Broken Heart dan Kesadaran Diri

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh Syahril Syam *)

Betapa kuatnya hubungan antara pikiran dan emosi dalam memengaruhi kesehatan fisik, bisa kita lihat pada Broken Heart Syndrome, yang juga dikenal sebagai Takotsubo Cardiomyopathy atau Stress-Induced Cardiomyopathy. Keadaan ini menggambarkan kondisi jantung yang biasanya dipicu oleh stres emosional atau fisik yang ekstrem. Sindrom ini dinamakan “Takotsubo” karena bentuk jantung yang terkena sindrom ini menyerupai “takotsubo,” yaitu perangkap gurita tradisional Jepang dengan bagian dasar yang melebar dan leher sempit.

Saat diperiksa dengan EKG (elektrokardiogram), hasilnya sering kali menunjukkan pola yang mirip dengan serangan jantung. Namun, saat angiogram dilakukan, tidak ada penyumbatan yang terlihat di arteri koroner, seperti yang biasa ditemukan pada serangan jantung. Pada serangan jantung, arteri koroner biasanya tersumbat oleh plak atau gumpalan darah, sedangkan pada sindrom Takotsubo, arteri koroner biasanya tidak tersumbat. Sindrom ini lebih sering terjadi pada perempuan, terutama mereka yang berusia di atas 50 tahun.

Stres kronis adalah adalah jenis stres yang berlangsung dalam jangka waktu yang panjang atau terjadi secara terus-menerus (rutin terjadi setiap hari). Ketika seseorang mengalami stres kronis, tubuh berada dalam keadaan waspada yang berkepanjangan, yang dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental. Itu karena terjadi lonjakan hormon adrenalin secara terus menerus. Walaupun adrenalin berguna dalam situasi darurat, produksi yang berkelanjutan karena stres kronis dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan yang serius.

Adrenalin, juga dikenal sebagai epinefrin, adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal dan dilepaskan ke dalam aliran darah saat tubuh merespons stres. Adrenalin adalah bagian dari respons “fight-or-flight,” yang mempersiapkan tubuh untuk menghadapi atau melarikan diri dari ancaman.

Ketika menghadapi situasi yang mendebarkan atau menakutkan, tubuh melepaskan adrenalin dalam jumlah besar, meningkatkan denyut jantung, mempercepat pernapasan, meningkatkan tekanan darah, dan mengirim lebih banyak darah ke otot-otot utama. Namun, Jika seseorang terus-menerus menghadapi situasi stres tanpa waktu untuk pulih, adrenalin dan hormon stres lainnya seperti kortisol tetap berada pada tingkat yang tinggi dalam tubuh.

Tingkat adrenalin yang terus-menerus tinggi dapat menyebabkan gangguan tidur, kecemasan, dan depresi. Akan membuat seseorang merasa cemas atau gelisah secara terus-menerus karena tubuh mereka dalam keadaan waspada yang berkepanjangan. Terjadi peningkatan denyut jantung dan tekanan darah yang terus-menerus yang akhirnya dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah, meningkatkan risiko hipertensi, serangan jantung, dan stroke.

Ketika seseorang memiliki riwayat stres kronis, maka ketika terjadi peningkatan mendadak dalam kadar hormon stres bisa menyebabkan penyempitan sementara pada arteri kecil yang menyuplai darah ke jantung, atau secara langsung memengaruhi sel-sel otot jantung. Terjadilah Broken Heart Syndrome.

Keadaan yang bisa membuat seseorang mengalami lonjakan stres emosional atau fisik yang berat adalah kematian orang yang dicintai, perceraian atau putus hubungan, kekhawatiran finansial, kecelakaan atau cedera fisik, atau operasi besar. Tentu saja semua itu adalah pemicu akan hadirnya lonjakan stres emosional atau fisik yang tinggi, yang belum tentu menjadi pemicu secara universal.

Semua akan kembali pada cara pandang setiap orang dalam menghadapi pemicu-pemicu tersebut. Dibutuhkan kesadaran diri dalam memahami dan menyadari perasaan, pikiran, tindakan, serta dampak dari tindakan kita terhadap diri sendiri dan orang lain.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *