Oleh: Syahril Syam *)
Pada 1997, U.S. News and World Report melakukan suatu survei yang menanyakan siapa yang kemungkinan besar akan masuk surga ketika meninggal. Menarik untuk dicermati bahwa Presiden Bill Clinton mendapat nilai 53%, Michael Jordan 65%, dan Bunda Teresa mendapat nilai 79%. Kita mungkin berpikir bahwa Bunda Teresa-lah yang mendapat nilai yang paling tinggi.
Namun jangan salah mengira, ternyata Bunda Terasa bukanlah yang tertinggi. Lalu siapa yang dianggap memiliki kemungkinan untuk masuk surga dan nilainya 87%? Jawabannya adalah “Saya”. Dari mereka yang disurvei, kebanyakan dari mereka justru menganggap dirinya sendiri yang paling besar kemungkinannya untuk masuk surga.
Dalam sebuah kajian tentang hubungan antara seberapa baik seseorang menghargai, menghormati, dan menerima dirinya sendiri dengan berapa banyak uang yang dihasilkan, menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan diri sama pentingnya dengan tingkat kepintaran. Artinya semakin percaya diri, maka semakin cerdas dan semakin besar kemungkinan uang yang dihasilkan. Percaya diri bisa menciptakan perbedaan antara pemenang atau pecundang. Dengan kata lain, orang yang sukses adalah orang yang percaya diri. Dan semakin sukses, seringkali juga semakin percaya diri. Ada korelasi antara cara kita memandang diri sendiri dengan tingkat kesuksesan.
Kajian tentang percaya diri juga menunjukkan bahwa kecantikan dan ketampanan berkorelasi dengan penghasilan. Perempuan cantik mendatangkan 4% lebih banyak uang dan laki-laki tampan mendapat 3% tambahan. Mungkin terdengar sedikit, tetapi penambahan itu setara dengan 230.000 dolar pada satu masa karir. Kecantikan dan ketampanan membuat seseorang menjadi lebih percaya diri. Dan rasa percaya diri yang tinggi ini menjadi salah satu faktor penentu penambahan penghasilan.
Percaya diri juga membuat kinerja kita semakin meningkat. Penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan diri yang berlebihan akan meningkatkan produktivitas dan membuat kita lebih memilih tugas-tugas yang lebih menantang. Dan ternyata orang yang rasa percaya dirinya berlebihan lebih disukai untuk dinaikkan jabatannya dibandingkan orang-orang yang sebenarnya lebih banyak melakukan pencapaian.
Marshall Goldsmith – salah satu pemikir bisnis terkemuka – berkata, “Orang-orang yang sukses adalah orang yang “delusional” secara positif. Mereka cenderung memandang riwayat masa lalunya sebagai pengesahan dari dirinya di saat ini dan apa yang telah mereka lakukan. Pemaknaan positif terhadap masa lalu ini menjurus ke peningkatan optimisme terhadap masa depan dan meningkatkan kemungkinan sukses pada masa depan.”
Delusi sebenarnya penyakit mental, karena memiliki kepercayaan yang salah, tidak sesuai dengan kenyataan, dan tidak berdasar pada bukti yang objektif. Delusi sering kali merupakan gejala dari gangguan mental tertentu, seperti skizofrenia, gangguan delusi, atau gangguan bipolar dengan episode psikotik. Namun ketika berkaitan dengan percaya diri, maka delusi positif yang membuat kita menjadi percaya diri secara berlebihan, ternyata menjadi faktor penentu kesuksesan. Karena percaya diri memberi perasaan kendali pada kita. Bahkan percaya diri bahwa kita baik-baik saja (walau mungkin lagi kurang sehat atau berada dalam kondisi sulit) memberi pengaruh terhadap penurunan stres, bias diri yang positif, dan peningkatan toleransi terhadap nyeri, dan juga bisa meningkatkan motivasi dan kinerja. Lagi-lagi Marshall Goldsmith berkata, “Orang-orang yang percaya bahwa dirinya bisa sukses akan melihat peluang, sementara orang lain melihatnya sebagai ancaman. Mereka tidak takut pada ketidakpastian atau ambiguitas, mereka merangkulnya.
Orang yang sukses memiliki “lokus pengendalian internal” yang tinggi. Dengan kata lain, mereka tidak merasa menjadi korban dari nasib.” Mungkin itu sebabnya – berdasarkan survei di atas – banyak orang merasa dirimya lebih besar kemungkinannya masuk surga dibandingkan yang lain. Tapi sepertinya pada konteks ini, tidak ada peran yang signifikan dari percaya diri dengan kemungkinan masuk surga. Entahlah!
@pakarpemberdayaandiri











