Sentimen Positif Pasar Modal, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.137 per Dolar AS

Foto ilustrasi

JAKARTA, KINERJAEKSELEN.co – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berhasil mencatatkan kinerja positif pada perdagangan sore ini. Mata uang Garuda ditutup menguat signifikan, mematahkan tekanan global yang sempat membayangi pasar keuangan dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan data pasar spot pada penutupan perdagangan Kamis (29/10/2026), rupiah menguat dan bertengger di level Rp18.137 per dolar AS. Penguatan ini menjadi angin segar bagi para pelaku industri dan investor domestik setelah pergerakan mata uang sempat mengalami volatilitas tinggi akibat ketegangan energi dunia dan dinamika geopolitik.

Direktur Riset Analisis Ekonomi Makro mengungkapkan bahwa penguatan rupiah sore ini didorong oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Dari sisi domestik, kepercayaan pasar kembali terdongkrak menyusul langkah-langkah strategis pemerintah dalam memperkuat pasokan stabilitas harga pangan menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), serta komitmen penguatan kemitraan ekonomi strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat.

“Aksi korporasi dan aliran modal asing yang kembali masuk (capital inflow) ke pasar surat berharga negara turut memberikan bahan bakar bagi penguatan nilai tukar rupiah. Pasar merespons positif langkah taktis Danantara dalam memangkas inefisiensi aset negara, yang memberikan sinyal kuat bahwa fundamental ekonomi kita tetap terjaga di tengah disrupsi global,” ujar pengamat pasar modal di Jakarta.

Dari sisi eksternal, dolar AS mengalami sedikit pelemahan setelah para pelaku pasar global mulai melakukan aksi ambil untung (profit taking). Investor global kini tengah mengantisipasi rilis data indikator ekonomi terbaru dari beberapa negara maju, yang membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk rupiah, menjadi sedikit mereda.

Meski demikian, para pelaku usaha diimbau untuk tetap waspada dan menerapkan strategi lindung nilai (hedging). Mengingat lanskap ekonomi global yang bergerak cepat, volatilitas nilai tukar diperkirakan masih akan membayangi hingga akhir tahun anggaran. Sektor-sektor yang bergantung pada bahan baku impor diharapkan dapat memanfaatkan momentum penguatan rupiah ini untuk menstabilkan biaya operasional mereka.

[KE/Red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *