Oleh: Syahril Syam *)
Beverly Funderburk adalah seorang dosen dan peneliti di Oklahoma State University Center for Health Sciences. Funderburk pernah melakukan penelitian terhadap 110 orangtua yang telah melakukan kekerasan kepada anak-anak mereka. Sebanyak 73% di antara mereka telah menyakiti anak-anak mereka. Mulai dari menampar hingga meninju anak sampai menderita cedera ringan. Dan sebanyak 20% telah melakukan kekerasan yang lebih parah lagi, karena membuat anaknya mengalami patah tulang atau pendarahan parah.
Yang lebih ironis lagi, para orangtua tersebut samasekali tidak merasa bersalah, dan malah menyalahkan anak-anak mereka atas tindakan kekerasan yang mereka lakukan. Untuk membenarkan tindakan kekerasan yang dilakukan, mereka akan berkata, “Saya harus mendisiplinkan anak saya dengan cara begini karena mereka begitu nakal dan tidak mau mendengarkan.” Sepertinya alasan serupa juga disampaikan oleh hampir semua orangtua untuk membenarkan mereka melakukan tindak kekerasan kepada anak-anaknya. Para orangtua yang seperti ini percaya bahwa mereka kebetulan mendapatkan “anak yang nakal”, atau “anak yang bandel”. Dan mereka percaya bahwa kekerasan adalah satu-satunya cara yang dapat mereka tempuh untuk membuat anak-anak mereka patuh.
Funderburk bersama timnya memiliki misi untuk mengubah para orangtua ini atas kebiasaan mereka melakukan tindak kekerasan terhadap anaknya. Sungguh suatu misi yang sangat sulit mengingat betapa kuatnya kepercayaan para orangtua tersebut terhadap anak-anaknya bahwa anak mereka nakal dan mesti diberi kekerasan agar patuh pada perintah. Funderburk kemudian mempraktekkan terapi interaksi orangtua-anak atau lebih dikenal dengan Parent-Child Interaction Therapy (PCIT), yaitu sebuah pendekatan terapi berbasis bukti yang dirancang untuk meningkatkan hubungan antara orangtua dan anak serta mengatasi perilaku anak yang bermasalah.
Para orangtua yang mengikuti penelitian ini, diberi tugas berupa interaksi emosional dengan anak. Mereka diminta untuk bermain dengan anak selama 5 menit sehari, dengan memberikan perhatian penuh 100% kepada anak. Mereka dilarang menjawab telepon dan tidak melakukan aktivitas apapun, kecuali hanya berinteraksi dengan anak. Selain itu mereka juga diminta untuk tidak mengajari anak-anak mereka, kecuali hanya benar-benar menikmati kebersamaan bersama anak. Bisa dibayangkan betapa sulitnya melakukan hal itu walau hanya berdurasi 5 menit. Para orangtua sepertinya harus menahan rasa marah, jengkel, dan kesal mereka, juga menahan tangan mereka (agar tidak memukul) selama interaksi emosional dengan anak.
Dan ternyata para orangtua yang berada dalam penilitian itu juga merasa sedikit keberatan. Alasannya adalah mereka merasa bahwa selalu memberikan setiap menit kepada anaknya, tapi toh anaknya tetap bandel. Jadi berinteraksi selama 5 menit menurut mereka tidak akan membuahkan hasil. Namun akhirnya para orangtua tersebut bersedia melakukan interaksi emosional dengan anaknya dan mengikuti aturan yang tadi telah ditetapkan. Jadi anak bermain dan orangtua menemani, dan waktu 5 menit itu terasa sangat lama bagi para orangtua. Apalagi para orangtua diminta agar anaknya yang memimpin acara bermain. Orangtua dilarang untuk memberi perintah dan mencela.
Dalam penelitian ini, Funderburk membagi para orangtua ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama melakukan terapi interaksi emosional dengan metode PCIT sebanyak 12 sesi. Sedangkan kelompok kedua tidak mengikuti terapi interaksi PCIT, tetapi mengikuti terapi pengelolaan kemarahan yang juga sebanyak 12 sesi, untuk membantu mereka mengendalikan amarah. Setelah kedua kelompok mengikuti semua sesi terapinya, mereka tetap dipantau selama tiga tahun. Dan setelah melewati masa tiga tahun, 60% dari kelompok kedua yang mengikuti terapi pengendalian amarah, masih melakukan lagi kekerasan kepada anaknya.
Sedangkan kelompok pertama yang mengikuti terapi interaksi emosional PCIT, hanya 20% yang kembali melakukan kekerasan pada anaknya. Walau terapi interaksi emosional ala PCIT tidak menghilangkan masalah samasekali, namun bisa diambil pelajaran bahwa ketika orangtua berhasil mengambil hati anaknya dengan cara membangun hubungan emosional yang intim, maka seringkali anak dengan senang hati mengikuti perintah orang tuanya. Tentunya perintah itu harus bernilai benar dan baik.
@pakarpemberdayaandiri











