Oleh: Syahril Syam *)
Seorang mahasiswi cantik sedang asyik mengerjakan tugasnya seusai kuliah di ruang kelas. Tiba-tiba datang seorang pemuda yang selama ini mengejarnya dan berdiri di sampingnya sambil mengumbar senyum. Si gadis yang semenjak awal tidak menyukai pemuda itu merasa jengkel karena si pemuda masih terus berdiri di sampingnya. Hingga akhirnya si gadis marah dan berkata bahwa ia mengganggu dirinya yang sementara belajar dan menyelesaikan tugas. Pemuda itu pun pergi dan si gadis kembali melanjutkan menyelesaikan tugas kuliahnya.
Tidak berselang lama, ada seseorang yang mencolek pundaknya dari arah belakang. Si gadis yang masih merasa bahwa ini adalah perbuatan pemuda tadi, tidak menghiraukan colekan itu dan terus menyelesaikan tugasnya. Namun karena colekan itu terus menghampiri pundaknya, si gadis terpaksa membalikkan badan dan siap-siap menumpahkan seluruh kemarahannya. Saat kemarahannya sudah berada di ujung lidahnya, tiba-tiba matanya membelalak dan terdiam terpaku. Ternyata yang mencolek pundaknya adalah idola dari si gadis ini. Sang idola berkata apakah ia mengganggu dirinya, namun si gadis buru-buru berkata dengan perasaan gugup bahwa ia tidak merasa terganggu dan bahkan tidak dalam keadaan sibuk.
Yang terjadi pada mahasiswi tersebut adalah rotasi emosional. Kita pun pernah mengalami rotasi emosional. Dan karena emosi yang berbeda melahirkan sikap dan tindakan yang berbeda, maka saat kita mengalami rotasi emosional, sikap dan tindakan kita pun akan berbeda dari yang sebelumnya. Makanya jangan heran, saat cinta belum hadir, hidup terasa membosankan. Namun begitu perasaan bosan berganti dengan perasaan cinta, maka wajar orang-orang berkata bahwa tahi kambing bisa terasa makan coklat. Saat jatuh cinta, semua terasa ringan dan semua adalah demi sang kekasih. Namun begitu terjadi rotasi cinta dengan perasaan marah, jengkel, dan sakit hati, maka dunia terasa kelam; pasangan pun terasa hambar.
Itulah sebabnya dibutuhkan kesadaran diri. Kesadaran berarti kita terbangun, kita terjaga, dan karenanya kita mengambil keputusan dengan bijak dan akal sehat. Kita bersikap, bertindak, dan melangkah bukan lagi karena rotasi perasaan, melainkan karena pilihan sadar yang kita putuskan sendiri. Karena rotasi perasaan seringkali dipengaruhi oleh segala hal di luar diri, maka seringkali seseorang bersikap dan bertindak bukan karena pilihan sadarnya, tetapi hanya sekadar mengikuti arus kehidupan. Mungkin ini sebabnya sehingga awal perjalanan adalah kesadaran. Untuk pertama kalinya kita terjaga dan terbangun dan memahami bahwa ada jalan yang mesti kita pilih dalam hidup ini.
Makanya setiap kali kesadaran kita meningkat, saat itu pula kita kembali melangkah di jalan yang baru. Hanya saja jalannya lebih tinggi derajatnya daripada yang sebelumnya. Dan rotasi perasaan akhirnya tidak lagi memengaruhi pilihan hidup yang kita ambil, karena kita telah terjaga dari lelapnya arus kehidupan. Rotasi perasaan justru menjadi alat bagi kita untuk merotasikan perasaan kita sendiri sesuai kehendak bebas yang kita miliki. Dan bukan lagi membiarkan terjadi rotasi karena pengaruh segala hal di luar diri kita. Maka dengarlah nasehat Tong Nian, seorang mahasiswi jenius yang hampir menyelesaikan kuliah S2-nya, disaat teman seusianya masih kuliah S1: “Kenapa Bumi berputar? Karena Bumi tak ingin semua orang bertahan di tempatnya. Entah kita bahagia atau sedih, Bumi ingin semua orang bergerak maju. Pengalaman masa lalu hanya menjadikan kita lebih baik.”
@pakarpemberdayaandiri











