Oleh: Risdiana Wiryatni *)
Pernahkah kita merenung sejenak di antara rutinitas pagi yang padat, tentang apa arti sebenarnya dari sebuah kesuksesan hidup? Di era modern yang bergerak begitu cepat ini, kita sering kali terjebak dalam perlombaan pencapaian materi, jabatan, dan status sosial. Kita sibuk membangun benteng keberhasilan untuk diri sendiri, hingga tanpa sadar jarak dengan lingkungan sekitar perlahan-lahan mulai membentang luas.
Padahal, ada sebuah ruang di dalam jiwa manusia yang tidak akan pernah bisa dipuaskan hanya dengan pencapaian pribadi. Ruang itu merindukan ketenangan yang sejati. Dan ketenangan itu, uniknya, justru sering kali hadir bukan saat kita menerima sesuatu, melainkan saat kita mampu memberi dan meluaskan manfaat bagi orang lain. Inilah pintu gerbang menuju apa yang kita sebut sebagai kesalehan sosial.
Selama ini, pemahaman kita tentang kesalehan mungkin sering kali dipersempit hanya sebatas ritual ibadah vertikal antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Mengencangkan ikatan spiritual dengan Tuhan tentu adalah fondasi yang paling utama. Namun, kesalehan yang sejati tidak boleh berhenti di dalam batas-batas rumah ibadah saja. Ia harus mengalir keluar, menjelma menjadi perilaku yang santun, kepedulian yang nyata, serta dampak positif yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Kesalehan ritual dan kesalehan sosial adalah dua sayap dari satu burung yang sama; untuk dapat terbang tinggi membawa kedamaian, keduanya harus bergerak seimbang.
Membangun kesalehan sosial sebenarnya tidak menuntut kita untuk langsung melakukan gerakan kemanusiaan berskala besar. Fondasinya justru diletakkan dari kesadaran-kesadaran kecil di kehidupan sehari-hari.
Di era digital yang penuh dengan banjir informasi saat ini, menahan jempol untuk tidak menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya—demi menjaga ketenangan hati orang lain—adalah bentuk kesalehan sosial yang sangat tinggi nilainya. Ketika kita melangkah keluar rumah, menyapa tetangga dengan senyuman yang tulus, melariskan dagangan pedagang kecil di pinggir jalan tanpa menawar dengan kejam, atau memberikan jalan bagi pengendara lain yang sedang terburu-buru, di sanalah kita sedang menyemai benih-benih kebaikan.
Lebih dalam lagi, kesalehan sosial adalah sebuah seni untuk mengasah empati dan mengikis keegoan di dalam dada. Ia melatih kita untuk memiliki “mata hati” yang peka; mata yang tidak menutup sebelah saat melihat kesulitan sesama, dan telinga yang mau mendengarkan keluh kesah mereka yang membutuhkan bantuan. Melalui rajutan kepedulian yang konsisten ini, kita sebenarnya sedang ikut serta merawat dan memperkuat kembali tali tenun kebangsaan kita. Di tengah dinamika kehidupan dan perbedaan pandangan politik yang kadang menghangat, kesalehan sosial hadir sebagai penyejuk yang meredam gesekan dan menyatukan kembali hati yang sempat menjauh.
Ketika sebuah lingkungan diisi oleh individu-individu yang memiliki tingkat kesalehan sosial yang tinggi, harmoni akan tercipta dengan sendirinya. Rasa saling percaya tumbuh, angka kriminalitas meredam karena semua orang saling menjaga, dan suasana bertetangga menjadi begitu teduh dan aman.
Menjadi pribadi yang ekselen di tempat kerja atau bisnis memang sebuah keharusan. Namun, menjadi manusia yang ekselen di mata kemanusiaan adalah sebuah kemuliaan yang jauh lebih tinggi. Mari kita jadikan hari ini sebagai momentum untuk merefleksikan kembali setiap tindakan kita. Mari kita tebarkan energi positif, bekerja dengan hati yang tenang, dan jadikan keberadaan kita sebagai sumber mata air kesejukan bagi siapa saja yang kita temui. Karena pada akhirnya, sebaik-baiknya manusia di bumi ini adalah mereka yang kehadirannya paling banyak mendatangkan manfaat dan kebahagiaan bagi sesama.
Selamat beraktivitas dan salam ekselen dari hati.
*) CEO Kinerja Group










