Mindfulness vs Hopefulness

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh Syahril Syam *)

Menurut Jon Kabat-Zinn, mindfulness adalah perhatian yang bersifat netral terhadap pengalaman yang dialami oleh individu dari waktu ke waktu. Mindfulness adalah tentang kesadaran dalam konteks saat ini, dimana menyadari dan memberikan perhatian penuh atas semua kejadian yang dialami setiap saat tanpa penolakan/menghakimi/ prasangka. Mindfulness berarti mengamati bukan menghakimi, dan membuat seseorang lebih fokus dan lebih sadar terhadap apa yang terjadi disekitarnya, serta mampu menerima emosi secara terbuka.

Teori Harapan dikembangkan oleh C.R. Snyder pada awal tahun 1990-an dan berfokus pada peran harapan dalam motivasi dan pencapaian tujuan. Harapan berarti kita memiliki keyakinan bahwa kita mampu dan kuat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ini mencakup perasaan diri, dimana kita percaya bahwa kita dapat mengatasi hambatan dan tantangan (agensi). Di dalamnya ada rencana tentang berbagai cara atau strategi untuk mencapai tujuan. Termasuk membuat rencana yang realistis dan memikirkan solusi alternatif jika rencana awal tidak berhasil (jalur).

Orang yang memiliki harapan tinggi cenderung merasa lebih percaya diri dalam kemampuan mereka (agensi) dan lebih mampu merencanakan berbagai jalur untuk mencapai tujuan mereka (jalur). Makanya, harapan bukan hanya tentang optimisme tetapi lebih kepada proses aktif dan dinamis dimana kita tidak hanya percaya bahwa kita akan berhasil tetapi juga merencanakan bagaimana cara mencapainya dan mengatasi hambatan yang mungkin muncul. Hopefulness berarti “harapan” atau “kebangkitan semangat”, yang menggambarkan keadaan atau perasaan penuh harapan dan keyakinan terhadap masa depan atau kemungkinan yang baik.

Kesadaran dianggap sebagai proses kognitif regulasi diri yang memungkinkan individu untuk fokus pada saat ini, tanpa penilaian dan dengan keterbukaan atau rasa ingin tahu (Brown & Ryan, 2003). Namun, studi meta-analitik terbaru tentang kesadaran di tempat kerja mengungkapkan bahwa pelatihan kesadaran terkait pekerjaan memiliki efek positif pada kecemasan umum dan stres tetapi tidak dapat disimpulkan dengan jelas terkait dengan kelelahan dan stres terkait pekerjaan (Bartlett et al., 2019). Kristin L. Scott dan para koleganya melakukan penelitian yang mengeksplorasi bagaimana kesadaran (mindfulness) dan harapan memengaruhi ketahanan, keterlibatan, dan kesejahteraan para pekerja di industri musik selama pandemi Covid-19. Studi ini menganalisis bagaimana pola pikir kesadaran saat ini dan harapan akan masa depan, berinteraksi dan memengaruhi pengalaman kerja dan kesejahteraan psikologis selama masa-masa yang penuh tekanan.

Dengan merekrut 247 peserta dan menggunakan model statistik multi-gelombang untuk mengidentifikasi hubungan dinamis antara harapan, kesadaran, dan hasil yang terkait dengan ketahanan kerja, keterlibatan, dan kesejahteraan psikologis, Scott menemukan bahwa menjadi penuh harapan tampaknya berhubungan erat dengan kebahagiaan, sedangkan kesadaran akan saat ini (mindfulness) tidak memberikan dampak kebahagiaan.

Menurut Scott, para akademisi telah lama tertarik pada proses yang membuat manusia tangguh di tengah keadaan yang sulit. Untuk menjawab hal ini, Scott memeriksa jalur metakognitif yang memfasilitasi ketahanan kerja, keterlibatan, dan kesejahteraan melalui studi multi-gelombang terhadap seniman pertunjukan dan tim mereka selama penghentian kerja akibat pandemi Covid-19.

Peneliti menyebut metakognisi sebagai proses “memikirkan tentang pemikiran”. Dengan demikian, regulasi diri metakognitif terdiri dari proses mental yang memungkinkan individu untuk melakukan refleksi diri dan mempertimbangkan efektivitas pemikiran mereka dalam konteks keadaan saat ini dan hasil yang diinginkan. Konstruksi kesadaran, yang didefinisikan sebagai “perhatian reseptif terhadap dan kesadaran terhadap peristiwa dan pengalaman saat ini”, mencerminkan fase metakognisi ini. Sedangkan harapan yang dipersepsikan sebagai “proses memikirkan tentang tujuan kita, bersama dengan motivasi untuk bergerak menuju tujuan tersebut (agensi), dan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut (jalur)”, merupakan mekanisme kontrol regulasi diri yang mendasari fase metakognisi ini.

Hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa harapan melibatkan pemikiran yang berorientasi ke masa depan, sedangkan kesadaran berakar pada saat ini. Para peneliti berpendapat bahwa harapan, lebih dari kesadaran, memungkinkan kita yang melalui masa-masa sulit untuk memutus siklus keputusasaan karena harapan melibatkan keterlibatan aktif dalam fase kontrol metakognisi. Agak berbeda dengan optimisme, konstruksi harapan melibatkan “memikirkan tentang pemikiran kita” (metakognisi).

Menggunakan pendekatan metakognitif untuk keluar dari situasi yang “terjebak” dapat membantu kita yang penuh harapan yang hidup melalui masa-masa sulit tetap fokus pada pencapaian tujuan dan menemukan jalur atau tangga terbaik yang dapat kita gunakan untuk keluar dari situasi yang putus asa. Di sisi lain, karena kesadaran lebih berfokus pada penerimaan pasif dan kesadaran tanpa penilaian, hal ini bisa menjadi kontraproduktif dengan menghambat agensi dan secara tidak sadar menghalangi seseorang dari membayangkan cara-cara aktif untuk keluar dari tempat yang gelap, yang dapat membuat seseorang tetap terjebak dalam situasi buruk.

Penelitian terbaru yang diungkapkan di atas, menggelitik penulis untuk berpikir tentang kemungkinan adanya suatu metode yang kesadaran kita hadir di saat ini, dan disaat yang sama juga memiliki harapan akan masa depan. Sehingga jika mindfulness tentang kesadaran saat ini yang dilihat berdasarkan waktu (tidak ke masa lalu ataupun masa depan), maka shalat adalah kesadaran saat ini, namun terkait kesadaran akan kehadiran saat ini bersama Sang Maha Sempurna. Dan karena kesadarannya berupa kehadiran bersama-Nya, maka di dalamnya juga ada harapan kepada Sang Maha Sempurna.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *