Oleh: Syahril Syam
Menurut KBBI, keluarga adalah ibu dan bapak beserta anak-anaknya; seisi rumah yang menjadi tanggungan. Bisa juga diartikan sebagai unit sosial yang terdiri dari individu yang terikat oleh hubungan darah, perkawinan, atau adopsi, dan sering kali hidup bersama sebagai satu kesatuan rumah tangga. Keluarga berfungsi sebagai institusi pertama yang memberikan dukungan emosional, pendidikan, dan sosialisasi kepada anggotanya, serta membentuk dasar perkembangan pribadi, nilai-nilai, dan identitas sosial.
Dukungan emosional adalah bentuk bantuan yang berfokus pada memenuhi kebutuhan emosional seseorang, membantu mereka merasa dihargai, dipahami, dan didukung. Dukungan emosional sangat penting karena keluarga adalah tempat pertama dimana anak belajar tentang cinta, rasa aman, dan keterhubungan. Dukungan emosional bisa berupa ekspresi cinta dan afeksi dari orang tua kepada anak-anak, baik secara verbal maupun non-verbal (pelukan, kata-kata penyemangat) yang akan membuat anak merasa dihargai dan dicintai. Juga berupa keterbukaan untuk berbicara, memberikan dukungan dengan mendengarkan dan memberi solusi yang bijaksana saat anak memiliki masalah, juga hadir secara fisik dan emosional ketika dibutuhkan, baik dalam momen-momen sulit maupun bahagia.
Dukungan emosional ini menciptakan suasana rumah yang nyaman dan penuh cinta, di mana setiap anggota merasa dihargai, dipahami, dan mampu mengatasi tantangan hidup dengan dukungan satu sama lain. Dukungan emosional sangat penting karena dapat meningkatkan kesehatan mental, mengurangi stres, dan membantu anak merasa lebih kuat dalam menghadapi tantangan hidup. Inilah gambaran keluarga yang di dalamnya anak merasa sebagai manusia yang dicintai dan dihargai.
Apa jadinya ketika seorang anak tidak mendapatkan itu semua? Ketika anak tidak merasa aman, dicintai, dan dihargai di rumah, maka ia akan cenderung mencari dukungan emosional itu di luar rumah. Yang kebanyakan terjadi adalah anak pada akhirnya merasa memiliki keluarga di luar rumah, entah itu di dalam organisasinya atau di dalam kelompok kecil persahabatannya. Inilah gambaran umum keluarga vs keluarga. Ada tandingan keluarga lain (terasa seperti keluarga) dibandingkan keluarga yang ada di rumah.
Namun bisa juga terjadi sebaliknya, ketika anak benar-benar mendapatkan dukungan emosional ini di rumahnya, maka anak akan cenderung menjadikan rumah sebagai tempat yang ideal bagi dirinya. Penulis pernah mendengarkan seorang anak berkata bahwa ia pernah berkecimpung di sebuah organisasi yang mengusung slogan kekeluargaan. Bahwa semua anggota organisasi adalah keluarga. Namun ketika ada masalah, yang terjadi malah tercipta gap antara senior dan junior. Padahal menurut si anak tersebut, bukankah keluarga itu berarti kebersamaan dan dukungan emosional, baik saat senang maupun susah?
Sepertinya anak ini telah membandingkan keluarga di rumahnya dengan keluarga di organisasinya, dimana keluarga di rumah jauh lebih kuat dukungan emosionalnya dibandingkan yang ada di organisasinya. Hal ini menunjukkan bahwa peran dan fungsi keluarga di rumahnya berjalan dengan baik, sehingga si anak tersebut jarang menemukan organisasi di luar rumahnya yang benar-benar selaras antara slogan kekeluargaan dengan budaya yang terbangun di organisasi tersebut. Itulah sebabnya, penulis seringkali menyampaikan di berbagai seminar parenting bahwa ketika anak tidak menemukan kenyamanan emosional di rumahnya, maka ia akan mencari perasaan itu di luar rumahnya. Dan di luar rumah hanya ada dua model lingkungan, baik atau buruk.
@pakarpemberdayaandiri











