Sumber Segala Keluhan

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam *)

Dalam KBBI, mengeluh berarti menyatakan susah (karena penderitaan, kesakitan, kekecewaan, dan sebagainya). Ada ungkapan ketidakpuasan atau ketidaknyamanan tentang suatu situasi atau keadaan. Setiap hari kebanyakan orang selalu mengeluh. Mereka menyatakan keluhan karena ada yang tidak sesuai dengan yang dirasakannya. Namun pernahkah dipikirkan darimana sumber keluhan itu? Karena kebanyakan orang seringkali menyalahkan orang, benda, tempat, waktu, atau peristiwa karena tidak sesuai dengan yang dirasakannya.

Setiap manusia memiliki kecenderungan jasmaniah berupa dorongan makan, minum, seks, dan berbagai keinginan. Semua kecenderungan ini sifatnya tak terbatas, dan karenanya ingin selalu dipenuhi. Melalui kecenderungan dasar ini, berkembanglah menjadi suatu pola mindset dan perilaku yang bahkan telah menjadi sebuah budaya. Meraih gelar sarjana, bekerja, meraih kekuasaan, dan perilaku yang berorientasi pada pencapaian tujuan di dunia, seringkali hanya agar bisa memenuhi makan, minum, seks, dan hasrat keinginan demi kenikmatan dan kenyamanan tubuh semata. Dengan kata lain, ada banyak hal yang dilakukan oleh kebanyakan orang, ternyata hanya demi memenuhi kecenderungan jasmaniahnya semata.

Karena kecenderungan jasmaniah ini bersifat egois, maka berbagai hal yang dilakukan oleh kebanyakan orang, hanyalah demi pemuasan egonya semata. Dan karena demi pemuasan ego atas pemenuhan hasrat makan, minum, seks, dan keinginan-keinginan, maka di sinilah ada standar pemenuhan ego. Dan ketika standar pemenuhan ego ini tidak terpenuhi, muncullah berbagai keluhan-keluhan. Dengan kata lain, kebanyakan manusia mengeluh bukan untuk tujuan yang benar dan baik, melainkan hanya karena tidak sesuai standar pemenuhan egonya atas makan, minum, seks, dan berbagai keinginan.

Sumber segala keluhannya ternyata hanya berupa hasrat tubuhnya semata, yaitu sisi jiwa yang paling rendah karena bersifat sangat materialistis. Dimana seseorang hanya berpandangan atau memiliki sikap yang menilai pentingnya materi dan barang fisik lebih tinggi daripada nilai-nilai non-material seperti spiritualitas, moralitas, atau hubungan personal. Lebih cenderung memprioritaskan kekayaan, barang-barang, dan status sosial dibandingkan dengan aspek-aspek kehidupan yang tidak dapat diukur secara fisik. Mengeluh hanya demi level jiwa terbawah; mengeluh hanya di seputar makan, minum, seks, dan hasrat-hasrat keinginan demi kenikmatan dan kenyamanan tubuh.

Hanya karena menginginkan agar tubuhnya merasakan kesejukan, akhirnya mengeluh karena cuaca yang panas. Dan hanya demi kenyamanan tubuh semata, akhirnya segala hal dikeluhkan karena tidak sesuai dengan pemenuhan standar ego. Lagi-lagi mengeluh hanya demi kenyamanan dari kecenderungan jasmaniah. Padahal selain tubuh, kita juga memiliki jiwa yang bersifat transenden. Ada hal-hal yang melampaui dunia fisik dan materi, dan sesungguhnya itulah tujuan mulia kita, yang statusnya lebih tinggi dibandingkan hasrat jasmani. Jadi sesungguhnya keluhan hanya menempatkan seseorang berkubang pada level jiwa yang rendah, padahal kita bisa menaikkan level jiwa (diri) kita ke arah kesempurnaan kemanusiaan kita.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *