KINERJAEKSELEN.co, Depok – Secara bahasa, ikhlas berasal dari kata “kholuso” yang berarti bersih, jernih, murni, dan suci. Sedangkan secara istilah, ikhlas adalah sesuatu yang murni dan tidak tercampur dengan hal-hal yang dapat menodainya.
Ikhlas dapat ditunjukkan melalui sikap dan perbuatan. Saat mengerjakan ibadah dan amal shalih, seorang Muslim dianjurkan untuk bersikap ikhlas, sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Bayyinah ayat 5 yang artinya:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.”
Orang yang ikhlas menjadikan dirinya akan memurnikan niatnya hanya kepada Allah SWT.
Hal itu disampaikan Ust Herfi Ghulam Faizi Lc, dalam kajian rutin Shiroh Nabawiyah di Masjid Adz Zikri, Pesona Kayangan Depok, Kamis 10 Agustus 2023.
Ust Herfi mengatakan, para ulama sepakat mendefinisikan ikhlas sebagai kemurnian niat yang menjadikan seseorang mengarahkan tujuannya kepada Allah SWT. Keikhlasan tersebut bisa mencakup peribadahan, takwa, dan akidah yang dimiliki oleh seseorang.
“ Seseorang dapat melatih ikhlas dengan cara membersihkan amalannya dari komentar manusia. Artinya, orang tersebut tidak lagi memedulikan pujian, imbalan, serta sanjungan orang lain. Sebaliknya, ia justru hanya mengharapkan ridha Allah SWT. Dengan bersikap ikhlas, ia akan terhindar dari perilaku syirik yang dapat menyebabkannya menyekutukan Allah,” tuturnya.
Ust Herfi menjelaskan, sebenarnya, ikhlas adalah realisasi dari ungkapan iyyaka na’budu wa iyyaka nastain. lyyaka na’budu artinya menyembah hanya kepada Allah dan tidak menyertakan tujuan lainnya, sedangkan iyyaka nasta’in artinya menyembah pada Allah dan hanya meminta pertolongan-Nya.
Hakikat ikhlas tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, karena sejatinya ikhlas berada di dalam hati. Hanya diri kita dan Allah SWT yang mengetahui keikhlasan itu sendiri.
Ikhlas tidak bisa direkayasa. Mungkin saja bibir kita dapat berucap kata ‘Ikhlas’ di hadapan orang lain, lalu kita mengelabui mereka. Tapi kita tidak mungkin bisa membohongi diri sendiri.
Untuk itu, sikap ikhlas perlu dilatih agar semakin terbiasa. Tidak hanya dapat mendatangkan keridhaan Allah SWT, sikap ikhlas juga bisa membuat individu mampu merasakan kenikmatan iman.
Ada banyak ayat Alquran yang menjelelaskan tentang keutamaan sikap ikhlas. Disebutkan dalam buku Ikhlas Sumber Kekuatan Islam karya Dr. Yusuf Qardhawi (2004) bahwa ikhlas itu erat kaitannya dengan tauhid yang murni, akidah yang benar, dan tujuan yang jelas.
Allah SWT berfirman kepada Rasul-Nya: “Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Alquran) dengan membawa kebenaran. Maka, sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih (dari syirik)..” (Az-zumar: 2-3)
“Ikhlas merupakan ilmu tertinggi yang diberikan Allah Ta’ala kepada umat manusia, dan jika ilmu ini diterapkan dalam setiap langkah kehidupan, Allah Ta’ala menjanjikan limpahan berkah kebaikan bagi kita. Seperti halnya rezeki, jatah rezeki kita semua sama. Yang membedakan pendapatan rezeki kita adalah kualitas hidup kita atau kesesuaian hidup kita dengan kehendak-Nya,” tuturnya.
Sebagai contoh, bagaimana Abu Bakar menginfaqkan seluruh hartanya untuk dakwah Islam. Ini tidak akan pernah terjadi apabila tidak memiliki iman yang kuat, iman yang menusuk ke dalam hati.
Semua digunakan fi sabilillah. Harta yang dimiliki oleh Abu Bakar hampir seluruhnya di-infaqkan. Sampai-sampai Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam menegur Abu Bakar, “Apa yang engkau gunakan membiayai hidupanmu dan keluargamu, wahai Abu Bakar, sesudah seluruh hartamu engkau sedekahkan?” Abu Bakar dengan tegas mengatakan, “Aku masih mempunyai Allah dan Rasul-Nya.”
Sikap Abu Bakar mendapatkan cemooh sebagian kalangan masyarakat Madinah, atas sikapnya yang menyedekahkan dan menginfaqkan hartanya itu. Abu Bakar sudah tidak lagi hatinya tertambat dengan harta dan segala hal yang terkait dengan dunia.
Abu Bakar rela melepaskan harta dan seluruh kekayaan yang dimiliki demi agama Allah, yang diyakininya. Tak ada ragu lagi. Karena, seluruh jiwa dan raganya hanya diarahkan dalam mencari ridha dan kemuliaan dari Allah Ta’ala.
Para sahabat, tidak sedikitpun memiliki keinginan menyelisihi. Ini karena ketaatan dan keikhlasan secara total dalam menjalani perintah-perintah Allah Ta’ala. Karena itu, seorang mukmin akan selalu mentaati batasan-batasan yang diberikan oleh Allah Ta’ala dalam menjalani hidup ini.
Kesabaran dan keikhlasan orang-orang mukmin yang begitu luar biasa, dan terus memegang iman dan aqidahnya sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, membuat mukmin, mengungguli semua jenis manusia. Inilah yang diisyarakatkan oleh Allah Ta’ala.
Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah pernah mengatakan, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi penuh kantongnya dengan kerikil kecil. Memberatkannya tetapi tidak bermanfaat sama sekali.”
Marilah kita berusaha meningkatkan ketaqwaan kepada Allah, menguatkan ketaatan kepada ulil amri yang berpegang teguh kepada Allah dan Rasul-Nya, menebalkan keikhlasan untuk berjuang dan berkorban dalam menegakkan serta menyiarkan dakwah Islam hingga Allah Ta’ala menurunkan karunia-Nya berupa kemenangan yang hakiki.
[Risdiana]











