Oleh: Syahril Syam *)
Saat stres dan begitu banyak tekanan hidup, maka yang dibutuhkan adalah ketenangan pikiran dan hati. Ada banyak penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa hati yang tenang mampu mengatasi stres dan beban hidup. Namun jika tekanan hidup yang dihadapi teramat berat, maka dibutuhkan lebih dari sekadar ketenangan pikiran untuk mengatasinya. Kita membutuhkan harapan. Dan Viktor Frankl yang merupakan pendiri psikologi mazhab Logoterapi, telah membuktikan hal itu.
Viktor Frankl pernah ditahan pada tahun 1942 di kamp konsentrasi Nazi di Theresienstadt. Setelah itu, ia juga dipindahkan ke kamp konsentrasi Auschwitz dan kemudian ke kamp konsentrasi Türkheim. Ditahan sebagai tahanan kamp konsentrasi Nazi, membuat banyak tahanan yang memilih bunuh diri karena beratnya situasi penjara dan merasa telah kehilangan harapan. Namun Frankl berhasil hidup dan bebas dari penjara karena memiliki harapan. Viktor Frankl berkata, “Orang yang memiliki alasan dan harapan, akan kuat menjalani segala keadaan.”
Di zaman now, salah satu tekanan hidup yang teramat berat adalah ketika telah hidup nyaman, tapi tiba-tiba mesti kehilangan pekerjaan. Situasi ini bukan hanya membuat seseorang merasa stres berat, tetapi juga ketakutan dan tekanan hidup terkait bagaimana melanjutkan kehidupan.
Bagaimana ketika berada di tengah keadaan yang sangat sulit, mengancam, atau merugikan? Itulah sebabnya, Kristin L. Scott dan para koleganya mengemukakan hasil penelitian mereka bahwa dibutuhkan lebih dari sekadar ketenangan pikiran untuk menghadapi tekanan hidup yang teramat berat. Untuk mengejar tujuan dan memulai perubahan secara efektif, pola pikir yang berorientasi ke masa depan sangat penting.
Scott menunjukkan bahwa ketika menghadapi kesulitan (misalnya, pemecatan mendadak dan kebutuhan untuk mempertahankan kehidupan), individu dengan tingkat harapan yang lebih tinggi lebih mungkin untuk menghasilkan berbagai jalur untuk mencapai tujuan mereka dan mempertahankan agensi untuk mengejar jalur tersebut. Charles R. Snyder yang mengembangkan teori harapan, mengemukakan bahwa harapan bekerja pada dua komponen utama, yaitu agensi (kemampuan untuk memotivasi diri dan memiliki keyakinan bahwa dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan) dan jalur/jalan (kemampuan untuk merencanakan dan menemukan jalan). Dengan demikian, harapan dapat berfungsi sebagai katalisator untuk perilaku pencarian pekerjaan, seperti membangun jaringan, memperbarui resume, dan melamar posisi baru.
Penelitian Scott menegaskan bahwa harapan sebagai pola pikir yang termotivasi secara intrinsik dan berorientasi masa depan menuju hasil yang diinginkan adalah faktor kunci untuk mempertahankan hasil mental positif saat kita berada dalam situasi yang sangat sulit dan mengalami tekanan yang teramat berat. Secara khusus, Scott dan para koleganya berpendapat bahwa harapan berhubungan positif dengan afek konstruktif yang, pada gilirannya, berhubungan positif dengan ketahanan kerja, keterlibatan kerja, dan berhubungan negatif dengan ketegangan kerja dan stres. Artinya hubungan antara harapan dengan ketahanan kerja, keterlibatan, dan kesejahteraan, dimediasi oleh afek konstruktif; dimana harapan menimbulkan afek konstruktif, dan kemudian afek konstruktif berdampak pada ketahanan kerja, keterlibatan, dan kesejahteraan.
Hasil penelitian Scott menujukkan bahwa hubungan positif antara harapan dan afek konstruktif relevan karena penelitiannya menunjukkan bahwa afek konstruktif berhubungan positif dengan kepuasan kerja, kinerja, keterlibatan, dan komitmen serta hubungan negatif dengan stres kerja dan burnout (kelelahan yang ekstrem, baik fisik maupun emosional, yang biasanya disebabkan oleh stres atau beban kerja yang berkepanjangan). Dengan demikian, harapan beroperasi melalui (menghadirkan) afek konstruktif untuk menciptakan hasil positif.
@pakarpemberdayaandiri











