Direktur Eksekutif Strategi Foundation Risdiana Wiryatni: Globalisasi Pengaruhi Moral Suatu Bangsa

Risdiana Wiryatni

KINERJAEKSELEN.co, Jakarta – Perubahan zaman membawa dampak bagi suatu bangsa. Dengan adanya perubahan zaman, pola pikir manusia pun ikut berubah karenanya. Perubahan zaman membawa dampak posif maupun negatif.

Permasalahan ini terjadi karena adanya perubahan globalisasi. Oleh karena itu, akibat adanya era globalisasi membawa pengaruh kepada seluruh aspek, baik dari segi Pendidikan Ekonomi, Sosial, IPTEK, bahkan moral suatu bangsa khususnya remaja mengalami perubahan. Jika dilihat dampaknya, krisis moral anak remaja pun sangat memprihatinkan.

Pandangan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Strategi Foundation, Risdiana Wiryatni, Rabu [8/2/2023]

“ Moral atau perilaku anak remaja di Indonesia mengalami perubahan karena adanya pengaruh dari negara luar yang dibawa ke Indonesia. Semua langsung diserap tanpa memikirkan atau memilah perilaku yang seharusnya diambil oleh remaja sekarang ini. Dahulu bisa dibilang moral anak bangsa dapat diacungi jempol. Hal ini dapat dilihat dari tata kramanya, sopan santun dan tutur bahasanya yang baik. Tetapi, kini moral atau perilaku anak remaja di Indonesia sangat memprihatinkan. Persoalan ini yang harus kita sikapi bersama, agak anak-anak kita tidak kehilangan jati diri,” kata Risdiana.

Risdiana mengatakan, banyak sekali perilaku-perilaku menyimpang yang kian marak terjadi di Indonesia. Penyimpangan tersebut sebagian besar dilakukan atau dialami oleh anak remaja. Penyimpangan yang dilakukan biasanya free sex, narkoba dan lain-lain. Kejadian inipun sangat memprihatinkan bagi Indonesia karena anak remaja merupakan generasi penerus bangsa.

“ Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara,” ujarnya.

Untuk itu, kata Risdiana, peran semua pihak, terutama keluarga menjadi hal utama untuk menumbuhkan nilai moral kepada generasi muda agar hal yang serupa tak kembali terulang.

“Peran orang tua, guru dan tentunya pemerintah. Pemerintah tidak boleh hanya prihatin, karena mereka punya power untuk menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Selain peran orangtua dan pemerintah, peran sekolah dalam menanamkan nilai moral kepada siswa juga penting. Terlebih ketika tak ada lagi mata pejalaran moral yang diajarkan, maka peran aktif seorang guru penting dilakukan agar budaya global tak mengakar dan menghilangkan budaya bangsa,” tuturnya.

Risdiana menyebut, pengaruh yang ditimbulkan globalisasi terhadap moral suatu bangsa mempunyai banyak nilai positif dan negatifnya.

Segi positifnya, kata dia, informasi yang didapat menjadi lebih cepat dan akurat daripada masa-masa sebelumnya yang kebanyakan masih menggunakan cara-cara manual. Selain itu, semua orang juga merasa senang apabila ikut serta terhadap perkembangan zaman. Mereka tidak mau dikatakan ketinggalan zaman. Malah orang yang tidak mengikuti era globalisasi ini seringkali diejek oleh teman sejawatnya.

Sisi negatif dari arus modernisasi dan globalisasi pun juga tak kalah sedikitnya, fasilitas- fasilitas yang ada di era globalisasi ini sebagian besar disalahgunakan oleh para penggunanya. Contoh, internet sekarang ini sering dijadikan arena untuk mencari situs-situs porno, handphone digunakan untuk menyimpan data-data yang tidak mendidik moral seseorang, dan lain-lain. Pengaruh globalisasi terhadap remaja itu begitu kuat.

“ Permasalahan moral sebenarnya sudah ada sebelum Globalisasi muncul. Namun kemunculan Globalisasi dapat menjadi faktor yang mempengaruhi perkembangan moral. Dengan adanya Globalisasi, perkembangan moral dapat menjadi lebih baik karena informasi dapat dilakukan dengan cepat,” ungkapnya.

“ Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dampak negatif globalisasi adalah bersikap waspada dan selektif terhadap segala macam arus globalisasi tersebut. Sikap selektif dapat diartikan sebagai sikap untuk memiliki dan menentukan alternatif yang terbaik bagi kehidupan diri, lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara melalui proses yang berhati-hati, rasional, dan normatif terhadap segala macam pengaruh luar sehingga apa yang telah menjadi pilihan dapat diterima oleh semua pihak dengan penuh tanggung jawab. Untuk mengatasi globalisasi juga dapat dilakukan dengan menumbuhkan kembali rasa nasionalisme bangsa agar masyarakat dapat mencintai negaranya,” pungkas Risdiana

[jgd/red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *