JAKARTA, KINERJAEKSELEN.CO – Langkah nyata Indonesia dalam memperkuat kemandirian industri berbasis teknologi tinggi kini mulai diarahkan pada penguasaan mineral kritis, salah satunya Logam Tanah Jarang (LTJ). Komoditas yang memiliki nilai sangat strategis dalam rantai pasok global tersebut kini tengah menjadi fokus perhatian serius pemerintah melalui kegiatan eksplorasi intensif di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.
Eksplorasi yang dijalankan oleh PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau Perminas ini menjadi tonggak awal penting. Tujuannya adalah mengidentifikasi potensi mineral tersembunyi sekaligus menyiapkan fondasi kuat bagi pengembangan industri pengolahan (hilirisasi) di dalam negeri. Keberadaan logam tanah jarang dinilai sangat krusial karena material ini merupakan bahan baku utama dalam produksi berbagai komponen teknologi modern bernilai tambah tinggi.
Mamuju dipilih sebagai wilayah prioritas karena riset geologi terdahulu menunjukkan adanya indikasi kuat kandungan unsur tanah jarang di kawasan tersebut. Saat ini, pemerintah bersama Perminas bergerak cepat memperbarui data melalui kegiatan pengeboran agar potensi riil mineral tersebut dapat dipetakan secara lebih akurat dan terukur.
Pada tahap awal, kegiatan pengeboran difokuskan pada dua blok prioritas dengan luas sekitar 200 hektare. Area ini merupakan bagian dari wilayah konsesi yang jauh lebih luas, yakni mencapai 7.300 hektare. Melalui izin usaha pertambangan (IUP) tahap eksplorasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), Perminas kini terus mengumpulkan informasi mendalam mengenai kondisi geologi, kedalaman mineralisasi, hingga penyebaran unsur berharga ini.
Pengeboran sendiri ditargetkan menyasar sekitar 200 titik secara bertahap. Seluruh data lapangan nantinya akan dianalisis ketat melalui pengujian laboratorium dan evaluasi geologi guna menghitung volume sumber daya berdasarkan standar teknis pertambangan yang berlaku.
Sebagai gambaran awal, data penelitian terdahulu di Mamuju sempat mencatat kandungan total unsur tanah jarang pada sampel tertentu mencapai angka 4.571 ppm. Meski angka ini sangat menjanjikan, penetapan kepastian cadangan komersial tetap membutuhkan data yang lebih komprehensif, mencakup kepastian sebaran, kualitas, volume, hingga kelayakan teknis dan ekonominya. Rangkaian eksplorasi mendalam ini ditargetkan terus berjalan hingga tahun 2027 mendatang.
Dari sisi hilir, kegunaan logam tanah jarang memang semakin tidak tergantikan di dunia modern. Kelompok mineral ini merupakan komponen wajib untuk membuat magnet berkinerja tinggi pada kendaraan listrik (EV), generator turbin angin, perangkat elektronik pintar, sistem komunikasi canggih, hingga teknologi pertahanan (alutsista). Permintaan global pun dipastikan terus melonjak seiring masifnya transformasi digital dan transisi menuju energi bersih.
Namun, menguasai sumber bahan mentah saja tentu belum cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dunia. Nilai ekonomi terbesar justru berada pada kemampuan domestik dalam mengolah, memisahkan, dan memurnikan unsur-unsur tersebut menjadi bahan baku siap pakai. Langkah hilirisasi ini memerlukan lompatan teknologi khusus, investasi berskala besar, kesiapan tenaga ahli, serta pengawasan lingkungan yang ekstra ketat mengingat proses pemisahan LTJ menghasilkan residu yang wajib dikelola dengan cermat.
Selain di Mamuju, Indonesia sebenarnya telah mengidentifikasi beberapa kantong potensi mineral strategis serupa, seperti di Bangka Belitung, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tenggara. Pemetaan wilayah-wilayah ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk membangun ekosistem industri mineral kritis yang terintegrasi dari hulu hingga ke hilir.
Melalui eksplorasi komoditas strategis di Mamuju ini, Indonesia tidak hanya sekadar mencari cadangan mineral baru di perut bumi. Langkah ini adalah bagian dari misi besar membangun fondasi industri masa depan demi memperkuat ketahanan rantai pasok nasional di tengah ketatnya persaingan global. Keberhasilan program ini akan menjadi kunci utama bagi Indonesia untuk mengamankan posisi yang lebih kuat dan disegani dalam peta perdagangan internasional.
[KE/Red]










