita dengan cara yang sama. Artinya, proses menghayati yang dilakukan selama bertahun-tahun akan menciptakan jati diri kita. Menghayati menciptakan “siapa saya?”.
Menghayati juga menciptakan level diri (jiwa) kita. Artinya apa yang kita hayati menentukan derajat diri kita. Saat seseorang lebih sering menghayati segala sesuatu yang ada di dunia ini, dan kemudian melahirkan kebiasaan yang mudah marah, kecewa, sakit hati, jengkel, dan berbagai kebiasaan destruktif, atau melahirkan kebiasaan untuk menikmati segala kenikmatan dunia, maka level dirinya akan berbeda ketika yang dihayati adalah Kebesaran, Keagungan, Keindahan dari Sang Maha Sempurna.
Kebiasaan sabar akan mudah tercipta jika kita menghayati betapa Maha Pengasih Sang Maha Sempurna. Sehingga akhirnya kita akan mencapai derajat sabar, yang tentu saja berbeda levelnya dengan kebiasaan mengumbar marah. Itulah mungkin sehingga Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw berkata, “Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan kesabaranku.”
@pakarpemberdayaandiri











