Program Mental Block

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam *)

Menurut Colin Rose, seorang pakar Accelerated Learning, “Dari semua yang kami temukan dalam riset kami, mungkin yang paling penting adalah pernyataan ini: citra diri kita mungkin adalah unsur terpenting dalam menentukan apakah kita adalah pelajar yang baik – atau, jujur saja, apakah kita baik di bidang yang lain”. Hal yang serupa juga dikatakan oleh Gordon Dryden dan Jeannette Vos, penulis buku Learning Revolution, “Dalam setiap sistem yang terbukti berhasil – yang kami pelajari di seluruh dunia – citra diri ternyata lebih penting daripada materi pelajaran”.

Dalam banyak kasus, orang tua, dalam memberikan reaksi kepada anaknya (yang juga pernah sebagian besar dari kita rasakan dulu dan mungkin hingga sekarang atau reaksi kita sekarang terhadap anak sendiri), lebih mendominasi reaksi yang bersifat negatif dibandingkan yang bersifat positif. Perbandingannya adalah 15:1, berikut ini sebagai contoh: “Kamu anak nakal!”, “Jangan berisik!”, “Jangan pegang-pegang!”, “Jangan lari-lari!”, “Jangan bermain-main dengan makananmu!”, “Kamu payah!”, “Dasar idiot!”, “Bodoh!”, “Hentikan suara yang menyebalkan itu!”, “Tukang ganggu!”, “Berapa kali Ibu/Ayah harus memberitahumu sampai kamu memasukkannya ke dalam otakmu…?”, “Jangan gugup!”, “Astaga, duduklah yang manis!”, “Kamu benar-benar menjengkelkan!”, “Tidak ada yang tertarik dengan apa yang kamu katakan!”. Semua reaksi itu berbanding satu dengan reaksi positif berikut: “Ayah dan Ibu sayang kamu!”.

Artinya, kebanyakan anak lebih sering melihat, mendengar, dan merasakan respon negatif dibandingkan respon positif dari orang tua, dan juga siapapun yang ada di sekitarnya. Dan kasus-kasus seperti ini seringkali terjadi pada hampir setiap anak, bahkan pada para orang tua saat mereka kecil dulu. Jadi, jangan heran kalau pola-pola pengasuhan negatif akan berlanjut pada generasi berikutnya, karena terlalu seringnya dan begitu lamanya program negatif ini bercokol di otak.

Jika informasi yang banyak masuk bersifat positif, maka tidak ada masalah. Namun, sebaliknya, jika yang banyak masuk ke otak anak adalah informasi yang negatif, maka disinilah timbul masalah. Dengan kata lain, seringnya informasi negatif yang masuk akan melahirkan banyak kemandekan atas apa yang diinginkan. Informasi yang negatif itu sering disebut dengan mental block.

Konsep diri berbicara tentang bagaimana kita mengamati diri kita sendiri, bagaimana gambaran dan penilaian terhadap diri kita sendiri. Secara sederhana, konsep diri dapat didefinisikan sebagai pandangan dan perasaan kita tentang diri kita; dan persepsi tentang diri kita ini bersifat psikologi, sosial, dan fisis.

Konsep diri bukan hanya sekadar gambaran deskriptif, tetapi juga penilaian kita tentang diri kita sendiri. Jadi, konsep diri meliputi apa yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan tentang diri kita dan apa yang kita harapkan pada diri kita sendiri. Namun jika respon yang diterima semasa kecil lebih banyak bersifat negatif, maka jangan harap seorang anak bisa memiliki konsep diri yang positif.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *