Oleh: Syahril Syam *)
Semenjak semakin dikenalnya Artificial Intelligence (AI), banyak yang juga mempertanyakan mana yang lebih pintar, apakah AI atau manusia. Namun pertanyaan ini sebenarnya sudah cukup lama dipertanyakan. AI sendiri mengalami perkembangan yang lebih signifikan pada abad ke-20.
Pada tahun 1950, Alan Turing mengajukan pertanyaan apakah mesin dapat berpikir. Dia mengembangkan tes Turing sebagai cara untuk mengevaluasi kecerdasan mesin. Di tahun 1956, Newell, Shaw, dan Simon menciptakan program komputer pertama yang disebut Logic Theorist. Program ini mampu menyelesaikan masalah matematika sederhana. Dan pada musim panas tahun 1956, konferensi yang dipimpin oleh John McCarthy, Marvin Minsky, Nathaniel Rochester, dan Claude Shannon di Dartmouth College dianggap sebagai titik awal dari disiplin kecerdasan buatan modern.
AI sendiri adalah tentang mesin atau program komputer yang dapat melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia. Ini mencakup berbagai teknik seperti machine learning, pengolahan bahasa alami, penglihatan komputer, dan pemodelan pengetahuan untuk menciptakan sistem yang dapat belajar, mengasumsikan, menggeneralisasi, dan menyelesaikan masalah. Dengan kata lain, AI dibuat dengan meniru cara kerja pikiran manusia. Maka wajar kemudian dipertanyakan tentang mana yang lebih pintar di antara keduanya, apakah yang diciptakan (AI) ataukah si pencipta (manusia)?
Pada tahun 1997, Gary Kasparov – pecatur legendaris dunia – bertanding melawan AI, sebuah komputer super IBM yang diberi nama Deep Blue. Setahun sebelumnya Kasparov memenangkan pertandingan melawan Deep Blue dengan hanya kalah satu kali dalam pertandingan enam babak. Dan kali ini, para ahli IBM menyempurnakan Deep Blue dengan belajar dari kekalahan sebelumnya. AI yang bernama Deep Blue menjadi semakin pintar dalam bermain catur. Deep Blue menggunakan kecerdasan buatan dan kekuatan komputasi untuk menganalisis posisi catur dengan cepat dan menghasilkan langkah-langkah terbaik, sementara Kasparov mengandalkan pengalaman, intuisi, dan kecerdasan manusia.
Apa yang terjadi dan siapa pemenangnya? Kasparov akhirnya kalah dari AI. Namun apakah ini menjadi bukti bahwa AI lebih pintar dibandingkan manusia? Mari kita lihat lebih jeluk jalannya pertandingan antara Kasparov melawan AI. Pada babak pertama, pada langkah keempat puluh empat Deep Blue menggeser salah satu bidaknya dari D5 ke D1. Dan hal ini membuat Kasparov merasa heran, kenapa Deep Blue melakukan hal itu. Biasanya Kasparov akan menatap mata lawan dan mencoba membacanya: Apakah ia hanya menggertak? Namun kali ini lawannya adalah sebuah mesin yang bahkan tidak bisa berkedip. Benak Kasparov berkali-kali menganalisanya. Mungkinkah mesin itu melakukan kesalahan ataukah itu memang adalah langkah yang tidak pernah bisa dibaca oleh Kasparov?
Bagaimana jika ternyata mesin jauh lebih pintar dari yang ia perkirakan? Mungkinkah mesin itu melakukan suatu strategi yang tidak bisa dibaca oleh Kasparov? Karena seharusnya bidak itu tak boleh dipindahkan seperti itu, namun Deep Blue justru melakukannya. Kasparov merasa gelisah. Ia pun semakin kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Rasa percaya dirinya pun semakin berkurang. Dan dengan emosi seperti inilah yang membuat Kasparov akhirnya kalah dari AI.
Seperti kata Antonio Damasio, tanpa emosi maka tak ada keputusan dan tindakan yang bisa di ambil oleh seorang manusia. Tindakan kita sesungguhnya lahir dari suatu keyakinan yang terasosiasi dengan emosi tertentu. Emosi kita juga memainkan peran dalam memberikan “nilai” pada apa yang kita yakini. Segala sesuatu yang bermakna pada diri kita, maka sesungguhnya telah terjadi peran emosi dalam pemberian “nilai” terhadap apa yang kita persepsikan.
Gary Kasparov kalah dari AI bukan karena AI lebih pintar bermain catur dibandingkan dirinya yang merupakan seorang Grandmaster catur. Dan bukan juga karena strategi AI lebih jitu dibandingkan dirinya. Karena ternyata gerakan aneh dari Deep Blue bukan disebabkan oleh kesengajaan sistem logika mesin, melainkan oleh virus peranti lunak yang mengakibatkan suatu kesalahan di dalam pengodean. Dan IBM telah melakukan tindakan pengamanan untuk hal seperti itu. Dan untuk mencegah menghabiskan terlalu banyak waktu selama periode “cegukan” ini, Deep Blue akan melakukan suatu gerakan acak. Jadi ini hanya sekadar gerakan acak dari sebuah mesin.
Namun sistem emosi Kasparov justru memandangnya sebagai sebuah strategi jitu yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Maka inilah yang membedakan kita sebagai manusia dengan mesin, yaitu emosi. Karena dengan emosi kita bisa merasa menderita, tapi dengan emosi yang sama, kita pun bisa merasa bahagia. Bisa menjadi terpuruk dan destruktif atau menjadi berdaya dan konstruktif. Semua diawali dengan apa yang kita rasakan tentang diri kita sendiri.
@pakarpemberdayaandiri











