Oleh: Syahril Syam *)
Model tiga lapisan otak yang diajukan oleh Paul D. MacLean, yang dikenal dengan Triune Brain Theory, memiliki pengaruh besar dalam cara kita memahami otak dan perilaku manusia. Namun, teori ini cukup disederhanakan dan tidak sepenuhnya akurat berdasarkan temuan penelitian terbaru.
Model ini mengasumsikan bahwa bagian-bagian otak tertentu berfungsi secara terpisah dan berfokus pada fungsi yang terpisah, seperti insting bertahan hidup pada otak reptil, emosi pada sistem limbik, dan kognisi pada neokorteks.
Menurut teori MacLean, jika seseorang merasa cemas, itu mungkin karena otak reptilnya merasa terancam – misalnya, dalam situasi seperti ancaman fisik. Namun, penelitian terbaru mengatakan bahwa cemas tidak hanya berasal dari satu bagian otak, melainkan merupakan proses kompleks yang melibatkan banyak bagian otak yang bekerja bersama-sama.

Ketika seseorang sedang menghadapi diagnosa dokter yang mungkin mengubah hidupnya, kemungkinan ia merasa sangat cemas. Menurut model tiga lapisan otak, rasa cemas ini mungkin dikaitkan dengan reaksi dari otak reptil yang melihat situasi ini sebagai ancaman. Namun, berdasarkan pemahaman modern, emosi cemas ini melibatkan lebih dari sekadar otak reptil.
Rasa cemas yang seseorang rasakan bukanlah reaksi otomatis hanya dari satu bagian otak. Sebaliknya, otak kita mengonstruksi emosi ini berdasarkan berbagai faktor – baik pengalaman sebelumnya, prediksi tentang apa yang akan terjadi, dan konteks sosial (misalnya, bagaimana orang lain di sekitar kita merespons situasi tersebut). Otak kita tidak sekadar “menyusun” kecemasan karena merasa ada ancaman, tapi juga karena kita menginterpretasikan situasi dengan cara tertentu.
Otak kita bukan cuma tentang “berpikir” atau “merasa”, tapi juga tentang beradaptasi dengan orang-orang di sekitar kita. Jadi, otak kita adalah alat untuk memahami dan merespons dunia sosial. Otak kita terus-menerus memprediksi apa yang akan terjadi. Ketika mendengar diagnosa dari dokter, otak seseorang mungkin langsung memprediksi bahwa hal itu akan berdampak buruk pada hidupnya (misalnya, mengingat pengalaman buruk sebelumnya atau ketakutan terhadap penyakit). Ini bukan reaksi instingtif dari otak reptil, tetapi lebih merupakan konstruksi emosional berdasarkan pengalaman dan pemikiran yang datang dari berbagai bagian otak, termasuk neokorteks yang mengatur pemikiran rasional. Alih-alih hanya otak reptil atau limbik yang bekerja, dalam menghadapi cemas, seluruh jaringan otak kita terlibat.
Emosi sebenarnya bukan hanya respons langsung terhadap apa yang terjadi di sekitar kita, tapi lebih merupakan hasil kerja otak yang menggabungkan pengalaman kita, apa yang kita prediksi akan terjadi, dan konteks sosial di sekitar kita. Otak kita berfungsi dengan sangat adaptif, artinya ia terus menyesuaikan cara kita merasakan dan merespons dunia sosial berdasarkan situasi yang kita alami.
Dengan memahami bagaimana otak kita bekerja, kita bisa mulai mengubah cara kita merespons perasaan dan situasi sosial. Misalnya, kita bisa belajar untuk lebih tenang dan positif dalam menghadapi stres atau kecemasan, yang akhirnya dapat meningkatkan kesehatan mental kita dan membuat kita merasa lebih baik secara emosional.
Dengan memahami bahwa otak kita bekerja secara terintegrasi, kita bisa mengubah cara kita merespons kecemasan. Jika kita merasa cemas dengan diagnosa dokter, kita bisa menenangkan otak dengan cara berbicara tentang perasaan kita, berpikir rasional tentang langkah-langkah yang bisa diambil, dan mencari dukungan sosial. Ini memungkinkan kita untuk merespons kecemasan secara lebih sehat dan tidak hanya tergantung pada reaksi otomatis dari bagian-bagian otak yang dianggap paling primitif. Dengan kata lain, kesehatan mental kita bukan hanya tentang menenangkan satu bagian otak, tetapi mengelola seluruh proses otak yang melibatkan prediksi, interpretasi sosial, dan pemikiran rasional.
Begitu juga dengan perilaku, menurut Triune Brain Theory, perilaku kita dipengaruhi oleh tiga bagian otak yang masing-masing berfungsi dengan cara yang sangat spesifik. Otak reptil bertanggung jawab atas perilaku dasar dan instinktif yang terkait dengan bertahan hidup dan teritorial, seperti agresi, dominasi, dan rutinitas otomatis. Misalnya, dalam situasi konflik atau ancaman, otak reptil memicu reaksi “fight or flight” (melawan atau lari). Kemudian sistem limbik mengatur emosi dan perilaku sosial. Dan neokorteks bertanggung jawab untuk fungsi berpikir tinggi seperti logika, berpikir rasional, dan perencanaan. Ini memungkinkan kita untuk berpikir lebih jauh ke depan, membuat keputusan yang lebih baik, atau berbicara dengan orang lain secara lebih terstruktur.
Namun, penelitian terbaru mengubah cara kita memahami bagaimana otak memengaruhi perilaku. Daripada memandang otak sebagai tiga bagian yang terpisah yang mengontrol perilaku secara berbeda, penelitian modern menunjukkan bahwa otak bekerja secara terintegrasi dan dinamis dalam merespons dunia. Bagian-bagian otak kita tidak bekerja secara terpisah seperti yang dijelaskan oleh model tiga lapisan. Sebaliknya, otak kita adalah sistem yang sangat terhubung di mana emosi, kognisi, dan perilaku berinteraksi dalam cara yang sangat terintegrasi. Perilaku kita dipengaruhi oleh bagaimana otak “membangun” dan “memproses” emosi dan prediksi kita tentang situasi sosial.
Bayangkan kita melihat seseorang yang kesulitan membawa barang yang berat di jalan, dan kita memutuskan untuk membantu. Perilaku ini melibatkan berbagai bagian otak yang bekerja bersama dalam cara yang sangat terintegrasi. Ketika kita melihat orang tersebut kesulitan, sistem limbik kita yang mengatur emosi, khususnya bagian yang terkait dengan empati, merespons.
Kita merasakan perasaan kasihan atau peduli, dan otak kita mengenali bahwa orang tersebut membutuhkan bantuan. Ini bukan hanya insting dasar, tetapi juga hasil dari konstruksi emosional berdasarkan pengalaman dan pemahaman sosial kita. Neokorteks kita, yang bertanggung jawab untuk berpikir rasional dan kognitif, mulai berpikir secara logis. Otak kita mungkin berpikir, “Jika saya membantu orang ini, saya akan merasa baik”, atau “Membantu orang lain adalah hal yang benar untuk dilakukan”. Neokorteks juga memproses apa yang akan terjadi selanjutnya, seperti bagaimana orang tersebut akan merespons atau apakah mereka merasa terbantu. Begitu otak limbik merasakan empati dan neokorteks memprediksi hasil positif dari tindakan tersebut, otak reptil akan memberi sinyal untuk bertindak. Otak reptil bertindak untuk menggerakkan tubuh kita dan membantu orang tersebut dengan cara yang otomatis dan terkoordinasi.
Melakukan perilaku baik seperti ini, selain membantu orang lain, juga memiliki dampak positif bagi kesehatan mental kita. Otak kita merespons dengan merasakan kebahagiaan, yang didorong oleh neurotransmiter seperti oksitosin dan dopamin, yang terkait dengan rasa bahagia dan ikatan sosial. Rasa puas dan bahagia setelah membantu orang lain ini juga akan memperkuat koneksi antar bagian otak yang lebih positif dan adaptif. perilaku baik seperti membantu orang lain menunjukkan bagaimana berbagai bagian otak kita bekerja secara terintegrasi. Emosi (sistem limbik), prediksi (neokorteks), dan tindakan fisik (otak reptil) semuanya terhubung, menghasilkan tindakan yang bermanfaat bagi orang lain dan juga bagi kesejahteraan kita sendiri.
@pakarpemberdayaandiri











