Menikmati Proses VS Mengejar Hasil

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam *)

Carol S. Dweck, Ph.D berkata, “Inilah ironisnya: puncak adalah sesuatu yang sangat didambakan oleh orang-orang yang memfokuskan pikirannya pada kemampuannya semata, tetapi puncak justru dicapai oleh banyak orang yang menikmati proses dan mencintai apa yang mereka lakukan sebagai efek samping dari antusiasme mereka terhadap pekerjaan.”

Dalam penelitian Dweck, ada dua tujuan yang biasanya akan dipilih untuk menjadi keyakinan pada diri kita, yaitu Tujuan Berorientasi Proses (focus on mastery) yang mendorong siswa untuk fokus pada pengembangan keterampilan dan pemahaman, dan Tujuan Berorientasi Hasil (focus on performance) yang lebih berfokus pada pencapaian hasil akhir (misalnya, nilai). Penelitian Dweck menunjukkan bahwa siswa dengan tujuan berorientasi proses menunjukkan ketahanan dan keinginan untuk belajar yang lebih besar, yang berdampak pada efektivitas belajar.

Tujuan Berorientasi Proses Vs Hasil adalah dua pendekatan utama yang digunakan oleh kita saat menetapkan tujuan, terutama dalam konteks belajar atau pengembangan diri. Keduanya memiliki dampak yang berbeda terhadap motivasi, cara belajar, dan hasil akhir. Tujuan berorientasi hasil berfokus pada hasil akhir atau pencapaian yang dapat diukur, seperti mendapatkan nilai tinggi, memenangkan penghargaan, atau mendapatkan pengakuan dari orang lain. Dalam pendekatan ini, kesuksesan diukur dari seberapa baik kinerja seseorang dibandingkan dengan orang lain, dan penekanannya lebih pada prestasi eksternal.

Seseorang dengan tujuan berorientasi hasil seringkali mengukur kesuksesannya berdasarkan bagaimana dirinya dibandingkan dengan orang lain. Misalnya, siapa yang mendapat nilai tertinggi atau siapa yang lebih cepat menyelesaikan tugas. Ia cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain hanya untuk memamerkan hasil yang diperolehnya.

Dan karena hasil akhir sangat penting bagi dirinya, maka ia akan cenderung menghindari tantangan atau situasi dimana dirinya mungkin gagal. Sebab ia memandang kegagalan sebagai ancaman terhadap identitas atau prestasnya. Ia berkeyakinan bahwa identitas dirinya adalah prestasi itu sendiri. Ia sangat melekat pada hasil. Dan merasa malu jika terlihat tak sesuai sebagaimana hasil yang diharapkannya.

Itulah sebabnya, motivasi dirinya bersifat sementara. Setelah hasil dicapai, ia cenderung kehilangan motivasi untuk terus belajar atau berkembang. Ia juga lebih cenderung mengalami stres dan kecemasan tinggi, apalagi ketika merasa tidak bisa mencapai hasil yang diinginkan. Makanya ia menjadi lebih mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan karena kegagalan dilihat sebagai hal negatif yang mempermalukan, bukan sebagai bagian dari proses belajar.

Sebaliknya, tujuan berorientasi proses berfokus pada proses pembelajaran itu sendiri, bukan hasil akhir yang akan dicapai. Saat kita menetapkan tujuan yang berorientasi proses, maka kita menjadi lebih peduli pada memahami materi, meningkatkan keterampilan, dan melakukan perbaikan secara bertahap.

Dengan kata lain, keberhasilan diukur berdasarkan sejauh mana kita belajar, berkembang, atau memperbaiki diri, daripada hasil tertentu seperti nilai atau penghargaan. Kita merasa betapa pentingnya setiap langkah kecil dalam pembelajaran, seperti belajar dari kesalahan, mencoba hal baru, dan tetap bertahan saat menghadapi kesulitan. Itulah sebabnya kita cenderung lebih bersemangat dan tidak mudah menyerah karena tujuan kita berpusat pada kemajuan, bukan hasil akhir.

Dalam konteks olahraga, seorang pelari akan berfokus pada memperbaiki teknik lari atau meningkatkan kecepatan lari per kilometer daripada sekadar memenangkan lomba. Anak-anak usia dini yang berlatih bola akan memfokuskan pikiran dan hatinya kepada meningkatkan teknik bermain bola daripada sekadar memenangkan perlombaan. Dan biasanya, karena fokusnya pada proses, maka seiring waktu akan terjadi progres yang signifikan sehingga dengan sendirinya akan memenangkan perlombaan.

Tujuan berorientasi proses akan membuat kita cenderung menikmati pembelajaran, menunjukkan ketekunan yang lebih tinggi saat menghadapi kesulitan, dan memiliki motivasi intrinsik yang lebih kuat karena kita belajar untuk kepuasan pribadi. Kita juga menjadi lebih tahan terhadap stres, karena kita akan melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, bukan ancaman terhadap harga diri.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *