Oleh: Syahril Syam *)
Istilah Brain Rot baru saja masuk dalam Kamus Oxford sebagai Word of the Year 2024, dimana istilah ini menggambarkan penurunan fungsi kognitif dan emosional otak akibat kebiasaan konsumsi konten berlebihan tanpa makna, seperti terlalu banyak menggunakan media sosial, menonton konten hiburan tanpa tujuan, atau paparan berulang terhadap informasi negatif.
Fenomena ini bukan hanya tren sosial tetapi juga isu serius yang mulai banyak diteliti oleh ahli neurosains, psikologi, dan kesehatan mental. Bayangkan saja, penggunaan istilah “brain rot” meningkat tajam, dengan frekuensi penggunaannya naik 230% dari tahun 2023 ke 2024. Peningkatan ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin sadar akan potensi bahaya dari konsumsi konten digital yang berlebihan dan tidak bermutu.
Brain Rot adalah fenomena modern yang menunjukkan dampak besar dari kebiasaan digital terhadap fungsi otak dan kebahagiaan. Penelitian menunjukkan bahwa paparan konten yang berlebihan, terutama yang dangkal atau tidak bermakna, dapat menyebabkan ketidakseimbangan aktivitas pada otak, khususnya di bagian prefrontal cortex yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan fokus.
Dalam konteks neurosains, konsumsi konten yang cepat dan terus-menerus memicu pelepasan dopamin yang tidak terkendali. Hal ini membuat otak sulit merasakan kesenangan dari aktivitas yang lebih sederhana atau bermanfaat jangka panjang, sehingga menciptakan ketergantungan pada konten instan.
Dr. Kyra Bobinet, ahli saraf perilaku, menyatakan bahwa scrolling berlebihan dapat mengurangi rentang perhatian, motivasi, dan memori, serta meningkatkan perasaan kesepian. Bagian otak yang terlibat dalam perilaku ini adalah habenula, bagian kecil di otak yang berperan dalam motivasi dan pengambilan keputusan. Habenula berfungsi untuk menilai apakah tindakan kita membawa hasil yang memuaskan atau tidak, dan memberi sinyal ke bagian otak lainnya tentang apakah kita merasa puas atau kecewa.
Ketika seseorang terlibat dalam perilaku “doom-scrolling”, yaitu menggulirkan layar media sosial atau konten digital lainnya tanpa henti, seringkali mengarah ke konten negatif atau tidak bermanfaat. Hal ini membuat habenula menjadi lebih aktif. Aktivasi berlebihan pada bagian ini menandakan adanya kekecewaan atau frustrasi karena tidak mendapatkan kepuasan atau makna yang dicari. Ketika hal ini terus terjadi, otak bisa menjadi terbiasa dengan rasa kecewa atau tidak puas, yang pada gilirannya mengurangi motivasi untuk melakukan aktivitas yang lebih produktif dan bermakna dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan kata lain, kebiasaan menggulirkan konten secara terus-menerus, yang seringkali tidak memberi manfaat nyata, membuat otak seseorang kurang responsif terhadap aktivitas yang lebih memuaskan atau memberikan hasil positif dalam jangka panjang. Akibatnya, seseorang bisa menjadi lebih malas atau kurang termotivasi untuk melakukan hal-hal yang membutuhkan usaha lebih banyak, seperti bekerja atau belajar. Seiring berjalannya waktu, motivasi seseorang untuk melakukan hal-hal yang membutuhkan usaha atau waktu lebih lama menjadi menurun, karena otaknya lebih suka cara yang lebih mudah dan cepat untuk mendapatkan rasa puas atau hiburan instan.
Dengan memahami bagaimana kebiasaan digital, seperti terlalu sering menggulir konten digital atau media sosial, dapat memengaruhi otak kita, maka kita dapat lebih sadar akan dampaknya terhadap kesehatan mental dan kognitif kita. Oleh sebab itu, mari menjaga diri dan keluarga dari Brain Rot. Kita mesti secara sadar membatasi waktu layar dengan menetapkan batasan waktu setiap hari untuk media sosial atau menonton video.
Selain itu, secara sadar memilih konten yang bermakna, yang lebih bermanfaat dan positif, seperti pendidikan, inspirasi, atau hal-hal yang memberi wawasan, bukan hanya hiburan instan. Terapkan “Digital Detox”, yaitu melakukan istirahat dari perangkat digital, misalnya dengan tidak membuka media sosial di akhir pekan atau menetapkan waktu khusus untuk tidak menggunakan perangkat digital. Dan alihkan perhatian dari konten digital ke aktivitas yang lebih memuaskan dan bermanfaat, seperti olahraga, membaca, atau berbicara dengan orang terdekat.
@pakarpemberdayaandiri











