Oleh: Syahril Syam *)
Ada banyak kisah-kisah masa lalu yang ketika diceritakan kembali membuat kita tersenyum atau ketawa. Padahal ada banyak dari kisah masa lalu itu yang sesungguhnya saat kejadiannya cukup menegangkan dan menakutkan. Namun ketika diceritakan kembali, kita justru menertawakannya. Banyak sahabat penulis yang suka saling menceritakan masa lalu mereka. Apalagi kisah-kisah di masa SMA. Mungkin itu sebabnya ada lagu di tahun 1980-an yang diluncurkan oleh Obbie Messakh, yang kemudian dipopulerkan kembali oleh Chrisye, tentang masa-masa yang paling indah adalah masa-masa di sekolah (SMA).
Menceritakan pengalaman masa lalu, sering disebut sebagai narasi pribadi atau berbagi cerita, ternyata dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan mental orang dewasa. Bahkan menceritakan kekonyolan atau pengalaman lucu dari masa remaja juga dapat memiliki dampak positif pada kesehatan mental. Banyak orang dewasa yang lebih tua sering menceritakan kisah masa lalu, termasuk kenangan remaja, sebagai cara untuk membangun identitas diri dan mempertahankan rasa kontinuitas hidup.
Ini bisa membantu memperkuat rasa keterhubungan dengan diri mereka di masa lalu. Beberapa studi menunjukkan bahwa nostalgia memiliki manfaat psikologis, termasuk peningkatan suasana hati, mengurangi kesepian, dan memperkuat rasa tujuan hidup. Namun, ini tidak berkaitan langsung dengan kepikunan, melainkan lebih kepada kesejahteraan mental umum.
Selain itu, orang yang lebih tua sering kali memiliki kecenderungan untuk lebih sering mengingat peristiwa yang terjadi di masa remaja dan awal masa dewasa. Ini dikenal sebagai Reminiscence Bump, di mana memori dari periode ini lebih menonjol daripada periode kehidupan lainnya. Ini mungkin disebabkan karena masa-masa remaja dan awal dewasa biasanya penuh dengan pengalaman pertama yang emosional dan signifikan. Reminiscence Bump umumnya dialami oleh orang-orang dewasa pada usia berapa saja, tetapi dampaknya paling kuat pada usia dewasa muda dan pertengahan, biasanya antara 40 hingga 60 tahun. Pada usia ini, orang cenderung mengingat kembali pengalaman dan peristiwa penting dari masa remaja dan awal dewasa mereka (sekitar usia 10 hingga 30 tahun).
Ada juga yang disebut Retrospective Bias, yaitu kecenderungan seseorang untuk menafsirkan atau mengingat peristiwa masa lalu secara selektif atau tidak akurat berdasarkan perasaan, pengetahuan, atau keyakinan di masa kini. Sering kali, orang dewasa yang lebih tua mungkin menceritakan kembali pengalaman masa lalu dengan narasi yang sedikit berubah dari kenyataan, tanpa disadari. Mereka mungkin menyesuaikan cerita dengan nilai, perspektif, atau pengetahuan mereka yang lebih matang di masa kini, menghasilkan ingatan yang kurang akurat tapi lebih bermakna secara emosional.
Baik Reminiscence Bump maupun Retrospective Bias, saat usia tua, memori seringkali dipengaruhi oleh emosi yang terkait dengan peristiwa. Kenangan yang emosional, baik positif maupun negatif, lebih mungkin diingat dengan jelas daripada peristiwa yang netral secara emosional. Emotional Salience atau kekuatan emosi memainkan peran besar dalam menjaga kenangan tetap hidup dalam pikiran seseorang. Pada Retrospective Bias, orang dengan suasana hati positif cenderung lebih fokus pada kenangan yang positif, sementara mereka yang depresi atau cemas lebih cenderung mengingat pengalaman negatif.
Meskipun ingatan masa lalu sering kali membantu orang dewasa yang lebih tua mempertahankan rasa identitas dan memberikan kenyamanan emosional, distorsi memori juga dapat menjadi tanda awal dari kondisi neurodegeneratif seperti demensia. Retrospective Bias dan Reminiscence Bump adalah fenomena yang sangat umum dalam pola ingatan di usia tua. Kenangan yang kuat dari masa remaja dan awal dewasa biasanya lebih mudah diingat karena pentingnya peristiwa di masa itu, baik secara emosional maupun kognitif. Sehingga kenangan positif dapat memberikan rasa nostalgia dan kepuasan, sementara kenangan negatif dapat menyebabkan penyesalan atau kesedihan. Keduanya memberikan dampak positif atau negatif pada kesehatan mental.
@pakarpemberdayaandiri











