Oleh: Syahril Syam *)
Bagi setiap pejalan spiritual, hal paling pertama atau stasiun pertama yang mesti dilewati adalah yaqazah, yang diartikan sebagai bangun. Yakni kita mesti terbangun dan sadar atas kelalaian diri serta menyingkap tabir-tabir kegelapan yang telah menyeret diri kita jauh dari Sang Maha Sempurna.
Kelalaian adalah sebab seluruh hijab/tirai. Dan karena kelalaian dan kelupaan menjadi sebab seluruh hijab-hijab kegelapan, maka mengingat Sang Maha Sempurna merupakan sebab dan pangkal tersingkapnya seluruh tirai hijab-hijab kegelapan. Dalam hal ini Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw berkata, “Yaqazah adalah cahaya dan kelalaian merupakan suatu tipuan.”
Di otak kita ada CEO yang bertugas sebagai fungsi kesadaran diri. CEO ini letaknya pada otak bagian depan kepala, tepatnya pada bagian belakang dahi. CEO otak kita mampu melakukan metakognisi, yaitu kesadaran dan pemahaman tentang proses kognitif atau berpikir kita sendiri. Secara sederhana, metakognisi mengacu pada kemampuan untuk berpikir tentang cara kita berpikir dan belajar. Dengan kata lain, CEO otak kita berfungsi sebagai yaqazah pada diri kita dalam melihat diri kita sendiri. Artinya, melalui CEO otak, kita sesungguhnya mampu untuk mengubah kebiasaan buruk kita, karena penelitian neurosains menunjukkan adanya kemampuan ini pada diri kita.
Kebanyakan manusia tidak bisa mengubah kebiasaan buruknya karena seringkali terlena oleh candu emosionalnya. Kebanyakan manusia cenderung bereaksi secara otomatis saat berhadapan dengan orang, benda, tempat, waktu, atau peristiwa. Secara emosional bereaksi atas berbagai stimulus eksternal. Yang terjadi akhirnya adalah rutinitas dan candu emosional ini menjadi sebab manusia seringkali berada dalam kelalaian dan lupa akan dirinya sendiri. Candu emosionalnya membuat ia menjadi manusia robot dan berjalan di kehidupan ini seperti pejalan tidur.
Karena larut dalam kebiasaan rutin yang bersifat candu, sehingga tidak menyadari bahwa ada banyak yang mesti diubah pada diri sendiri. Oleh sebab itu, dengan kesadaran (yaqazah), kita menyadari dan memahami kebiasaan buruk yang ingin diubah dan mengetahui bagaimana kebiasaan buruk terbentuk dan dipertahankan selama ini. Kesadaran kita ditentukan oleh apa yang kita pilih untuk disetel dan apa pun yang dapat kita pelajari sebagai pengetahuan dan kebiasaan baru. Namun, ada perbedaan besar antara otak yang hanya memproses informasi dengan kesadaran kita akan informasi itu. Meskipun otak memproses 400 miliar bit data setiap detik, CEO otak memungkinkan kita untuk secara aktif memilih data apa yang kita pilih untuk menempatkan kesadaran kita.
Dalam konteks mengubah kebiasaan buruk, maka langkah pertama adalah menyadari terlebih dahulu kebiasaan buruk apa yang ingin kita ubah. Dan dalam konteks perjalanan menuju Sang Maha Sempurna, maka dengan yaqazah kita bergerak kembali menuju kepada Sang Maha Sempurna dengan pertama-tama kita harus mengenali (menyadari) Sang Maha Sempurna sebagai kesempurnaan mutlak dan juga mengenali diri kita sendiri sebagai maujud fakir yang senantiasa butuh dan bergantung kepada-Nya.
Dari sisi ini, dengan perhatian kepada kesempurnaan mutlak dan kekurangan serta kefakiran diri, kita akan mulai tergerak untuk berusaha mendekatkan diri kita kepada Sang Maha Sempurna untuk menghilangkan kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita. Pola yang sama juga berlaku pada kebiasaan buruk yang ingin kta ubah, dimana dengan fokus pada perasaan konstruktif, maka kita akan semakin menghilangkan perasaan-perasaan destruktif sebagai pencipta kebiasaan buruk pada diri kita.
@pakarpemberdayaandiri











