Oleh: Syahril Syam *)
Terkait syukur, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw berkata, “Ketika sudut-sudut nikmat sampai kepadamu janganlah engkau memutuskannya dengan sedikit bersyukur.” Perkataan ini menunjukkan bahwa agar bisa senantiasa memperoleh rezeki, syarat utamanya adalah senantiasa bersyukur. Hal ini juga dipertegas bahwa “Jika kamu bersyukur niscaya Aku tambahkan padamu (nikmat-Ku), dan jika kamu kufur (tidak bersyukur), niscaya azab-Ku sangatlah pedih” (QS 14:7).
Mengapa bisa demikian? Secara emosional, syukur adalah perasaan konstruktif yang muncul ketika kita mengakui dan menghargai kebaikan yang telah diterima, baik dari orang lain maupun dari situasi dalam hidup kita, terlebih lagi karunia nikmat dari Sang Maha Sempurna. Perasaan ini sering kali disertai dengan rasa bahagia, puas, dan terkadang terharu. Yang jarang disadari oleh kebanyakan orang adalah perasaan syukur yang kita rasakan, ternyata berdampak pada lahirnya perasaan berkelimpahan. Perasaan berkelimpahan adalah keadaan emosional dan mental di mana kita merasakan perasaan yang lebih dari cukup – baik dalam hal materi, hubungan, peluang, maupun aspek lain dalam hidup. Ini bukan hanya tentang memiliki banyak hal secara fisik, tetapi lebih pada cara kita memandang dan merasakan kenyataan hidup.
Perasaan berkelimpahan membuat kita tidak merasa kekurangan atau kekurangan sesuatu yang penting. Kita melihat banyak hal positif dan merasa puas dengan apa yang kita miliki. Perasaan berkelimpahan seringkali muncul bersamaan dengan rasa syukur yang mendalam. Saat kita merasa berkelimpahan, cenderung menghargai dan mengakui kebaikan dalam hidup, dan ini memperkuat perasaan bahwa kita memiliki kecukupan. Perasaan syukur dan berkelimpahan seringkali menciptakan siklus positif dimana keduanya saling memperkuat. Perasaan syukur dapat mengarah pada perasaan berkelimpahan, dan sebaliknya, perasaan berkelimpahan dapat memperdalam rasa syukur.
Perasaan syukur dan kelimpahan dapat memengaruhi pola medan elektromagnetik jantung dengan cara yang positif. Ketika kita merasa bersyukur dan berkelimpahan, sistem saraf parasimpatik menjadi lebih aktif, yang menyebabkan penurunan detak jantung yang lebih stabil dan meningkatkan variabilitas detak jantung (HRV). Medan elektromagnetik yang dihasilkan oleh jantung dalam keadaan syukur (juga berkelimpahan) cenderung lebih harmonis dan teratur. Hal ini dibuktikan dengan penelitian dari HeartMath Institute menunjukkan bahwa perasaan konstruktif seperti syukur dan berkelimpahan dapat memengaruhi pola medan elektromagnetik jantung.
Karena perasaan dan emosi adalah energi yang memancarkan medan magnet yang kuat, maka semakin kuat intensitas perasaan, semakin kuat pula medan magnetnya. Dan berdasarkan fakta, jantung menghasilkan medan magnet terkuat di dalam tubuh kita. Sehingga ketika perhatian kita lebih tertuju kepada perasaan syukur – yang kemudian menghadirkan perasaan berkelimpahan dan menciptakan siklus positif di antara keduanya – maka ke situlah energi kita mengalir. Karena energi kita mengalir pada kedua perasaan tersebut, maka menjadi wajar jika semua hal yang memiliki frekuensi yang sama dengan kedua perasaan tersebut beresonansi dengan perasaan konstruktif yang kita rasakan. Jadi sering-seringlah menyadari betapa banyaknya nikmat yang dikaruniai Sang Maha Sempurna kepada diri kita.
@pakarpemberdayaandiri











