Oleh: Syahril Syam *)
Seseorang memutuskan untuk pergi ke pantai eksotis dengan harapan besar bahwa ini akan menjadi pengalaman terbaik. Namun, ketika cuaca buruk atau tempatnya terlalu ramai, ia merasa kecewa. Harapan besar yang tidak terpenuhi ini membuatnya merasa rugi, dan bukannya bahagia, ia justru merasa semakin tidak puas. Ada lagi kasus lain, yaitu banyak orang berpikir bahwa menjadi kaya akan membuat mereka bahagia. Namun, setelah kebutuhan dasar terpenuhi, tambahan uang biasanya tidak memberikan kebahagiaan yang signifikan. Ketika mereka terus mengejar lebih banyak uang, rasa cukup tidak pernah tercapai. Atau, banyak orang berusaha keras untuk menunjukkan kebahagiaan di media sosial. Sayangnya, membandingkan diri dengan orang lain yang terlihat lebih “berbahagia” justru sering membuat mereka merasa kurang puas dengan hidup mereka sendiri.
Fenomena di atas disebut dengan Paradoks Kenikmatan, yaitu fenomena dimana semakin keras seseorang berusaha untuk bahagia, semakin sulit kebahagiaan itu untuk diraih. Hedonisme (Mengejar Kenikmatan/Kesenangan) adalah pandangan hidup yang menempatkan kesenangan sebagai tujuan utama dalam hidup. Misalnya, seseorang yang mengejar makan enak, bepergian, atau membeli barang-barang mewah karena berpikir itu akan membuatnya bahagia. Paradoks Kenikmatan muncul karena kebahagiaan bukan sesuatu yang dapat dicapai secara langsung. Ketika seseorang terlalu fokus untuk merasa bahagia, ia justru sering merasa kecewa karena ekspektasinya tidak terpenuhi.
Mengapa untuk bahagia begitu sulit, disaat banyak orang mengira bahwa ia bisa mengejar kesenangan? Daniel Nettle, peneliti di tim Evolusi dan Kognisi Sosial di Institut Jean Nicod dan juga Profesor di Northumbria University, menjelaskan alasan ilmiah di balik paradoks itu. Pertama, Adaptasi Hedonis, yaitu kemampuan manusia untuk cepat terbiasa dengan hal-hal baru, termasuk yang memberikan kesenangan. Misalnya, ketika seseorang membeli ponsel baru, mungkin ia merasa sangat senang selama beberapa minggu. Namun, setelah beberapa waktu, ponsel itu menjadi biasa saja. Itu karena otak manusia dirancang untuk selalu mencari hal baru demi kelangsungan hidup. Jadi, kebahagiaan dari pencapaian materi atau pengalaman seringkali bersifat sementara.
Kedua, Efek Fokus. Ketika seseorang terlalu fokus untuk mencari kebahagiaan, mereka cenderung menjadi terlalu kritis terhadap perasaan mereka sendiri. Mereka terus-menerus bertanya, “Apakah saya sudah cukup bahagia?” Pertanyaan ini justru menciptakan tekanan dan rasa tidak puas, yang pada akhirnya membuat mereka merasa lebih tidak bahagia. Ketika seseorang terus-menerus memikirkan apakah ia sudah bahagia atau tidak, ia seringkali kehilangan momen kebahagiaan yang sederhana dan alami yang sebenarnya ada di sekitarnya.
Perasaan seperti “Apakah saya sudah cukup bahagia?” bisa menambah tekanan dan kecemasan, yang justru menghalangi kebahagiaan itu sendiri. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan atau dikejar secara langsung. Kadang-kadang, kebahagiaan datang dengan cara yang tidak terduga, misalnya, melalui menerima dan menikmati momen-momen kecil dalam hidup, alih-alih terus mencari-cari tanda kebahagiaan. Secara psikologis, ketika seseorang terlalu fokus pada perasaannya dan terus-menerus mengevaluasi tingkat kebahagiaannya, ia cenderung terjebak dalam spiral berpikir yang bisa membuatnya merasa lebih tidak puas.
Ketiga, Pencarian Kebahagiaan yang Salah. Nettle menyatakan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kesenangan langsung (pleasure) atau pencapaian materi, tetapi lebih kepada aktivitas yang bermakna dan hubungan sosial yang mendalam. Nettle mengingatkan kita bahwa meskipun kesenangan langsung (seperti makan enak, berbelanja, atau mendapatkan hadiah) bisa memberikan kebahagiaan sementara, kebahagiaan yang lebih tahan lama dan memuaskan seringkali berasal dari hal-hal yang lebih mendalam dan lebih bernilai jangka panjang. Aktivitas yang memberikan kesenangan langsung, seperti makan makanan lezat atau berbelanja, seringkali hanya memberikan kebahagiaan jangka pendek. Setelah aktivitas selesai, kebahagiaan itu hilang.
Dalam pencarian kebahagiaan yang salah, banyak orang terjebak dalam pencarian kesenangan yang langsung dan instan, yang cenderung bersifat sementara. Nettle mengajukan bahwa kebahagiaan yang lebih autentik dan langgeng datang dari hal-hal yang memberi kita makna dalam hidup, seperti hubungan yang bermakna, aktivitas yang mendalam, dan memberikan kontribusi yang positif terhadap dunia di sekitar kita.
Nettle menunjukkan bahwa aktivitas yang bermakna dan hubungan sosial yang mendalam lebih berpotensi memberikan kebahagiaan yang lebih stabil dan berkelanjutan. Ketika kita terlibat dalam kegiatan yang kita anggap bermakna, seperti pekerjaan yang memberi dampak positif, atau berinvestasi dalam hubungan yang dekat dan penuh dukungan, kita merasakan kebahagiaan yang lebih mendalam. Hal ini terjadi karena kita merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, yang memberi makna dalam hidup kita dan memperkuat rasa memiliki serta kontribusi kita kepada orang lain.
Kebahagiaan sejati sebenarnya datang dari dalam diri kita, dari penerimaan diri, rasa syukur, dan hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitar kita. Kebahagiaan yang lebih mendalam seringkali datang ketika kita bisa merasa cukup dengan apa yang kita miliki, berfokus pada hal-hal yang memberi kita makna, dan menikmati momen-momen kecil dalam hidup, bukan selalu berfokus pada pencapaian besar atau hal-hal yang bersifat sementara.
@pakarpemberdayaandiri











