Menciptakan Winning Streaks

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Profesor Rosabeth Moss Kanter mengungkapkan alasan mengapa organisasi, meskipun dipenuhi oleh individu berbakat, tidak selalu berhasil menjadi pemenang. Melalui penelitian mendalam yang mencakup studi tentang kesuksesan dan kegagalan di perusahaan seperti Continental Airlines dan Verizon, serta tim olahraga seperti New England Patriots dan Philadelphia Eagles, Kanter memperluas analisisnya hingga ke bidang pendidikan, layanan kesehatan, dan politik. Hasil dari investigasi luar biasa ini adalah pengembangan teori dan praktik baru yang memberikan wawasan mendalam tentang apa yang sebenarnya diperlukan untuk mencapai dan mempertahankan kesuksesan.

Kanter tertarik untuk memahami fenomena dimana tim yang sebelumnya berjaya dapat terperosok dalam rangkaian kekalahan yang menciptakan siklus kegagalan. Sebaliknya, ia juga mengamati bagaimana beberapa tim mampu bangkit dari kemunduran dan kembali meraih kemenangan. Dalam penelitiannya, Kanter mewawancarai lebih dari 300 pemimpin dari berbagai bidang, termasuk bisnis, olahraga, dan politik. Dari wawancara tersebut, ia menyimpulkan bahwa kunci keberhasilan terletak pada respons percaya diri terhadap tantangan, didukung oleh pemimpin yang mampu membangun iklim emosional dan hubungan yang memperkuat rasa percaya diri dalam tim atau organisasi.

Confidence (kepercayaan diri) dalam buku “Confidence: How Winning Streaks and Losing Streaks Begin and End” (Kepercayaan Diri: Bagaimana Sering Menang dan Kalah Dimulai dan Berakhir) karya Rosabeth Moss Kanter dijelaskan sebagai kekuatan psikologis yang memungkinkan seseorang atau kelompok untuk mengambil tindakan yang diperlukan, bahkan dalam situasi yang penuh tantangan. Confidence menciptakan keyakinan bahwa upaya yang dilakukan akan membuahkan hasil positif. Confidence adalah rasa percaya bahwa kita mampu mencapai sesuatu. Ini bukan hanya tentang merasa mampu, tetapi juga tentang keberanian untuk bertindak dan mencoba meskipun ada risiko gagal.

Confidence menjadi kunci utama untuk memecah pola losing streaks dan memulai winning streaks. Namun, confidence bukan hanya soal perasaan; ia membutuhkan dasar yang kuat. Inilah yang membawa kita pada tiga pilar utama. Kanter menjelaskan bahwa ada tiga elemen utama yang membangun kepercayaan diri yang solid. Pertama, Akuntabilitas, yaitu kejelasan tanggung jawab. Orang yang tahu apa yang menjadi tugasnya akan lebih percaya diri karena mereka tahu langkah apa yang harus diambil. Saat tanggung jawab jelas, kita merasa terkendali dan tahu apa yang harus dilakukan. Ini membuat rasa percaya diri tumbuh. Jika seorang siswa tahu bahwa tugasnya adalah menyelesaikan 10 soal matematika hari ini, dia lebih yakin bisa melakukannya daripada jika diberi arahan yang kabur seperti “Belajar matematika saja.”

Kedua, Kolaborasi, yaitu kerja sama dan dukungan dari orang lain. Kepercayaan diri tumbuh ketika kita merasa tidak sendirian menghadapi tantangan. Dukungan sosial memberi rasa aman untuk mencoba sesuatu yang baru, yang pada akhirnya membangun kepercayaan diri. Ketika seorang pemula belajar memasak bersama teman yang lebih berpengalaman, dia merasa lebih percaya diri karena tahu ada yang bisa membantunya jika ada kesalahan. Ketiga, Inisiatif, yaitu keberanian untuk mengambil langkah pertama, meskipun ada ketidakpastian. Confidence hanya bisa dibangun melalui tindakan. Berani bertindak adalah langkah pertama menuju rasa percaya diri yang lebih besar. Saat kita mencoba berbicara di depan umum untuk pertama kali, kita mungkin gugup. Tapi begitu kita melakukannya, kita merasa lebih percaya diri untuk mencoba lagi di kesempatan berikutnya.

Untuk menciptakan kesuksesan yang berkelanjutan atau winning streaks, Rosabeth Moss Kanter menekankan pentingnya membangun budaya baru dengan tiga langkah utama: akuntabilitas, kolaborasi, dan inisiatif. Akuntabilitas membuat kita berani mengakui kenyataan, menghadapi masalah dengan jujur, dan bertanggung jawab tanpa menyalahkan orang lain.

Kolaborasi menekankan kita akan pentingnya kerja sama dan berbagi visi bersama untuk menggantikan persaingan internal atau isolasi. Sementara itu, inisiatif mendorong keberanian kita untuk mencoba hal baru dengan menyediakan dukungan dan alat yang diperlukan, sehingga mengatasi rasa tidak berdaya yang sering muncul setelah kegagalan. Dengan menerapkan langkah-langkah ini, baik individu, kelompok, maupun organisasi dapat membangun momentum positif untuk keluar dari kegagalan dan mencapai keberhasilan yang berkelanjutan.

Walhasil, kepercayaan diri berperan sebagai dasar untuk membangun tindakan positif, mengatasi ketakutan, dan memulai momentum keberhasilan. Kepercayaan diri adalah keyakinan bahwa seseorang atau sebuah organisasi dapat mengatasi tantangan, mengatasi hambatan, dan mencapai tujuan yang diinginkan. Kepercayaan diri ini bukan hanya tentang merasa positif atau optimis, tetapi juga terkait dengan kemampuan untuk bertindak, mengambil risiko, dan membuat perubahan yang diperlukan untuk mencapai kesuksesan.

Ketika sebuah organisasi atau individu memiliki rasa percaya diri, mereka lebih cenderung untuk mencari solusi, berkolaborasi, dan bertindak dengan cara yang mengarah pada perbaikan. Tanpa rasa percaya diri, organisasi akan terjebak dalam siklus kegagalan yang terus berulang. Kepercayaan diri adalah kunci utama dalam mempertahankan winning streaks.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *