Harga Emas Global Anjlok Hampir 4 Persen, Emas Antam Domestik Ikut Turun Rp 16.000 per Gram

Foto ilustrasi emas [ istimewa ]

JAKARTA, KINERJAEKSELEN.co – Harga emas dunia ambruk hampir 4 persen pada perdagangan awal pekan ini, menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh pekan terakhir. Penurunan tajam ini dipicu oleh lonjakan harga minyak global dan menguatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga tinggi yang lebih lama oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).

Dikutip dari Kompas.com, berdasarkan data pasar terbaru pada Selasa, 29 September 2026, harga emas spot global merosot tajam ke kisaran US$ 4.115 hingga US$ 4.123 per troy ons. Kejatuhan dipicu oleh melonjaknya harga minyak mentah Brent ke level US$ 107 per barel menyusul eskalasi ketegangan geopolitik baru di Timur Tengah. Inflasi yang membayangi sektor energi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed memiliki peluang di atas 70% untuk menaikkan suku bunga acuan pada bulan Oktober mendatang, sehingga menekan daya tarik emas sebagai aset aman tanpa imbal hasil (non-yielding).

Dampak pada Pasar Domestik

Menyusul penurunan tajam di pasar internasional, harga emas batangan bersertifikat di Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) tercatat anjlok Rp 16.000 per gram.

Berdasarkan pembaruan data resmi dari situs Logam Mulia Antam, harga pecahan dasar 1 gram kini dibanderol di level Rp 2.597.000.

Berikut adalah rincian lengkap harga dasar emas batangan Antam hari ini:

  • 0,5 Gram: Rp 1.348.500
  • 1 Gram: Rp 2.597.000
  • 2 Gram: Rp 5.134.000
  • 5 Gram: Rp 12.760.000
  • 10 Gram: Rp 25.465.000
  • 50 Gram: Rp 126.995.000
  • 100 Gram: Rp 253.912.000

Sementara itu, harga pembelian kembali (buyback) oleh Antam juga terkoreksi ke level Rp 2.422.000 per gram. Di sisi lain, harga ritel emas Antam di tingkat ritel seperti Pegadaian hari ini dipatok seharga Rp 2.636.000 per gram, mengalami penurunan sebesar Rp 27.000 dari sesi perdagangan sebelumnya.

Sejumlah analis menilai koreksi harga yang cukup dalam pasca-rekor tertinggi beberapa waktu lalu ini dapat dimanfaatkan oleh para investor domestik sebagai momentum akumulasi atau buy on weakness secara bertahap untuk portofolio jangka panjang.  (KE/Red)

Sumber: Kompas.com, Kontan.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *